Konsultasi

Batu Akik, Ternyata Wajib Zakat?

Tue 7 April 2015 - 07:36 | 1760 views
assalamualaikum warohmatullah wabarokatuh
ustadz, ini terkait batu akik yang belakangan ini sedang sangat populer. Beberapa waktu lalu saya pernah dengar ada salah seorang dosen di sebuah universitas Islam yang mengatakan bahwa orang yang memilki batu akik itu terkena kewajiban zakat, Benarkah demikian? mohon penjelasannya juga disertakan pandangan dari madzhab-madzhab fiqih. syukron.

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Batu akik secara bahasa tidak ada perbedaan dengan bahasa Arab, mereka juga mmenyebutnya sama; yakni ‘Aqiq [عقيق]. Salah satu ulama bahasa Arab; Ahmad al-Fayumi dalam kitabnya al-Mishbah al-Munir (2/422) memberikan definisi tentang akik ini, beliau mengatakan:

حَجَرٌ يُعْمَل مِنْهُ الْفُصُوصُ

“’aqiq adalah sesuatu yang (biasa) dijadikan sebagai mata cincin”

Sama seperti pendahulunya, kelompok ulama bahasa yang menyusun kamus al-Mu’jam al-Wasith (2/616) juga mendefinisikan akik dengan defisini yang sama. Mereka menyebutkan:

حجر كريم أحمر يعمل منه الفصوص يكون باليمن وبسواحل البحر

“batu mulia merah yang dijadikan sebagai mata cincin, (batu itu) diambil dari negeri Yaman, dan juga dari daerah-daerah pesisir pantai.”

Kewajiban Zakat Batu Akik

Terkait dengan kewajiban zakat batu akik bagi yang memiliki ini diperselisihkan oleh ulama 4 madzhab. Dan perbedaan yang ada terkait hal ini bersumbu pada perbedaan para ulama tersebut tentang jenis ma’din [معدن] atau barang tambang mana yang memang masuk dalam kategori wajib zakat ma’din itu sendiri.

Secara global, ulama menyepakati arti ma’din itu sendiri, sebagaimana yang disebutkan oleh Imam al-Buhuty dalam kitabnya kasysyaf al-Qina’ (1/222):

كُل مَا تَوَلَّدَ فِي الأْرْضِ مِنْ غَيْرِ جِنْسِهَا لَيْسَ نَبَاتًا

”Semua harta yang terkandung di dalam tanah yang bukan jenis tanah dan bukan tumbuhan.”

Namun mereka berselisih, ma’din yang mana yang memang wajib dizakati. Dalam arti lain, pengetahuan tentang wajib atau tidaknya zakat batu akik itu sangat bergantug kepada pemahaman kita tentang zakat ma’din itu.  

1.   Tidak Ada Zakat Batu Akik

Ini adalah pendapat resmi madzhab Imam Abu Hanifah dan juga madzhab Imam al-Syafi’I, berdasarkan hadits Nabi Muhammad s.a.w, dari sahabat Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Aash:

لاَ زَكَاةَ فِي حَجَرٍ

“Tidak ada zakat pada batu!”  (HR. al-Baihaqi)

Walaupun memang mayoritas ulama hadits menghukumi hadits ini sebagai hadits dhaif (lemah), akan tetapi bukan hanya hadits itu saja yang menjadikan dasar ketidakadaan wajibnya zakat batu akik dalam madzhab al-Syafiiyah dan al-Hanafiyah. Selain hadits ini, itu juga karena memang dalam pandangan kedua madzhab ini, batu akik tidak termasuk dalam kategori ma’din (barang tambang) yang wajib dikeluarkan zakatnya.

Dalam madzhab Imam Abu Hanifah, ma’din yang wajib dizakati adalah ma’din dengan jenis yang bisa dibentuk dengan api, entah itu dilelehkan atau dicairkan, seperti emas, kuningan, tembaga, besi dan lainnya. Sedang dalam madzhab Imam al-Syafi’i ma’din yang wajib dizakati itu hanya 2 jenis, yakni emas dan perak.

Wajib Jika Dijadikan Barang Dagang

Namun batu akik dalam kedua madzhab ini bisa jadi wajib zakatnya jika batu akik bukan untuk perhiasan semata, akan tetapi dijadikan untuk barang dagang. Artinya kewajibannya adalah kewajiban zakat barang dagangan, dengan itu mekanisme yang berlaku adalah mekanisme zakat barang dagangan atau zakat ‘urudh al-Tijarah [عروض التجارة].

Imam al-Hashfaki dari kalangan al-Hanafiyah dalam kitabnya al-Durr al-Mukhtar mengatakan:

وَالْأَصْلُ أَنَّ مَا عَدَا الْحَجَرَيْنِ وَالسَّوَائِمَ إنَّمَا يُزَكَّى بِنِيَّةِ التِّجَارَةِ

“pada dasarnya, selain 2 batu ini (emas dan perak) dan juga hewan ternak, zakatnya adalah zakat barang dagang.” (hasyiyah Ibni Abdin ‘ala al-Durr al-Mukhtar 2/273)

Imam al-Nawawi dalam al-Majmu’ (6/6) menegaskan:

لَا زَكَاةَ فِيمَا سِوَى الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ مِنْ الْجَوَاهِرِ كَالْيَاقُوتِ وَالْفَيْرُوزَجِ وَاللُّؤْلُؤِ ...

“tidak ada zakat untuk batu permata selain emas dan perak, seperti yaqut (rubi), batu pirus biru, mutiara, …”

2.   Wajib Zakat Batu Akik

Ini adalah pendapat madzhab al-Hanabilah, melihat bahwa memang madzhab mewajibkan semua jenis ma’din akan zakat. Berangkat dari firman Allah s.w.t.:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الأَرْض

Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. (QS. At-Taubah : 34)

Ini juga pendapat yang dipegang oleh Dr. Yusuf al-Qaradhawi, sebagaimana secara gamblang beliau jelaskan dalam kitabnya fiqh al-Zakah. Beliau termasuk dalam kelompok ulama yang melebarkan makna ma’din itu, dan memasukkan bebatuan mulia yang bernilai ekonomi tinggi ke dalam zakat ma’din.

Sedangkan hadits Nabi s.a.w. yang mengatakan bahwa tidak ada zakat untuk bebatuan, itu disanggah bahwa memang hadits itu adalah hadits yang kemah yang tidak bisa dijadikan sebagai dalil hukum. Dan kalaupun hadits itu shahih, kandungan hukumnya mahmuul atau digiring kepada bahwa yang tidak ada zakatnya adalah bebatuan yang tidak berharga, sedang yang berharga kewajiban zakatnya tetap ada karena termasuk ma’din. Ini yang disebutkan oleh Imam al-Buhuty dalam kasysyaf al-Qina’ (jil. 2 hal. 223).

Teknis Zakat

a.   Jumlah Wajib Zakat

Imam Ibnu Qudamah menyebutkan dalam kitabnya al-Mughni (3/53):

وَقَدْرُ الْوَاجِبِ فِيهِ رُبْعُ الْعُشْرِ. وَصِفَتُهُ أَنَّهُ زَكَاةٌ.

“kadar yang wajib dikeluarkan dari zakat ini (ma’din) adalah ¼ dari 10 (2,5 %), dan ini jenis zakat.”

Jumlah yang wajib dikeluarkan zakatnya adalah 2,5 %, dan ini adalah jenis zakat. Maksudnya bahwa alokasi dana zakat ma’din sama seperti zakat-zakat lain, yakni 8 golongan yang tertera dalam surat al-Taubah ayat 60 itu.

b.   Nishab

Karena memang hanya madzhab Imam Ahmad yang mewajibkan zakat batu akik dengan alasan itu termasuk ke dalam ma’din yang wajib dizakati, mekanisme pembayarannya pun kita kembalikan kepada bagaimana madzhab ini mengatur zakat ma’din, dari batasan nishabnya serta jumlah yang wajib dikeluarkan.

Dalam madzhab ini, ma’din tidak wajib dizakati kecuali jika sudah melewati nishab. Dan nishab zakat ma’din adalah nishab zakat emas, yaitu 20 mitsqal. (al-Mughni 3/54)

 Mitsqal adalah nama satuan berat yang dipakai di masa Rasulullah SAW. Berat emas 1 mitsqal setara dengan 1 3/7 dirham, setara juga dengan 100 buah bulir biji gandum, dan juga setara dengan 4,25 gram. Dengan demikian, dengan mudah bisa dihitung bahwa nishab zakat emas adalah 20 mitsqal dikali 4,25 gram, sama dengan 85 gram. Artinya zakat batu akik ini wajib dikeluarkan jika nilainya sudah mencapai senilai 85 gram emas.

Ini adalah nishab zakat ma’din versi jumhur ulama, sedangkan madzhab Imam Abu Hanifah tidak mengatakan adanya nisshab bagi zakat ma’din. artinya berapapun barang tambang yang didapat, maka itu sudah wajib zakat.

c.    Waktu Wajib Zakat

Waktu wajib zakat ini adalah ketika nishabnya memang sudah terpenuhi, artinya ketika bebatuan atau ma’din yang didapat itu jumlahnya sudah melebihi nishab, maka di situlah kewajiban zakatnya muncul. Artinya zakat ma’din tidak mensyaratkan adanya haul (setahun) untuk mulai kewajiban zakatnya.

Kenapa tidak ada haul? Imam Ibnu QUdamah menyebutkan karena memang ma’din ini adalah harta yang didapat atau digali dari bumi, karena itu tidak ada haulnya, seperti zakat pertanian, hasil tanaman dan juga zakat Rikaz. (al-Mughni 3/55).

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Zarkasih, Lc