Konsultasi

Wanita Ziarah Kubur, Bolehkah?

Mon 30 March 2015 - 07:41 | 1071 views
assalamualaikum warohmatullah wabarokatuh
ustadz, sebenarnya bagaimana hukum ziarah kubur bagi wanita, apakah boleh atau tidak? atau mungkin ada perbedaan pendapat di dalam masalah ini. karena dalam salah satu kajian, saya mendaati ada seorang ustadz yang keras sekali melarang wanita ziarah kubur, akan tetapi pada kenyataannya, banyak wanita yang ikut ziarah kubur, bahkan bersama ustadz-ustadz mereka. mohon penjelasannya. syukran

alaikumsalam warohmatullah wabarokatuh

Ulama dalam hal ini bersepakat, kalau wanita itu berziarah dan ziarahnya hanya membuatnya terus bersedih dan menangisi yang sidah pergi, atau malah memmbuatnya frustasi, maka yang sepeti ini di”haram”-kan. Karena pekerjaannya ini seperti orang yang tidak me-ridhoi ketentuan Allah swt. Dan pekerjaannya itu termasuk “Niyahah”, yaitu menangisi kematian sesorang berlarut-larut.

Akan tetapi kalau kondisinya berbeda, yakni wanita sekarang walaupun lemah, tidak sepeti dulu yang selalu menangisi dan terbawa perasaan ketika melihat saudara atau orang tercintanya pergi. Mereka sudah lebih kuat. Artinya, kalaupun nanti ia berziarah, ia tidak akan lagi menangisi atau bersedih-sedih terlalu lama. Dalam hal ini (Seperti biasa) Ulama berbeda pendapat kedalam 3 kelompok: ada yang mengharamkan, ada yang memakruhkan saja, ada juga yang mebolehkan secara mulak.

1.   Haram

Di antara ulama yang masyhur dalam kelompok yang mengharamkan ini ialah Imam Ibn Taimiyyah. Dan tentu saja beliau tidak sendirian, ada banyak ulama yang sependapat dengan beliau termasuk muridnya Sheikh Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah.

Dalilnya:

Pertama:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَعَنَ زَوَّارَاتِ الْقُبُورِ

dari Abu Hurairoh ra, beliau berkata: “Rasul saw melaknat para wanita-wanita peziarah kubur” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad) Imam Tirmidzi setelah meriwayatkan hadits ini mengatakan bahwa hadits ini hadits Hasan Shohih.

Di redaksi hadits di atas, ada kata “laknat” yang dalam kaidah ushul Fiqih itu menunjukan bahwa sesuatu yang terlaknat itu berarti sebuah keharaman.

Kedua:

Dalam Shahih Muslim ada hadits yang mengatakan bahwa Rasul saw melarang umat islam ini untuk berziaroh namun kemudian larangan itu dicabut, dan umat islam dibolehkan untuk berziaroh.

نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا

redaksi katanya itu umum, mencakup laki-laki dan perempuan, maka boleh-boleh saja perempuan itu berziaroh.

Namun menurut kelompok ini, pendapat seperti itu tidaklah bisa dijadikan dalil. Walaupun memang hadits itu membolehkan, tapi redaksi haditsnya itu umum. dan larangan untuk wanita berziaroh itu haditsnya khusus, dan dalam kaidah ushul, dalil Umum menjadi dalil kalau tidak ada dalil khusus, kalau ada dalil khusunya maka dalil khusus itulah yang dikerjakan.(Majmu’ Al-Fatawa 24/344)

Ketiga:

Sifat perempuan itu aslinya ialah lemah dan tidak kuat menahan kesedihan, terlebih atas kepergian orang yang dicintainya. Kalau dibolehkan begitu saja, dikhawatirkan ini akan membuatnya melakukan hal-hal yang diharamkan seperti “An-Niyahah” itu tadi.(Al-Mughni 2/430)

2.   Makruh

Pendapat ini dipegang oleh mayoritas (Jumhur) Ulama dari 4 mazhab Fiqih, hanya saja mazhab al-hanafiyah, mayoritas ulamanya lebih condong kependapat yang ketiga (akan kami sebutkan kemudian).

Dalil kelompok ini:

Pertama:

Memang ada dalil laranganan seperti yang telah disebutkan pada dalil kelompok awal yaitu: “Rasul saw melaknat para wanita-wanita peziarah kubur”. Akan tetapi pengharaman menjadi tidak mutlak karena ada dalil-dalil lain yang membuatnya menjadi tidak haram. Ini yang biasa disebut dalam literasi ushul dengan istilah Qorinah Shorifah ‘An At-Tahrim, yakni adanya dalil-dalil lain yang menjadi pembanding yang kemudian menurunka level keharamannya menjadi makruh saja.

Contohnya hadits nabi saw yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Kitab Shohihnya (no. 1619) yang menjelaskan bahwa Nabi saw pernah mengajarkan ‘Aisyah doa untuk berziaroh:

السَّلَامُ عَلَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَيَرْحَمُ اللَّهُ الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَلَاحِقُون 

Ini redaksi doa yang diajarkan Nabi saw kepada ‘Aisyah ketika berziaroh. Kalau lah saja seandainya berziaroh itu diharamkan, tentu Nabi saw tidak akan mengajarkan doa tersebut kepada ‘Aisyah.

Juga hadits Shahih riwayat Imam Bukhori:

قعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِامْرَأَةٍ تَبْكِي عِنْدَ قَبْرٍ فَقَالَ اتَّقِي اللَّهَ وَاصْبِرِي قَالَتْ إِلَيْكَ عَنِّي فَإِنَّكَ لَمْ تُصَبْ بِمُصِيبَتِي

Dari Anas bin Malik r.a. “Rasul saw pernah melewati sebuah kuburan dan melihat seorang wanita menangis didepan kuburan itu. Kemudian rasul berkata kepada wanita tersebut: ‘bertaqwalah kepada Allah dan bersabarlah!’. Kemudian perempuan itu membalas: “pergilah kau dari ku, kau tidak merasakan kesedihan yang aku rasakan!” (HR. Bukhori)

Seandainya seorang wanita itu dilarang untuk berziarah pastilah Nabi melarang wanita tersebut, bukan malah menasehatinya.

Yang lebih jelas lagi ialah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Hakim dalam kitabnya al-Mustadrak dari sahabat Abdullah bin Abi Malikah: beliau berkata:

أن عائشة أقبلت ذات يوم من المقابر فقلت لها : يا أم المؤمنين من أين أقبلت ؟ قالت : من قبر أخي عبد الرحمن بن أبي بكر فقلت لها : أليس كان رسول الله صلى الله عليه و سلم نهى عن زيارة القبور قالت نعم كان نهى ثم أمر بزيارتها

Aku pernah bertemu Aisyah dipemakaman, kemudian aku bertanya: “dari mana kau wahai ummul-Mukminin ‘Aisyah?”, beliau menjawab: “dari kuburan saudaraku Abdurrahman bin Abu Bakr”, lalu aku betanya:” bukankah Rasul telah melarang (wanita) untuk berziaroh kubur?”. ‘Aisyah menjawab: “Ya! Tapi kemudian Rasul saw memerintahkannya lagi”. (pelarangnnya di angkat) (HR Hakim. No, 1392 / Al-Mustadrok)

Nah, dalam kaidah ushul, kalau ada perintah setelah larangan, jumhur ulama ushul menghukumi itu sesuatu yang boleh. Contohnya seperti di atas, awalnya memang dilarang, akan tetapi kemudian Rasul memerintahkannya kembali.

Kedua:

Sama seperti kelompok pertama, yang berpandnagan bahwa sifat perempuan aslinya ialah lemah dan tidak kuat menahan kesedihan, terlebih atas kepergian orang yang dicintainya. Kalau dibolehkan begitu saja, dikhawatirkan ini akan membuatnya melakukan hal-hal yang diharamkan seperti “An-Niyahah” itu tadi. (Al-Mughni 2/430)

3.   Boleh Secara Mutlak

Kelompok ini kebanyakan dipegang oleh mayoritas Ulama mazhab al-Hanafiyah, dalil mereka ialah bahwa larangan ziarah untuk wanita yang ada dibeberapa hadits itu sudah di palingkan keharamannya dengan banyaknya dalil yang menyatakan kebolehan ziarah kubur bagi wanita, seperti yang telah dipaparkan diatas.

Dan juga pengharaman yang ditujukan kepada wanita tersebut itu didasarkan atas sifat wanita yang mudah bersedih dan sering meratapi. Nah ternyata kenyataannya, zaman sekrang wanita tidak lagi cengeng seperti dahulu, maka keharamannya itu tidak lagi ada. Akan tetapi jika wanita yang bersangkutan mempunya sifat-sifat “cengeng” seperti itu lagi, maka hukumnya menjadi haram. Jadi tergantung kepada sifat wanita itu sendiri.

Wallahu a’lam

Ahmad Zarkasih, Lc