Membunuh Suami Sebelum Dukhul, Gugurkah Hak Mendapatkan Mahar ?

Sat 21 November 2015 16:00 | 0
Achadiah

Dekadensi moral adalah masalah kekinian yang semakin merambah ke berbagai level sosial, mulai dari individu, keluarga, masyarakat dan seterusnya. Sebagai contoh kasus kriminalitas yang terjadi di internal keluarga, yaitu seorang istri yang membunuh suaminya dengan motif yang bermacam-macam mulai dari cemburu, selingkuh, harta warisan, hatta masalah-masalah kecil yang sesungguhnya asasnya adalah egoisme. Fenomena Istri membunuh suami, saya dapati kasus ini begitu dekat, apalagi ketika ditanya langsung oleh shahibul waqi’ah atau pelaku yaitu istri,” Masihkah saya berhak meminta maha?, untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya sajikan dalam tulisan ini pendapat para ulama madzhab.

 

Ash-Shawi (w. 1241 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Hasyiatu Ash-Shawi Ala Asy-Syarhi Ash-Shaghir sebagai berikut :

ويبقى النظر في قتل المرأة زوجها .... واستظهر في الحاشية أن لا يتكمل لها لاتهامها، ولئلا يكون ذريعة لقتل النساء أزواجهن.

Mengenai seorang perempuaan yang membunuh suaminya... Dalam al hasyiyah dikatakan bahwa maharnya tidak sempurna (utuh) karena adanya kemungkinan ia tertuduh. Dan dalam upaya pencegahan agar para istri tidak membunuh suami-suami mereka..

Ash-Shawi, Hasyiatu Ash-Shawi Ala Asy-Syarhi Ash-Shaghir, jilid 2 hal. 438 | Maryam

Al Bujairimi (w. 1221 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Asy-Syafiiyah menuliskan dalam kitabnya Hasyiyah Al Bujairimi 'Ala Al Khatib sebagai berikut :

إذا قتل السيد الأمة أو زوجها أو قتلت نفسها أو زوجها يسقط المهر

Apabila seorang Tuan membunuh budak perempuanya, atau suami budak yang membunuhnya atau istri bunuh diri atau seorang istri membunuh suaminya maka gugurlah maharnya..

Al Bujairimi, Hasyiyah Al Bujairimi 'Ala Al Khatib, jilid 3 hal. 442 | Achad

Ibnu Qudamah (w. 620 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Hanabilah menuliskan dalam kitabnya Al-Mughni sebagai berikut :

وإن قتلت المرأة، استقر المهر جميعه؛ لأنها فرقة حصلت بالموت، وانتهاء النكاح، فلا يسقط بها المهر

Jika seorang perempuan membunuh suaminya maka ia mendapat seluruh maharnya, karena perpisahan diantara mereka terjadi karena kematian dan selesainya pernikahan mereka, maka hal ini tidak menggugurkan hak mahar..

Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 7 hal. 273 | Nisa

Semoga bermanfaat.

Baca Lainnya :

Akad Nikah Tanpa Mahar, Sah atau Tidak?
Ipung Multiningsih | 12 September 2015, 13:16 | draft
Batas Minimal Mahar
Miratun Nisa | 7 October 2015, 18:28 | published
Bolehkah Manfaat Dijadkan Mahar?
Qathrin Izzah Fithri | 12 September 2015, 13:17 | published
Suami Mengatakan Sudah Menyerahkan Mahar, Namun Istri Mengingkarinya
Miratun Nisa | 14 October 2015, 15:50 | published
Mengajarkan Al-Quran Bisakah Dijadikan Mahar?
Nur Azizah Pulungan | 12 September 2015, 13:18 | draft
Standar Mahar Mitsl
Miratun Nisa | 9 October 2015, 07:00 | published
Suami Istri Berbeda Pendapat dalam Penyebutan Mahar Saat Akad
Siti Sarah Fauzia | 31 October 2015, 19:38 | published
Pengertian Mahar Menurut Ulama
Zuria Ulfi | 11 October 2015, 13:03 | published
Batasan waktu mencicil mahar
Nur Azizah Pulungan | 18 November 2015, 06:00 | published
Hukum meminta pelunasan mahar saat suami kesulitan
Nur Azizah Pulungan | 30 October 2015, 06:04 | approved
Ketentuan adil dalam menggilir para istri
Nur Azizah Pulungan | 30 October 2015, 06:17 | approved
اشتراط الولي شيئاً من المهر لنفسه
Nur Azizah Pulungan | 30 October 2015, 06:18 | draft
Membunuh Suami Sebelum Dukhul, Gugurkah Hak Mendapatkan Mahar ?
Achadiah | 21 November 2015, 16:00 | published
Menikah dibawah umur, Siapakah yang Berhak Memegang Maharnya?
Siti Sarah Fauzia | 31 October 2015, 19:43 | approved