Konsultasi

Jual Beli Pulsa Haram Karena Ada Riba, Benarkah?

Mon 13 April 2015 - 06:15 | 894 views
assalamualaikum warohmatullah wabarokatuh
saya masih bingung dengan jual beli pulsa, apakah itu dibolehkan atau bagaimana? karena saya juga pernah dengar bahwa tukar menukar uang itu tidak boleh ada tambahannya, karena itu riba. dalam jual beli pulsa ada penambahan nilai uang itu. Contohna kita beli pulsa 50 ribu, tapi yang kita harus bayar itu 51 atau 52 ribu. Bukankah itu tambahan yang menyebabkan terjadi riba? Mohon penjelasannya, ustadz. syukron

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Salah satu bentuk Riba yang diharamkan dalam syariah ialah "Riba Fadhl" [Riba Penambahan], yaitu Riba yang terjadi karena adanya penambahan nilai pada jenis "pertukaran" atau jual beli barang-barang Ribawi [barang yang termasuk dalam hadits Riba].

Dan "Uang" yang merupakan alat tukar itu termasuk dalam kategori barang Ribawi itu tadi. Jadi kalau mau saling menukar mata uang, haruslah dalam jumlah yang sama, tidak boleh lebih atau kurang. Dan harus "taqoobudh", (bayar Tunai). Tidak boleh menunda. Kalau tukar uang 50.000,- haruslah dengan nilai yang sama yaitu 50.000,- walau dengan pecahan yang berbeda. Nah atas dasar inilah, yang memang mungkin bisa membuat antara jual beli pulsa dengan riba tidak ada bedanya.

secara kasat mata memang beli pulsa itu sepertinya kita membeli "uang". Tapi sejatinya kalau dilihat lebih dalam, ternyata kita tidak membeli "uang", yang beli ialah jasa. Jasa yang memang disediakan oleh Provider seluler kepada pelanggannya untuk digunakan sebagai mestinya, entah menelpon, sms, atau juga internet dan sebagainya.

Istilah kasarnya begini, "kalau mau nomor anda diberi pelayanan, diaktifkan untuk telpon, sms, dan juga internet. Nah kami (provider) punya jasa itu. Beli jasa itu dari kami!", kira-kira begitu kasarnya. Jasa yang ditawarkan itu pun punya kadar dan batasnya. Kalau hanya 20.000,- ya provider akan memberikan jasanya senilai itu saja tidak lebih (beda kalau lagi promo, biasanya banyak bonus).

Dalam kaidah fiqih ketika membicarakan masalah akad jual beli ada kaidah –walaupun kaidah ini diperselisihkan-

العبرة في العقود بالمقاصد والمعاني لا بالألفاظ والمباني

"Yang Jadi Patokan itu ialah Maksud dan maknanya, dan bukan bentuk atau Lafadznya"

Jadi syariat ini dalam masalah muamalat tidak melihat bentuk zahirnya, tapi melihat makna dan maksud dari akad yang dijalankan itu. Secara kasat mata memang itu seperti jual beli "uang", tapi sejatinya itu ialah beli "jasa" bukan beli "uang". Dan memang "Pulsa" bukan "uang".

Bukti nyata kalau "pulsa" itu bukan uang ialah, kita tidak bisa membeli suatu barang di pasar atau di mana pun itu dengan pulsa. Dengan menunjukkan pulsa di handphone kemudian kita bisa membeli barang, kan tidak bisa. Padahal hakikatnya, uang itu ialah alat tukar-menukar. Dan pulsa tidak bisa digunakan untuk itu, maka itu bukan "uang".

Karena ini pembelian jasa, maka nilai yang diberikan ialah boleh sama, boleh lebih, dan boleh juga kurang. Sama seperti membeli barang pada umumnya. Jadi tidak ada prkatek Riba dalam jual beli Pulsa. Dan juga tidak ada yang namanya pembelian ‘barang ghaib’, yang kita beli ialah jasa.

Kalau pun masih mempermasalahkan tentang penambahan uang itu, itu ialah biaya administrasi atau dengan istilah yang lebih akrab ‘Uang capek’ yang memang digunakan sebagi upah pekerjaan si provider itu tadi. Dan tidak ada masalah. 

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Zarkasih, Lc