Konsultasi

Istihalah, Apakah Mensucikan Najis?

Wed 18 March 2015 - 09:30 | 591 views
Assalamualaikum warohmatullah wabarokatuh

Ustadz, saya pernah dengar di salah satu kajian bahwa sesuatu yang najis itu bisa berubah menjadi suci, kalau memang ada proses istihalah. Nah, saya masih bingung, apakah memang benda najis bisa jadi suci?

Lalu apa itu istihalah? Apakah benar ia bisa mensucikan benda yang najis menjadi suci? Lalu bagaimana ulama madzhab fiqih melihat istihalah itu?

Saya ucapkan terimakasih banyak.

Wassalam

Alaikumsalam warohmatullah wabarokatuh  

Dalam syariah, sesuatu yang asalnya suci lalu kemudian terkena najis, cara mensucikannya cukup dibersihkan sampai najis yang menempel itu hilang tidak berbekas. Cara menghilangkan itu pun banyak macamnya, bisa dengan disiram air, atau dikeringkan di bawa sinar matahari, atau juga bisa dikerik dan sebagainya. Intinya najis itu hilang.

Itu sesuatu yang memang awalnya suci dan bersih kemudian terkena najis, berbeda dengan sesuatu yang memang aslinya najis. Dia bukan barang suci yang tertempel najis, akan tetapi memang aslinya bendi itu najis, seperti khamr (bagi jumhur ulama 4 madzhab yang memang mengkategorikan Khamr sebagai najis), kulit bangkai hewan, kotoran manusia dan binatang dan lainnya. Apakah bisa disucikan? Tentu bisa.

Untuk mensucikan sesuatu yang aslinya najis, ada 2 caranya, yaitu disamak dan lewat proses istihalah.

1. Samak


Samak adalah cara untuk mensucikan kulit bangkai hewan. Selain untuk merubah status kulit bangkai tersebut dari najis menjadi suci, samak juga berfungsi untuk menghilangkan bau yang ada pada kulit bangkai dan juga menjadi tahan lama serta bisa digunakan untuk menghasilkan sesuatu, seperti membuat sepatu atau juga jaket.

2. Istihalah


Istihalah adalah sebutan dalam bahasa yang berarti perubahan. Dalam beberapa kitab, ulama-ulama fiqih mendefinisikan istihalah dengan makna perubahan wujud suatu benda dari satu bentuk dengan sifatnya kepada bentuk lain dan dengan sifat yang berubah juga.

Seperti anggur yang awalnya benda suci, kemudian berubah (dirubah) menjadi khamr, maka menjadi najis. Atau juga air mani yang dalam madzhab jumhur (selain madzhab Imam Syafi’i) itu dihukumi sebagai najis namun statusnya berubah menjadi suci ketika menjadi janin orokk. Atau juga makanan yang kita makan, kemudian masuk ke mulut dan dihancurkan oleh lambung kemudian keluar, baik lewat mulut (muntah) atau lewat dubur (BAB), maka status makanan tersebut yang awalnya suci menjadi najis karena sudah tidak disebut lagi sebagai makanan. Sifat dan wujudnya berubah.

Istihalah (Tidak) Merubah Status Hukum Benda

Tapi sayangnya, dalam masalah istihalah ini, ulama madzhab-madzhab fiqih tidak pada satu suara. Artinya mereka tidak sepakat bahwa istihalah bisa merrubah suatu hukum benda dari najis ke suci atau sebaliknya. Beberapa kalangan dari mereka tetap memperhatikan asal bendanya, kalau asalnya najis ya tetap saja najis walau telah berubah wujud dan sifat benda tersebut.

Pendapat Pertama: istihalah merubah hukum status benda.

Artinya, denagn itihalah suatu benda yang najis bisa jadi suci, dan benda yang suci bisa jadi najis. Ini adalah pendapat madzhab Imam Abu Hanifah serta madzhab al-Malikiyah. Dan diikuti oleh madzhab al-Zohiriyah juga Imam Ibnu Taimiyah (al-Bahru ar-Raiq: 1/329, asy-Syarh al-Kabir ma’a Hasyiah ad-Dasuqi: 1/51)

Argument yang digunakan kelompok ini di antaranya;

Pertama: Allah swt telah menghukumi terhadap sesuatu dengan sebuah hukum (najis/suci) yang Allah sebutkan namanya di dalam al-Qur’an, jika nama dan hakikat sesuatu itu sudah tidak ada, maka hukumnya pun tidak ada juga. Sebagaimana garam bukanlah lagi tulang atau daging, tanah dan abu bukanlah lagi kotoran dan bangkai, khomr bukanlah cuka, manusia bukanlah darah dan seterusnya. (al-Muhalla: 1/128)

Kedua: Permasalahan ini mirip dengan khomr yang berubah sendiri menjadi cuka, maka cuka tersebut dihukumi suci menurut kesepakatan ulama, dan benda-benda lainnya hukumnya seperti itu juga. Selain itu, bisa diqiyaskan juga dengan kulit bangkai yang disamak, maka dia akan menjadi suci. Kalau pada benda-benda ini status hukumnya berubah, lalu kenapa tidak pada yang lain?

Pendapat inilah yang direkomendasi oleh an-Nadwah at-Tibbiyah al-Fiqhiyah ke-8 yang diselenggarakan oleh Organisasi Islam Untuk Ilmu-ilmu Kedokteran di Kuwait pada tanggal 22-24 / 12/ 1415 H, bertepatan dengan tanggal  22-24/5 1995 M. Disebutkan di dalamnya bahwa: “al-Istihalah adalah perubahan satu benda ke benda lain yang berbeda sifatnya, dan merubah status benda najis menjadi suci,  dan merubah yang haram menjadi mubah secara syar’I. Oleh karena itu, diputuskan bahwa gelatin yang merupakan hasil perubahan tulang hewan najis dan kulitnya adalah suci dan boleh dimakan. Begitu juga, sabun hasil perubahan dari lemak babi atau bangkai hewan menjadi suci dengan al-istihalah dan boleh dipakai. Keju yang dibuat dari bangkai binatang yang halal dagingnya, hukumnya menjadi suci dan boleh dimakan.  Adapun salep, cream, dan lipstick yang mengandung lemak babi adalah najis, tidak boleh dipakai kecuali jika terbukti bahwa lemak tersebut sudah berubah menjadi benda lain.“

Rekomendasi tersebut dikuatkan dengan keputusan an-Nadwah al-Fiqhiyah yang ke -14 yang diselenggarakan oleh Majma’ al- Fiqh al-Islami India di kota Haidar Abad pada tanggal 20-22/6/2004. Walaupun begitu, dikarenakan para pakar masih berbeda pendapat tentang gelatin ini, maka an-Nadwah menganjurkan untuk tidak menggunakan benda-benda yang terbuat dari tulang dan kulit binatang yang diharamkan.

Pendapat Kedua : Al-istahalah tidak bisa merubah sesuatu yang asalnya najis menjadi suci.

Artinya memang sesuatu yang awalnya najis tidak bisa berubah status najisnya dengna istihalah, najis tetap menjadi najis walauupun telah berubah sifat dan wujudnya. Ini adalah pendapat resmi madzhab Imam al-Syafi’i dan juga salah satu riwayat dari Imam Ahmad serta pendapat Imam Ya’qub Abu Yusuf dari kalangan al-hanafiyah.

Asy-Syairazi berkata: “Barang najis tidak bisa menjadi suci dengan proses al-istihalah, kecuali kulit bangkai jika disamak dan khomr …..jika kotoran dan pupuk  terbakar dan berubah menjadi abu, tidaklah menjadi suci.“ (al-Muhadzab : 1/10)
Ibnu Qudamah berkata: “Dhahir (yang tampak –ed) dari al-Madzhab (yaitu madzhab Imam Ahmad) menyatakan bahwa barang najis tidak bisa menjadi suci begitu saja dengan cara al-istihalah. Kecuali, khamr yang berubah sendiri menjadi cuka. Adapun yang lainnya hukumnya tetap najis, seperti benda-benda najis yang terbakar dan menjadi abu, begitu juga babi jika jatuh di tempat pembuatan garam kemudian menjadi garam, dan asap yang berasal dari bahan bakar najis, dan uap beterbangan yang berasal dari air najis, jika berubah menjadi embun pada suatu benda kemudian menetes, maka hukumnya tetap najis. (al- Mughni : 1/ 97)

Kelompok ini hanya melegalkan 2 benda najis yang jadi suci karena berubah (istihalah), yakni;

Kulit bangkai yang disamak (selain kulit najing dan babi)

khamr (najis) yang berubah menjadi cuka (suci), dengan syarat perubahannya secara sendiri tidak ada campur tangan manusia di dalam perubahannya. Kalau ada campur tangan manusia, seperti dicampur cairan atau sejenisnya sehingga berubah menjadi cuka, ia tetap najis.

Akan tetapi madzhab Imam al-Syafi’i punya satu lagi, yaitu darah rusa yang berubah menjadi misik; sejenis minyak wangi.

Argumen

Salah satu yang menjadi argument pendapat ini adalah hadits Anas bin Malik yang direkam oleh Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya yang menyebutkan bahwa Nabi saw pernah ditanya tentang khamr yang dijadikan cuka (maksudnya dengan dicampur sesuatu agar cepat menjadi cuka), kemudian Nabi menjawab: “Tidak Boleh!”.

Maksudnya adalah khamr itu pasti akan menjadi cuka jika dibiarkan, hanya saja proses pembiaran itu memakan waktu 2 – 3 hari. Lalu para sahabat bertanya kepada Nabi bagaimana kalau khamr itu dicampur dengan bahan lain sehingga perubahannya menjadi cuka menjadi lebih cepat, jadi tidak perlu nunggu lama. Tapi Nabi saw melarangnya.
Berarti proses membuat khamr jadi cuka adalah terlarang, dan sesuatu yang terlarang tidak memberikan perubahan status hukum itu sendiri. Seperti daging hewan yang halal kalau mati secara disembelih, akan tetapi kalau matinya bukan disembelih berarti statusnya bangkai dan najis, haram dimakan. Padahal hewan yang disembelih dengan yang tidak disembelih itu sama-sama mati statusnya.

[1] Berubah Sendirinya

Nabi membolehkan jika khamr itu berubah dengan sendirinya namun tidak jika ada campur tangan manusia. Artinya mempercepat perubahannya itu diharamkan. Sama seperti seorang anak yang membunuh ayahnya agar cepat dapat warisan, tentu diharamkan dan ia pun diharamkan pula mendapat warisan. Aslinya ia dapat dan memang ahli waris, tapi karena dipercepat bukan pada waktunya, statusnya menjadi haram.

Ini juga sama pada benda-benda lainnya, kalau berubahnya itu sendiri, itu yang menjadi suci. Tapi kalau berubahnya melalui proses tangan manusia, itu tidak bisa membuat statusnya menjadi suci seperti perumpamaan yang ada di atas. Aslinya memang berubah, hanya karena perubahannya itu tidak alami, itu tidak menjadi suci. (Kifayah al-Akhyar 1/74)
[2] Berubah Menjadi Sesuatu Yang Shalah (Baik)

Selain berubah sendiri, istihalah yang merubah status hukum itu jika perubahannya mengarah kepada sesuatu yang baik, seperti darah yang berubah dan bercampur jadi susu juga daging.

Imam Syarwani mengatakan; “apa yang berubah (istihalah) menjadi sesuatu yang baik seperti susu dari makanan, atau seperti sesuatu yang hidup, atau juga seperti telur, itu hukumnya suci.” (Hasyiah Syarwani ‘ala Tuhfah al-Muhtaj 1/288)
Pendapat inilah yang diambil oleh Lembaga Fatwa di Saudi Arabia yang memutuskan haramnya penggunaan gelatin yang terbuat dari binatang yang haram seperti babi atau dari anggota tubuhnya seperti kulit dan tulangnya. Pendapat yang serupa juga diambil oleh al- Majma’ al- Fiqh li Rabitah al-‘alam al-Islami pada pertemuan yang ke -15 yang diselenggarakan di Mekkah al-Mukaramah pada tanggal 11/7/ 1419.

Wallahu a’lam