Apakah Seorang Ibu Berhak Mendapat Upah Dari Mengasuh Dan Menyusui Anaknya ?

Sun 22 November 2015 22:25 | 0
Achadiah

Kita dapati dinegara kita bahwa megasuh anak dan menyusuinya seolah menjadi kewajiban muthlak yang dibebankan kepada seorang ibu, tetapi syariah islam tidak berkata demikian, dalam surat Ath-Thalq: 6 dan Al-Baqarah: 232, dapat kita pahami bahwa keduanya merupakan tanggung jawab seorang ayah yang apabila hal tersebut didelegasikan kepada orang lain, maka akan ada upah yang harus dikeluarkan sebagai bentuk pembiayaan. Lantas ketika yang mengasuh dan menyusui anak adalah ibu kandungnya, apakah ia berhak mendapakan upah atas jasa yang sudah diberikan? Berikut jawaban dari para ulama madzhab:

 

Ibnu Najim (w. 1005 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya An-Nahru Al-Faiq Syarah Kanzu Ad-Daqaiq sebagai berikut :

تستحق الأم الأجرة على الحضانة حيث لم تكن منكوحة ولا معتدة

Seorang ibu berhak mendapatkan upah atas pengasuhan anaknya selama ia tidak menikah dengan siapapun dan tidak dalam masa iddah .

Ibnu Najim, An-Nahru Al-Faiq Syarah Kanzu Ad-Daqaiq, jilid 2 hal. 499 | Zuria

Ibnu Abdin (w. 1252 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya Radd Al-Muhtar ala Ad-Dur Al-Mukhtar sebagai berikut :

تستحق الحاضنة أجرة الحضانة إذا لم تكن منكوحة ولا معتدة لأبيه وهي غير أجرة إرضاعه )قوله: إذا لم تكن منكوحة ولا معتدة لأبيه) هذا قيد فيما إذا كانت الحاضنة أما فلو كانت غيرها فالظاهر استحقاقها أجرة الحضانة بالأولى

Seorang wanita yang mengasuh anak berhak mendapatkan upah atas pengasuhan yang ia lakukan, selama ia belum menikah dan tidak dalam masa iddah dari ayah anak tersebut. Dan upah tersebut diluar upah menyusui. Dan maksud dari perkataan "al-hadinah" yaitu apabila yang mengasuhnya adalah ibu dari anak yang diasuhnya. Akan tetapi jika yang mengasuh itu bukan ibu dari anak tersebut maka jelaslah bahwa ia berhak atas upah dari pengasuhan .

Ibnu Abdin, Radd Al-Muhtar ala Ad-Dur Al-Mukhtar, jilid 3 hal. 561 | Zuria

Ibnu Hajib (w. 776 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya At-Taudhih fi Syarhil Mukhtashar Ibnul Hajib sebagai berikut :

قوله: (عنها) أي عن الحضانة. وما ذكر المصنف من منشأ الخلاف ذكره صاحب المقدمات وابن بشير، فقالا: من رأي الحضانة حقا للمحضون أوجب للحاضن الأجرة على المحضون، ومن رآها حقا للحاضن لم ير له أجرة.. قال في المقدمات: من رأى أن ذلك من حقها لم ير لها سكنى، ومن رأي ذلك من حق المحضون رأى أن لهما كراء المسكن على الأب.... ) وعلى القول باستحقاق الحاضنة على الحضانة أجرة، فإن أشغلها ما يتعلق بالولد في جميع أزمانها وجبت لها النفقة كالزوجة، وإن لم تستغرق أزمانها وجب لها من الأجرة بحسب ما يقرره أهل العرف لها

Mengenai pengasuhan anak, penulis dan ibn Basyir, pengarang buku al muqadimat mengatakan: Barang siapa berpendapat bahwa pengasuhan adalah hak anak maka pengasuh berhak mendapatkan upah dari asuhannya. Dan barang siapa yang berpendapat bahwa pengasuhan adalah hak yang mengasuh maka yang mengasuh tidak berhak mendapat upah. Dalam al muqadimat ditulis: barang siapa yang berpendapat bahwa pengasuhan adalah hak istri, maka ia tidak berhak mendapat nafkah tempat tinggal. Dan barang siapa yang menilai bahwa pengasuhan adalah hak anak maka pengasuh dan anak asuh mendapat nafkah tempat tinggal dari ayah sianak. Bagi yang berpendapat bahwa pengasuh berhak mendapat upah, jika pengasuhan tersebut menyita seluruh waktu pengasuh maka ia berhak mendapat upah, sebagaimana seorang istri. Namun jika tidak, maka upahnya ditentukan sesuai kebiasaan orang-orang ditempatnya. .

Ibnu Hajib , At-Taudhih fi Syarhil Mukhtashar Ibnul Hajib, jilid 5 hal. 182 | Maryam

Muhammad bin Abdullah al-Khurasyi (w. 1101 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Syarh Mukhtashar Khalil sebagai berikut :

(ولا شيء لحاضن لأجلها) على أنه لا نفقة للحاضن ولا أجرة حضانة فلا ينافي أن له أجرة السكنى واحترز بقوله لأجلها عما لو كان هناك سبب غيرها كما إذا كان الولد موسرا وهو محضون لأمه الفقيرة فلها أجرة الحضانة لأنها تستحق النفقة في ماله ولو لم تحضنه والله أعلم وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

(Seorang pengasuh tidak mempunyai hak atas jasa asuhnya) yakni ia tidak berhak mendapat nafkah, maka tidak menghilangkan haknya untuk mendapat hak tempat tinggal. Penulis sengaja menuliskan kata liajliha karena terdapat kondisi lain, seperti: jika anak yang diasuh kaya dan pengasuhnya adalah ibu dari anak tersebut sedangkan si ibu miskin, maka ia berhak mendapat gaji dari jasa asuhnya, karena pada dasarnya ia berhak mendapatkan nafkah dari anak tersebut sekalipun ia tidak mengasuhnya. Allah a’lam..

Muhammad bin Abdullah al-Khurasyi, Syarh Mukhtashar Khalil, jilid 4 hal. 219 | Maryam

Syihabuddin An-Nafrawi (w. 1126 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Al-Fawakih Ad-Dawani 'ala Risalah Ibni Abi Zaid Al-Qayrawani sebagai berikut :

ولا تستحق الحاضنة شيئا لأجل حضانتها لا نفقة ولا أجرة حضانة، إلا أن تكون الحاضنة أم المحضون وهي فقيرة والمحضون موسر، وإلا وجب لها أجرة الحضانة؛ لأنها تستحق النفقة في ماله من حيث فقرها، ولو لم تحضنه والله أعلم.

Seorang pengasuh tidak memiliki hak nafkah/upah atas pengasuhannya. Kecuali jika pengasuh tersebut adalah ibu dari anak yang diasuh, sedangkan ibu tersebut miskin dan si anak kaya, maka ia berhak mendapat gaji dari jasa asuhnya, karena pada dasarnya ia berhak mendapatkan nafkah dari anak tersebut karena keadaannya yang miskin walaupun ia tidak mengasuhnya..

Syihabuddin An-Nafrawi, Al-Fawakih Ad-Dawani 'ala Risalah Ibni Abi Zaid Al-Qayrawani, jilid 2 hal. 67 | Maryam

Sulaiman Al Jamal (w. 1204 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafiiyah menuliskan dalam kitabnya Hasyiah Al Jamal 'Ala Syarhi Al Minhaj sebagai berikut :

فإذا كانت الأم هي المرضعة فطلبت الأجرة على كل من الإرضاع والحضان …………..ومؤنة الحضانة في ماله ثم على الأب؛ لأنها من أسباب الكفاية كالنفقة فتجب على من تلزمه نفقته

Apabila yang menyusui adalah ibu kandungnya, maka ia berhak untuk meminta upah menyusui dan mengasuh, Adapun biaya untuk pengasuhan, dikeluarkan dari harta anak yang diasuhnya. Namun jika anak tersebut tidak memiliki harta maka kewajiban tersebut dibebankan kepada ayahnya, karena hal tersebut merupakan sebab-sebab kecukupan sebagaimana nafkah, maka ia menjadi wajib terhadap orang yang menanggung nafkah anak tersebut..

Sulaiman Al Jamal, Hasyiah Al Jamal 'Ala Syarhi Al Minhaj, jilid 4 hal. 516 | Achad

Al Bujairimi (w. 1221 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafiiyah menuliskan dalam kitabnya Hasyiyah Al Bujairimi 'Ala Al Khatib sebagai berikut :

ولها أن تطلب عليها أجرة كما لها أن تطلبها للإرضاع، فإذا حضنت مدة أو أرضعت مدة من غير طلب أجرة لم تستحق لعدم التزامها.

Seorang ibu berhak meminta upah atas pengasuhannya, sebagaimana upah dari menyusui, apabila ia mengasuh sebantar dan menyusui sebentar tanpa meminta imbalan maka gugurlah hak tersebut karena pada dasarnya hal itu bukanlah kewajibannya .

Al Bujairimi, Hasyiyah Al Bujairimi 'Ala Al Khatib, jilid 4 hal. 104 | Achad

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :

الفصل الثاني: إن الأم إذا طلبت إرضاعه بأجر مثلها، فهي أحق به، سواء كانت في حال الزوجية أو بعدها، وسواء وجد الأب مرضعة متبرعة أو لم يجد

Jika seorang istri meminta upah atas penyusuannya maka ia berhak atas itu, baik dia masih dalam ikatan pernikahan dengan ayah dari anaknya ataupun tidak. Dan baik sang bapak menemukan orang yang bisa menyusui anaknya atau tidak..

Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 8 hal. 250 | Nisa

Ibnu Hazm (w. 456 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Adzh-Dzhahiriyah menuliskan dalam kitabnya Al-Muhalla bil Atsar sebagai berikut :

فإن كانت مطلقة ثلاثا وأتمت عدتها من الطلاق الرجعي بوضعه: فلها على أبيه الأجرة في إرضاعه فقط. فإن رضيت هي أجرة مثلها: فإن الأب يجبر على ذلك - أحب أم كره - ولا يلتفت إلى قوله: أنا واجد من يرضعه بأقل، أو بلا أجرة. فإن لم ترض هي إلا بأكثر من أجرة مثلها وأبى الأب إلا أجرة مثلها فهذا هو التعاسر، وللأب حينئذ أن يسترضع غيرها لولده إلا أن لا يقبل غير ثديها، أو لا يجد الأب إلا من لبنها مضر بالرضيع، أو كان الأب لا مال له: فتجبر الأم حينئذ على إرضاعه، وتجبر هي والوالد على أجرة مثلها - إن كان له مال - وإلا فلا شيء عليه.

Maka jika istri ditalak dan telah selesai masa iddahnya maka dia hanya berhak mendapatkan upah dari ayah si anak karena sebab telah menyusuinya saja. Dan jika istri ridho maka baginya ujrah mitsl (upah yang sesuai standar upah wanita menyusi). Maka ayah harus memberikannya baik ia suka ataupun tidak dan tidak boleh berkata: aku telah menemukan orang lain yang menyusuinya dengan upah yang lebih sedikit atau bahkan tanpa upah. Dan jika istri tidak ridho dengan ujrah mitsl dan meminta lebih lalu suami menolak, maka itu adalah pemberian kesulitan kepada suami. Dan saat itu suami harus mencari orang lain yang mau menyusui anaknya. Jika anak tidak mau menyusu kepada selain ibunya, atau ayahnya tidak menemukan orang lain yang bisa menyusuinya lalu membahayakan si anak, atau ayah tidak punya harta: maka saat itu sang ibu harus dipaksa untuk menyusuinya dan sang ayah dipaksa harus membayar ujrah mitsl jika punya harta, namun jika tidak, maka suami tidak dibebankan untuk membayar upah menyusui. .

Ibnu Hazm, Al-Muhalla bil Atsar, jilid 10 hal. 167 | Nisa

Wallahu A'lam bi Ash-Shawaab

Baca Lainnya :

Syarat Bagi Istri Yang Berhak Mendapat Nafkah
Miratun Nisa | 31 October 2015, 00:58 | approved
Istri, Anak, Ayah dan Ibu, Siapakah Yang Lebih Utama Diberi Nafkah?
Miratun Nisa | 31 October 2015, 00:51 | approved
Nafkah Untuk Istri, Haruskah Diberikan Setiap Bulan?
Miratun Nisa | 31 October 2015, 01:18 | approved
Berapakah Kadar Makanan Yang Wajib Diberikan Sebagai Nafkah?
Miratun Nisa | 31 October 2015, 01:43 | draft
Jika Suami Tidak Mampu Memberi Nafkah, Bolehkah Talak?
Miratun Nisa | 31 October 2015, 01:33 | draft
Jika Suami Tidak Memberi Nafkah, Apakah Jadi Hutang?
Miratun Nisa | 31 October 2015, 01:54 | draft
Wajibkah Anak Memberi Nafkah Pada Orang Tuanya Yang Kaya?
Miratun Nisa | 31 October 2015, 02:04 | draft
Wajibkah Ayah Muslim Menafkahi Anaknya yang Non Muslim?
Ipung Multiningsih | 15 November 2015, 07:26 | published
Hukum Nafkah bagi isteri yang belum baligh
Siska | 10 November 2015, 17:07 | draft
Hukum nafkah bagi isteri karena suami yang menghilang sebelum dukhul
Siska | 10 November 2015, 17:16 | draft
Hukum nafkah bagi isteri karena suami yang menghilang setelah dukhul
Siska | 10 November 2015, 17:22 | draft
Apakah Seorang Ibu Berhak Mendapat Upah Dari Mengasuh Dan Menyusui Anaknya ?
Achadiah | 22 November 2015, 22:25 | published