Konsultasi

Boleh Menjamak Shalat Tanpa Udzur, Karena Nabi Pernah Melakukan?

Wed 11 November 2015 - 06:30 | 1025 views

Assalamualaikum, ustadz Ahmad Zarkasih.

Mohon pencerahannya. Yang saya tahu sejak awal bahwa yang namanya shalat 5 waktu itu harus dikerjakan. Dan tidak boleh dijamak kecuali jika memang ada udzru seperti musafir. Tapi yang anehnya kok saya menemukan dalam kitab shahih muslim ada hadits yang menyatakan bahwa Nabi s.a.w. pernah menjamak shalat tanpa uzdur. Begini haditsnya:

“Nabi saw menjama’ sholat zuhur dan ashar juga menjama; sholat maghrib dan isya di madinah tanpa ada sebab ‘takut’ dan juga tanpa sebab hujan” (HR muslim)

Nah, ini bagaimana ustadz. Apakah kita boleh menjama shalat tanpa sebab sebagaimana Nabi s.a.w. mengerjakan itu? Mohon pencerahan dan penjelasannya. Syukron.

Assalamualaikum warohmatullah wabarokatuh.

Pertanyaan ini sejatinya bukti bahwa orang muslim yang memang tidak mengerti dan tidak bisa memahami alat-alat teks syariah, kewajibannya adalah merujuk kepada ulama dan taqlid kepada mereka. itu guna menyelamatkan ibdahnya dari kesalahan dan kekeliruan. Kita tidak punya kemmapuan untuk memahami teks arab, apalagi menggali hukum langsung dari al-Quran dan sunnah. Maka yang wajib kita lakukan dan tidak boleh tidak adalah kembali kepada ulama, bertaqlid kepada mereka itu wajib.

Seperti orang yang harus menaiki atap rumahnya untuk memperbaiki genteng yang rusak. Akan tetapi ia tidak mungkin bisa berada di atas rumah kecuali dengan memakai tangga. Maka tangga itu merupakan keharusan yang wajib diadakan; karena tidak mungkin bisa naik kea tap kecuali dengan tangga. Nah begitu juga sama dalam hal memahami agama ini. Memang kita harus kembali kepada al-Quran dan sunnah, akan tetapi kita tidak mungkin memahami kedua sumber tersebut kecuali dengan penjelasan dan pencerahan dari para ulama muktabar di masing-masing madzhab. Maka merujuk kepada ulama dan bertaqlid kepada mereka merupakan kewajiban yang timbul dari kewajiban kembali ke al-Qur’an dan sunnah Nabi s.a.w..

Maka jangan berani-berani menggali hukum langsung kepada al-Qur’an dan sunnah kalau tidak mampu. Justru akan menggelicirkan kepada kesalahan beragama. Termasuk dalam hal memahami hadits yang ditanyakan itu.

Jama’ Tanpa Udzur

Ulama 4 madzhab sunni sepakat bahwa menjama’ sholat terlarang kecuali karena sebab-sebab yang memang mebolehkan jama’ seperti; safar, pun safar tidak asal boleh jama’ melainkan jika memang syarat-syarat safar itu terpenuhi. Bahkan madzhab Imam Abu Hanifah tidak melihat adanya jama’ sholat yang dibolehkan kecuali ketika di muzdalifah.[1]

Terkait sholat jama’ yang pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad saw yang mana jama’ itu dilakukan tanpa sebab, memang ada riwayat yang mneyebutkan itu, dan riwayatnya shahih dari Imam Muslim:

جَمَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ بِالْمَدِينَةِ فِي غَيْرِ خَوْفٍ وَلَا مَطَرٍ

“Nabi saw menjama’ sholat zuhur dan ashar juga mnejama; sholat maghrib dan isya di madinah tanpa ada sebab ‘takut’ dan juga tanpa sebab hujan” (HR muslim)

Dari hadits ini para ulama 4 madzhab tetap dalam pendirian, bahwa tidak ada jama’ kecuali ada udzur syar’I. jadi tidak ada istilahnya jama’ tanpa sebab. Dan ini dijelaskan secara gamblang oleh Imam Ibnu Rusyd dalam kitabnya Bidayah Al-Mujtahid wa Niahayah Al-Muqtashid pada Bab Sholat Jama’.

Jika Mendesak dan Tidak Terulang-Ulang

Hanya saja memang ada beberapa kelompok yang membolehkan menjama’ sholat walau tanpa sebab sebagaimana hadits Ibnu Abbas tersebut, diantara mereka ialah Ibnu Sirin, Madzhab Al-Zohiri, Asyhab dari kalangan Malikiyah, dan juga Ibnu Al-Mundzir dari kalangan syafi’iyyah. [2]

Itupun bukan tanpa sebab, mereka membolehkan jika memang ada kebutuhan yang mendesak, yang tidak memungkinkan seorang muslim untuk sholat tepat waktu kecuali dengan di jama’, karena lanjutan haditsnya Ibnu Abbas tersebut:

فِي حَدِيثِ وَكِيعٍ قَالَ قُلْتُ لِابْنِ عَبَّاسٍ لِمَ فَعَلَ ذَلِكَ قَالَ كَيْ لَا يُحْرِجَ أُمَّتَهُ

“dalam hadits waqi’, beliau berkata kepada Ibnu Abbas: ‘kenapa Nabi melakukan itu?’, Ibnu Abbad menjawab: ‘agar tidak memberatkan ummatnya’!”

Jadi ‘Illah (sebab) bolehnya jama’ tanpa sebab itu ialah Raf’ul Haraj [رفع الحرج] (agar tidak memberatkan), dan sesuatu yang berat itu ada ketika adanya kesulitan dan situasi yang kritis.

Denan lanjutan hadits ini, Ibnu Sirin dan juga Asyhab mensyaratkan bahwa ia boleh menjama’ sholat jika memang ada kebutuhan yang mendesak, asalkan situasi itu tidak terjadi berulang-ulang. Artinya itu kejadian yang insidentil, bukan sebuah rutinitas.[3]

Dita’wil untuk Hujan dan Orang Sakit

Ulama 4 madzhab tetap pada pendapat bahwa tidak boleh jama’ tanpa sebab. Dan terkait dengan hadits Ibnu Abbas tersebut, Imam Ibnu Qudamah menjelaskan bahwa hadits itu ditakwil pemahamannya untuk orang yang sakit. Jadi Nabi saw menjama’ sholat bukan karena sebab, akan tetapi untuk menunjukkan kebolahannya bagi yang sakit.

وَحَدِيثُ ابْنِ عَبَّاسٍ حَمَلْنَاهُ عَلَى حَالَةِ الْمَرَضِ

“dan hadits Ibnu Abbas kami haml (bawa) maknanya untuk keadaan sakit” [4]

Sedang Imam Syairozi dalam kitabnya Al-Muhadzdzab, terkait hadits Ibnu Abbas itu,beliau menukil pendapatnya Imam Malik bahwa hadits tersebut tidaklah seperti manthuq-nya (teks), akan tetapi digiring (haml) maknanya bahwa Nabi saw menjama’-nya ketika hujan. [5]

Dan ini juga yang disebutkan Imam Ibnu Rusyd dalam kitabnya Bidayah, bahwa Imam Malik melihat hadits itu diperuntukkan untuk orang sakit yang keadaannya tidak mungkin melakukan sholat tepat waktu.[6]

Jama’ Tanpa Sebab = Dosa Besar

Karena memang menjama’ sholat tanpa sebab, menurut mayoritas ulama adalah dosa besar. Seperti yang telah disinggung di awal, bahwa dalil-dalil tentang waktu sholat itu kedudukannya sangat kuat bahwa sampai mutawatir. Melanggar sesuatu yang mutawatir adalah sebuah dosa.

Imam Ibnu Abi syaibah dalam Mushonnaf-nya meriwayatkan sebuah qaul dari Umar bin Abdul Aziz:

عَنْ أُبَيِّ بْنِ عَبْدِ اللهِ ، قَالَ : جَاءَنَا كِتَابُ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ : أنْ لاَ تَجْمَعُوا بَيْنَ الصَّلاَتَيْنِ إِلاَّ مِنْ عُذْرٍ.

“dari Ubai bin Adbillah: telah datang kepada kami surat dari Umar bin abdul Aziz yang berkata: “janganlan kalian menjama’ 2 sholat tanpa udzur!”

Dalam riwayat Imam Turmudzi dan juga Imam Al-Daroquthni, termasuk juga Imam Al-Baihaqi, Nabi saw bersabda:

مَنْ جَمَعَ بَيْنَ الصَّلَاتَيْنِ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ فَقَدْ أَتَى بَابًا مِنْ أَبْوَابِ الْكَبَائِرِ

“barang siapa yang manjama’ 2 sholat tanpa sebab, itu berarti ia telah mendatangi satu pintu dari pintu-pintu dosa besar” [7]

Dikuatkan oleh qaul dari

Hadits Ibnu Abbas Bukan Jama’ Melainkan Jama’ Shuri

Imam Ibnu Rusyd dalam kitabnya Bidayah, secara jelas menerangkan bahwa ulama 4 madzhab melarang manjama’ sholat tanpa uzdur. Terkait hadits Ibnu Abbas tersebut, jumhur ulama mengatakan bahwa selain takwil hujan dan orang sakit yang telah disebutkan di atas, bahwa jama’ yang dimaksud dalam hadits Ibnu Abbas itu ialah jama’ shuri, bukan jama’ sesungguhnya.

Yaitu dengan mengakhirkan sholat zuhur di penghujung waktu dan menyegerakan ashar di awal waktu, sehingga seakan-akan seperti menajama’ padahal tidak. semua sholat dikerjakan tepat pada waktunya, hanya zuhur diakhirkan dan ashar disegerakan, itu saja!

Terlebih lagi bahwa memang telah ada ijma’ (konsesus) bahwa tidak boleh menjama’ dua sholat tanpa sebab dalam keadaan hadir (bukan musafir).[8]

Makin jelas bahwa itu adalam jama’ shuri dengan penjelasan yang diterangkan oleh Imam Al-Syaukani dalam kitabnya Nailul-Awthor , beliau mengatakan:

وَمِمَّا يَدُلّ عَلَى تَعْيِين حَمْل حَدِيثِ الْبَابِ عَلَى الْجَمْع الصُّورِيّ مَا أَخْرَجَهُ النَّسَائِيّ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ بِلَفْظِ: «صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا، وَالْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ جَمِيعًا، أَخَّرَ الظُّهْر وَعَجَّلَ الْعَصْر، وَأَخَّرَ الْمَغْرِبَ وَعَجَّلَ الْعِشَاءَ» فَهَذَا ابْنُ عَبَّاسٍ رَاوِي حَدِيثِ الْبَابِ قَدْ صَرَّحَ بِأَنَّ مَا رَوَاهُ مِنْ الْجَمْع الْمَذْكُور هُوَ الْجَمْع الصُّورِيّ.

“dan salah satu yang menguatkan bahwa jama’ yang dimaksud dalam hadits Ibnu Abbas itu adalah jama’ Shuri, itu apa yang diriwayatkan oleh Imam An-Nasa’i dari Ibnu Abbas, beliau mengatakan: ‘aku sholat bersama Nabi saw zuhur dan ashar bersamaan (jama’), juga maghrib dan isya bersamaan (jama’), Beliau mengakhirkan zuhur dan menyegerakan ashar, dan mengakhirkan maghrib serta menyegerakan isya’

Dan ini adalah riwayat Ibnu Abbas yang merupakan perawi hadits bab ini (jama’ tanpa udzur), beliau telah mnejelaskan bahwa apa yang diriwayatkannya itu (jama’ tanpa udzur) adalah jama’ shuri” [9]

Makin diperkuat dengan apa yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhori:

قَال ابْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : مَا رَأَيْت النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى صَلاَةً لِغَيْرِ مِيقَاتِهَا إِلاَّ صَلاَتَيْنِ جَمَعَ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ بِجَمْعٍ أَيْ بِمُزْدَلِفَةَ

“Aku tidak pernah melihat Nabi saw sholat bukan pada waktunya kecuali 2 sholat, belau menjama’ sholat maghrib dan isya di jama’ atau di muzdalifah” (HR BUkhori)

Wallahu a’lam. Wassalamualaikum warohmatullah wabarokatuh.

Ahmad Zarkasih, Lc.


[1] Raddul Muhtar ‘ala Al-Dur Al-Mukhtar 1/256

[2] Al-Majmu’ 4/384, Bidayah Al-Mujtahid 1/184

[3] Al-Majmu’ 4/384

[4] Al-Mughni 2/250

[5] Al-Muhadzdab 1/198

[6] Bidayah Al-Mujtahid 1/184

[7] Dalam sanadnya terdapat Husain bin Qois, dan ia adalah seorang yang dhoif. Imam Turmudzi mengomentari bahwa mengamalkan hadist ini menurut para ulama ialah bahwa tidak boleh manjama’ sholat tanpa udzur kecuali safar dan juga sakit.

[8] Bidayah Al-Mujtahid 1/182

[9] Nailul Awthor 3/258