Konsultasi

Batasan Merubah Ciptaan Allah ta'ala

Mon 6 April 2015 - 06:56 | 1254 views
assalamualaikum warohmatullah wabarokatuh
mohon penjelasannya ustadz terkait merubah ciptaan Allah swt. Membaca artikel sebelumnya tentang merubah kelamin, saya jadi bertanyan-tanya, sebenarnya merubah yang bagaimana yang diharamkan dan bagaimana yang dibolehkan? karena kalau kita lihat, sejatinya kita banyak melakukan perubahan terhadap tubuh kita. wassalam

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ada beberapa hal yang mesti menjadi bahan tinjauan dalam hal merubah ciptaan Allah s.w.t. ini. di antaranya:

Pertama:

Perubahan ciptaan Allah swt yang telah diperintahkan oleh syariat ini atau telah mendapatkan izin, maka itu bukanlah termasuk dalam kategori merubah ciptaan Allah swt yang diharamkan, walaupun secara zohir itu merubah. Seperti Khitan, dan juga perkara-perkara Fitrah lainnya yang dijelaskan dalam hadits khomsun Minal-fithroh.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْفِطْرَةُ خَمْسٌ أَوْ خَمْسٌ مِنْ الْفِطْرَةِ الْخِتَانُ وَالِاسْتِحْدَادُ وَتَقْلِيمُ الْأَظْفَارِ وَنَتْفُ الْإِبِطِ وَقَصُّ الشَّارِبِ.

Dari Abu Hurairoh ra, Nabi saw bersabda: “Fithrah itu ada lima;[1] khitan, [2] mencukur bulu kemaluan, [3] memotong kuku, [4] mencabut bulu ketiak, [5] mncukur kumis.” (HR. Bukhori)

Dan juga termasuk yang dibolehkan, bahwa para Ulama memberikan rukhshoh keringanan atas kebolehan mengkebiri hewan ternak untuk menambah manfaat seperti kegemukan dan sejenisnya, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam al-Syaukani dalam kitabnya fath al-Qadir. [1]

Kedua:

Kalau perubahan bentuk itu bertujuan untuk pengobatan, atau juga perbaikan salah satu organ tubuh atau seluruhnya, maka itu tidak dilarang dan bukan termasuk kategori merubah ciptaan Allah swt yang diharamkan[2]. Dan ini yang disebut dengan Operasi rekonstruksi, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

Sedangkan jika perubahan itu tujuannya hanya mengikuti hawa nafsu semata, yaitu untuk menampilakan penampilan luar menjadi lebih elok dan cantik, maka itulah perubahan ciptaan Allah swt yang dilarang.

Ketiga:

Ulama menyebutkan bahwa perubahan atas ciptaan Allah swt yang diharamkan itu ialah perubahan yang lama. Artinya ketika sudah berubah, itu tidak bisa kembali ke bentuk asal semula lagi, atau bisa dikatakan bahwa ini perubahan yang sifatnya permanen sehingga tidak bisa kembali ke bentuk asalnya, seperti tattoo dan sejenisnya. Ini yang diharamkan.

Sedangkan perubahan kecil yang tidak merombak bentuk asal dan sewaktu-waktu bisa kembali lagi ke bentuk semula, itu tidak masuk dalam kategori yang diharamkan, seperti pemakaian kosmetik, cream pemutih, dan unsur-unsur kimia lainnya yang banyak terkandung dalam alat-alat kecantikan zaman sekarang. [3]

Rumus

Setelah memperhatikan beberapa tinjauan tersebut, barulah kemudian Rumus yang menjadi standarisasi merubah ciptaan Allah swt [تغيير خلق الله نعالى] yang diharamkan itu muncul, yaitu:

“Melalukan Perubahan Yang Sifatnya Baku (Tetap) Terhadap Salah Satu Organ Tubuh Dari Bentuk Semestinya (Biasa) Yang Tidak Diizinkan Oleh syariat”.

“Melakukan Perubahan”: Mencakup segala bentuk perubahan, baik itu dengan menambahkan, atau menghilangkan, atau juga merubah seperti membesarkan atau juga mengecilkan.

“Sifatnya Baku (Tetap)”: Sifat perubahannya itu tetap dan baku atau bahkan seumur hidup. Artinya tidak bisa dikembalikan ke bentuk semula dengan mudah akan tetapi membutuhkan waktu yang cukup lama. Sedangkan kalau itu bisa dikembalikan ke bentuk semula sepeti biasanya sewaktu-waktu, itu tidak bisa digolongkan kepada perubahan yang sifatnya tetap.

“Dari Bentuk Semestinya (Biasa)”: Maksdunya ialah, perubahan itu membuatnya menjadi bentuk yang tidak semestinya dari bentuk yang semestinya. Contoh: kulit berkerut itu biasanya terjadi kepada orang-orang yang sudah memasuki umur senja. Dan kalau ada orang dengan usia muda memiliki kulit berkerut layaknya orang tua, maka itu bukanlah kulit yang semestinya terjadi kepada orang dengan usia muda. Karena itu, si anak muda itu diperbolehkan melakukan operasi kecantikan untuk mengembalikan kulitnya menjadi kulit biasa kebanyakan orang seusianya. Dan itu dinamakan seperti berobat.

Contoh lain ialah, wajah asli wanita biasanya dan semestinya bersih dari berbagai bulu, entah itu di pipi atau janggut. Kalau ditemukan bulu di pipi misalnya, itu bukan bentuk biasa yang lazim pada wajah wanita, dan itu diibaratkan sebagai aib dan penyakit. Karean itu penyakit maka kayak untuk dihilangkan. Maka melakukan perubahan terhadap wajah tersebut guna menghilangkan bulu, tidak termasuk dalam kategori perubahan yang dilarang oleh syariah.  

 “Yang Tidak Diizinkan Oleh syariat”: Dengan kalimat tambahan ini menajdikan segala perubahan yang memang mendapatkan izin resmi oleh syariah itu tidak tergolong kedalam perubahan cintaan Allah swt yang diharamkan. Seperti perubahan yang dilakukan karena hukuman, potong tangan misalnya, atau juga cambuk. Atau juga khitan yang memang merubah ciptaan Allah swt namun atas dasar dalil-dalil syariah.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Zarkasih, Lc


[1] Fathul-Qodir, jil. 1 hal. 465

[2] Fathul-Baari, jil. 10 hal. 373

[3] Dr. Sholih Al-fauzan. Al-Jirohah At-Tajmiliyah. hal. 74