Konsultasi

Halalkah Serangga Untuk Konsumsi?

Thu 30 April 2015 - 11:20 | 999 views
assalamualaikum warohmatullah
ustadz, saya karena memang tuntutan pekerjaan sering sekali berjalan ke luar daerah yang cukup jauh di Indonesia ini. Nah di beberapa daerah yang saya datangi, beberapa masyarakat di sana bahwa hampir semuanya menjadikan hewan sebangsa serangga untuk konsumsi, dan mereka semua muslim. Buat saya itu aneh, karena memang makanan dalam syariah ini -sesuai yang saya pelajari dari beberapa guru- itu yang halal adalah yang baik, sedangkan serangga itu saya tidak bisa mengatakan itu baik, bahkan cenderung jijik. dan guru-guru agama saya pun tidak ada yang mengatakan bahwa serangga itu halal.

pertanyaan saya, apakah memang ada pendapat di antara ulama madzhab fiqih yang menghalalkan serangga? kalau boleh apa dalilnya? Karena buat saya, sesuatu yang banyak dan masif dilakukan oleh suatu penduduk, pastinya ada guru atau ulama yang mengajarkan itu.
syukran. wassalam

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Serangga diartikan sebagai “Binatang kecil yang kakinya beruas-ruas, bernapas dengan pembuluh napas. Tubuh dan kepalanya berkulit keras (seperti belalang, semut, lebah)”.

Kalau dalam bahasa Arab, serangga disebut dengan istilah al-Hasyarat [الحشرات] atau juga dengan istilah al-Hawamm [الهوام]. Kedua kata tersebut punya arti yang sama, yakni hewan kecil di tanah, ini sebagaimana dijelaskan oleh Fairuz Abadi dalam kamusnya al-Qamus al-Muhith. Dalam al-Mu’jam al-Wasith (hal. 175) dijelaskan:

( الحشرة ) الهامة من هوام الأرض كالخنافس والعقارب

“Hasyarat: Serangga atau Hewan kecil tanah seperti kumbang atau kalajengking.”

Perihal kehalalan hewan jenis (Hasyarat) ini untuk menjadi konsumsi manusia, ulama tidak satu suara; ada yang menghalalkannya, tapi juga dari mereka banyak yang mengharamkanya.

Serangga Haram Dikonsumsi

 Ini adalah pendapat jumhur ulama dari kalangan al-Hanafiyah, al-Syafi’iyyah serta al-Hanabilah. Argumen kelompok ini tentang keharaman Hasyarat adalah karena memang jenis hewan ini masuk dalam kategori hewan yang menjijikan. Serta hewan bangsa ini juga termasuk yang tidak bisa diterima naluri manusia normal untuk dijadikan makanan. Sedangkan kita hanya dihalalkan memakan sesuatu yang baik, dan serangga itu kebalikan dari yang baik.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ

“wahai orang yang beriman, makanlah sesuatu yang baik dari rezeki yang sudah kami berikan” (al-baqarah 172)

{وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمْ الْخَبَائِثَ} [الأعراف: 157]

“dan diharamkan bagi mereka sesuatu yang buruk” (al-a’raf 157)

Namun satu yang dikecualikan dari keharaman serangga adalah Belalang, karena memang pengecualiannya sudah disepakati oleh umat sejagad, melalui hadits Nabi s.a.w.:

أُحِلَّتْ لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ ، فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ : فَالْحُوتُ وَالْجَرَادُ ، وَأَمَّا الدَّمَانِ : فَالْكَبِدُ وَالطِّحَال

Nabi s.a.w. bersabda: “dihalalkan bagi kami 2 bangkai dan 2 darah, 2 bangkai itu; binatang laud an belalang. Sedangkan 2 darah adalah; Jantung dan limpa”. (HR Ahmad dan al-Baihaqi)  

Pandapat ini juga dikuatkan dengan kaidah yang banyak dikemukakan oleh ulama-ulama madzhab bahwa hewan yang tidak punya darah atau punya namun sedikit sekali dan tidak bisa disembelih, maka akan menjadi bangkai, dan bangkai tidak halal untuk dikonsumsi. Ini merupakan kesepatakan. Dan bangkai yang halal hanyalah bangkai binatang laut dan juga belalang.

al-Hanafiyah

Imam al-Sarakhsi (483 H) dari kalangan al-Hanafiyah, dalam kitabnya al-Mabsuth (11/220) mengatakan:

وَالْمُسْتَخْبَثُ حَرَامٌ بِالنَّصِّ لِقَوْلِهِ تَعَالَى: {وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمْ الْخَبَائِثَ} [الأعراف: 157] وَلِهَذَا حَرَّمَ تَنَاوُلَ الْحَشَرَاتِ، فَإِنَّهَا مُسْتَخْبَثَةٌ طَبْعًا، وَإِنَّمَا أُبِيحَ لَنَا أَكْلُ الطَّيِّبَاتِ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ}

“sesuatu yang menjijikan/buruk itu diharamkan dengan nash langsung, {“dan diharamkan bagi mereka sesuatu yang buruk”} (al-a’raf 157), dan karena itu pula, hasyarat menjadi haram untuk dikonsumsi, karena ia termasuk yang buruk dan menjijikan karakternya, dan kita dihalalkan untuk mengkonsumsi yang baik-baik, Allah s.w.t. berfirman: {wahai orang yang beriman, makanlah sesuatu yang baik dari rezeki yang sudah kami berikan} (al-baqarah 172).”

al-Syafi'iyyah

Imam Nawawi (676 H) dalam kitabnya al-Majmu’ (9/15) menyatakan:

(وَأَمَّا) الْحَشَرَاتُ فَكُلُّهَا مُسْتَخْبَثَةٌ وَكُلُّهَا مُحَرَّمَةٌ سِوَى مَا يَدْرُجُ

“adapun Hasyarat (serangga) semuanya itu termasuk yang menjijikan, dan kesemuanya haram (untuk dikonsumsi) kecuali yang terbang.”

Imam al-Syirbini menegaskan dalam kitabnya al-Iqna’ (2/584):

وَلَا تحل الحشرات وَهِي صغَار دَوَاب الأَرْض كخنفساء ودود

“hasyarat (serangga) tidak dihalalkan untuk dikonsumsi, hasyarat ialah hewan kecil tanah seperti kumbang hitam dan ulat atau cacing.”

Serangga Halal Dikonsumsi

Ini adalah pendapat madzhab Imam Malik, yang sejatinya dalam madzhab tersebut terdapat 2 riwayat tentang masalah ini, yakni penghalalan dan pengharamannya, hanya saja riwayat pengharamannya yang dimenangkan dan merupakan riwayat yang sah dari Imam Malik.

Beberapa dalil yang digunakan adalah:

 قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ

(al-An’am 145) Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaKu, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi - karena Sesungguhnya semua itu kotor - atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah”.

Tidak disebutkan di dalamnya bahwa hasyarat juga termasuk yang diharamkan. Kalau saja diharamkan, pastilah disebutkan. Karena kaidah yang terbangun dalam hal kuliner adalah segalanya halal kecuali yang disebutkan keharamannya.

Kemudian, pendapat ini juga didukung dengan salah satu pernyataan sahabat yang disebutkan dalam kitab al-Mu’jam al-kabir yang merupakan kitab hadits karya Imam al-Thabrani:

ملقام بن التلب يحدث عن أبيه قال : صحبت النبي صلى الله عليه و سلم فلم أسمع لحشرات الأرض تحريما

Milqam bin al-Talib meriwayatkan dari ayahnya: “aku menemani rasul s.a.w. (selama hidupku) dan aku tidak pernah mendnegar beliau mengharamkan hasyarat (serangga).” (al-Mu;jam al-kabir no. 1299)

Imam al-Ru’ainiy (954 H) dari kalangan al-Malikiyah dalam kitabnya Mawahib al-Jalil (3/231):

قَالَ فِي التَّوْضِيحِ: هُوَ كَقَوْلِهِ فِي الْمُدَوَّنَةِ، وَلَا بَأْسَ بِأَكْلِ خَشَاشِ الْأَرْضِ، وَهَوَامِّهَا، وَذَكَاةُ ذَلِكَ كَذَكَاةِ الْجَرَادِ

“(Imam al-Khalil) mengatakan dalam kitabnya al-Taudhih: itu (kehalalan serangga) sebagaimana pernyataan (Imam Malik) dalam al-Mudawwanah, dan tidak mengapa mengkonsumsi serangga tanah, serta binatang kecilnya, dan sembelihnya, seperti menyembelih belalang”.

Ini menjadi tambahan informasi bahwa kehalalan serangga itu harus didahului dengna menyembelihnya, dan menyembelih serangga sama seperti menyembelih belalang. Perlu diketahui bahwa dalam madzhab al-Malikiyah, belalang itu memang halal, tapi memakannya harus didahului dengan sembelih sebelumnya. Dan menyembelihnya dengan mengucapkan kata “Allah” atau “bismillah” ketika memotong kepalanya, baik dengan tangan, pisau atau benda apapun.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Zarkasih, Lc