Konsultasi

Tidak Sah Shalat Sendirian di Belakang Shaff, Benarkah?

Thu 7 May 2015 - 06:55 | 1254 views

Assalamualaikum warohmatullah wabarokatuh

Terkait artikel sebelumnya tentang shalat berjamaah, ada lagi masalah dalam shalat berjamaah yang membuat saya atau mungkin saudara muslim kita yang lain masih kebingungan. Yakni tentang orang yang shalat sendirian di belakang shaff. Yang saya tau dan saya dengar bahwa itu shalat yang tidak sah, karena ada hadits Nabi saw yang melarang itu. Tapi kalau itu terlarang, ini menjadi dilemma, karena situasi seperti itu memang sesuatu yang sulit dihindari. Kalau shalat percuma karena tidak sah, kalau menunggu, akhirnya tidak dapat Jemaah. Jadi pertanyaan saya adalah?

1.   Sebenarnya apakah benar shalat sendirian di belakang shaff itu terlarang dan tidak sah?

2.   Bagaimana masalah ini menurut ulama madzhab fiqih yang muktamad?

3.   Bagaimana tuntunan yang diberikan para ulama jika kita berada pada posisi seperti itu?

Mohon penjelasannya, ustadz. Syukran katsiran.

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sebenarnya jawaban pertanyaan pertama sangat bergantung kepada jawaban pertanyaan kedua. Karena sah atau tidak sahnya shalat orang yang berada sendirian di belakang shaff, tergantung kepada hukumnya itu sendiri. Kalau dihukumi sebagai sesuatu yang haram atau terlarang, maka shalatnya tidak sah. Karena sesuatu yang diharamkan tidak memberikan pengaruh terhadap sahnya suatu amal. Akan tetapi kalau dihukumi tidak dengan keharaman, maka shalatnya sah-sah saja.

1. Shalat Sendirian di Belakang Shaff, Makruh

Ini pendapat jumhur ulama dari al-Hanafiyah, al-Malikiyah dan juga al-Syafi’iyyah. Artinya karena ini hukumnya makruh, maka boleh saja dilakukan hanya saja sebaiknya ditinggalkan. Pada intinya ini boleh dilakukan walaupun dibenci, dan karena boleh dilakukan, artinya shalat orang tersebut sah, sangat sah.

Dalil Jumhur

Pendapat jumhur ini didasarkan pada hadits Nabi s.a.w., yang terekam dalam kitab Shahih al-Bukhari tentang sahabat Abu Bakrah r.a., yang takut ketinggalan Jemaah bersama Nabi s.a.w., namun ketika beliau sampai masjid, ternyata Nabi dan Jemaah sudah dalam keadaan ruku’, ia pun langsung ikut ruku’ juga tapi belum sampai shaff. Akhirnya ia berjalan menuju shaff dalam keadaan ruku’:

عَنْ أَبِي بَكْرَةَ أَنَّهُ انْتَهَى إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ رَاكِعٌ فَرَكَعَ قَبْلَ أَنْ يَصِلَ إِلَى الصَّفِّ فَذَكَرَ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ زَادَكَ اللَّهُ حِرْصًا وَلَا تَعُد

Dari Abu Bakrah r.a., beliau mendapati Nabi s.a.w. dalam keadaan ruku’, ia pun ikut ruku’ namun belum sampai shaff. Kemudian (kejadian itu) diceritakan kepada Nabi s.a.w., lalu beliau mengatakan (kepada Abu Bakrah); ‘Mudah-mudahan Allah membuatmu lebih sigap, dan jangan kau ulangi lagi itu (shalat belum sampai shaff)!’.” (HR. al-Bukhari)

Dalam hadtits ini jelas sekali bahwa Abu Bakrah r.a., melakukan shalat dan beliau sendirian di belakang shaff sahabat, akan tetapi di akhir cerita Nabi s.a.w. sama sekali tidak menyuruh beliau untuk mengulangi shalatnya, justru malah mendoakan agar kedepannya beliau lebih sigap. Kalau seandainya shalat di belakang shaff itu terlarang dan tidak sah, pastilah Nabi s.a.w. tidak akan diam dengan itu.

Ini yang menjadi sandaran jumhur ulama terkait kebolehan shalat di belakang shaff snedirian dan tetap sah. Adapun hadits sahabat Wabishah bin Ma’bad r.a. yang diriwayatkan oleh Imam al-Tirmidzi tentang orang yang diperintah Nabi s.a.w. untuk mengulang shalatnya;

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى رَجُلاً يُصَلِّي خَلْفَ الصَّفِّ ، فَأَمَرَهُ أَنْ يُعِيدَ الصَّلاَةَ

“Nabi s.a.w. melihat orang shalat di belakang shaff sendirian, lalu beliau s.a.w. menyuruhnya mengulang shalat.” (HR. al-Tirmidzi)

Jumhur ulama mengatakan bahwa perintah ulang shalat dalam hadits ini, kalau memang hadits ini shahih, itu diartikan sebagai istihbab atau sebuah kesunahan saja. Ini merupakan metode Jama’ atau mengamalkan antara 2 hadits sekaligus yang bertentangan itu tadi, tanpa harus mengamlakna yang satu tapi membuang yang satu. Kalau memang hadits itu shahih.

Hadits Wabishah Tidak Shahih

Akan tetapi, keshahihan hadits tersebut diselisih dan tidak disepakati. Imam al-Ramli dari kalangan al-Syafi’iyyah menyatakan:

(وَيُكْرَهُ) (وُقُوفُ الْمَأْمُومِ فَرْدًا) عَنْ صَفٍّ مِنْ جِنْسِهِ لِلنَّهْيِ عَنْهُ، وَدَلِيلُ عَدَمِ الْبُطْلَانِ تَرْكُ أَمْرِهِ - عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ - لِفَاعِلِهِ بِالْإِعَادَةِ، وَمَا وَرَدَ فِي رِوَايَةٍ أُخْرَى مِنْ الْأَمْرِ بِهَا مَحْمُولٌ عَلَى الِاسْتِحْبَابِ، لَا سِيَّمَا وَقَدْ اعْتَرَضَ تَحْسِينُ التِّرْمِذِيِّ وَتَصْحِيحُ ابْنِ حِبَّانَ لَهَا بِقَوْلِ ابْنِ عَبْدِ الْبَرِّ إنَّهُ مُضْطَرِبٌ، وَالْبَيْهَقِيِّ إنَّهُ ضَعِيفٌ، وَلِهَذَا قَالَ الشَّافِعِيُّ: لَوْ ثَبَتَ قُلْت بِهِ.

“dimakruhkan seorang makmum berdiri di belakang shaff sendirian, jika jemaahnya semua dari jenis (kelaminnya) karena ada larangan itu. Akan tetapi shalatnya tidak batal, dalilnya Nabi s.a.w. tidak memerintahkan kepada pelakunya untuk mengulang. Adapun riwayat lain yang memerintahkan mengulang shalat, perintah itu diartikan sebagai istihbab bukan kewajiban, apalagi dihasankannya hadits ini oleh tirmidzi dan dishahihkan oleh Ibn Hibban diselisih oleh perkataan Ibn Abdil-Barr bahwa hadits itu mudhtharib (tidak kuat sanadnya), al-Baihaqi menghukumi itu dhaif. Karena itu Imam al-Syafi’i mengatakan: ‘kalau seandainya itu shahih, pasti aku fatwakan’.” (Imam al-Ramliy dalam Nihayah al-Muhtaj 2/196)

Tidak Makruh Kalau Tidak Ada Tempat Lagi

Ulama pada kelompok ini, yang memkruhkan berdiri di belakang shaff sendiri menyatakan bahwa kemakruhan itu tidak mutlak, akan tetapi makruhnya hanya bagi mereka yang masih mendapati celah di depannya utnuk diisi namun tidak. jadi kalau memang sudah tidak ada tempat lagi, tidak ada kemakruhan bagi mereka yang berdiri sendirian di belakang shaff.

Imam al-Kasani dari kalangan al-Hanafiyah dalam Bada’i al-Shana’i (1/218) menyebutkan:

ثُمَّ الصَّلَاةُ مُنْفَرِدًا خَلْفَ الصَّفِّ إنَّمَا تُكْرَهُ إذَا وَجَدَ فُرْجَةً فِي الصَّفِّ فَأَمَّا إذَا لَمْ يَجِدْ فَلَا تُكْرَهُ

“shalat sendirian di belakang shaff, itu dimakruhkan jika memang ia mendapatkan celah di shaff di depannya. Adapun jika ia tidak dapat celah, maka tidak dimakruhkan”

Begitu juga Imam al-Dardir dari kalangan al-Malikiyah menyebutkan dalam kitabnya al-Syarhu al-Kabir (1/334)

(وَ) جَازَ (صَلَاةُ مُنْفَرِدٍ خَلْفَ صَفٍّ) إنْ تَعَسَّرَ عَلَيْهِ الدُّخُولُ فِيهِ وَإِلَّا كُرِهَ وَيَحْصُلُ لَهُ فَضْلُ الْجَمَاعَةِ مُطْلَقًا

“Dibolehkan shalat di belakang shaff sendirian kalau memang sulit untuk masuk ke shaff di depannya, kalau tidak demikian (artinya maish ada celah) maka itu dimakruhkan. Dan ia tetap dapat pahal jamaah secara mutlak”.

2. Shalat di Belakang Shaff Tidak Sah

Ini pendapat resmi madzhab Imam Ahmad bin Hanbal bahwa shalat sendirian di belakang shaff itu haram, dan shalat yang dilakukan tidak sah. Yang menjadi sandaran pendapat ini adalah hadits Wabishah bin Ma’bad yang didhaifkan oleh jumhur, akan tetapi dishahihkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal.

Selain hadits Wabishah, ada juga hadits lain yang menjadi sandaran, yakni hadits sahabat Ali bin Syaiban r.a. yang diriwayatkan oleh Ima Ibnu Majah yang bercerita bahwa ada salah seorang yang shalat sendirian di belakang shaff, lalu Nabi s.a.w. berkata kepadanya setelah shalatnya selesai:

اسْتَقْبِلْ صَلَاتَك، وَلَا صَلَاةَ لِفَرْدٍ خَلْفَ الصَّفِّ

“Ulangi shalatmu! Tidak sah shalatnya orang yang berdiri sendirian di belakang shaff.” (HR Ibnu Majah)

Terkait hadits Abu bakrah r.a., Imam Ibnu Qudamah menyatakan bahwa itu memang sebuah larangan, karena itu Nabi memerintahkannya untuk tidak mengulangi shalat di belakang shaff, berarti itu larangan. Beliau mengatakan dalam al-Mughni 2/155:

وَالنَّهْيُ يَقْتَضِي الْفَسَادَ، وَعُذْرُهُ فِيمَا فَعَلَهُ لِجَهْلِهِ بِتَحْرِيمِهِ، وَلِلْجَهْلِ تَأْثِيرٌ فِي الْعَفْوِ

“Larangan tersebut (shalat di belakang shaff kepada Abu Bakrah) berarti kerusakan (batal), dan Rasul memberika udzur karena ia tidak tahu bahwa itu haram, dan ketidahtahuan punya pengaruh utnuk dimaafkan.”

Kalau Sudah Tidak Ada Celah, Bagaimana?

Dalam pandangan jumhur selain madzhab Imam Ahmad bin Hanbal, masalah ini menjadi tidak masalah. Kalau memang ada yang datang lalu tidak ada tempat lagi baginya kecuali harus berdiri sendiri di belakang shaff, shalatnya tetap sah, bahkan kemakruhannya hilang karena memang tidak ada tempat lagi. Yang makruh ialah jika ada tempat kosong tapi malah berdiri di belakang sendirian.

Menajdi masalah ketika ada seorang hanbaliy (pengikut madzhab Hanbali) yang harus berdiri sendirian di belakang shaff. Berikut tuntunan yang diberikan oleh Imam al-Buhuti dari al-hanabilah dalam kitabnya Kasysyaf al-Qina’ (1/490):

( فَإِنْ لَمْ يَجِدْ ) مَوْضِعًا فِي الصَّفِّ يَقِفُ فِيهِ ( وَقَفَ عَنْ يَمِينِ الإِمَامِ إنْ أَمْكَنَهُ ) ذَلِكَ ; لأَنَّهُ مَوْقِفُ الْوَاحِدِ ( فَإِنْ لَمْ يُمْكِنْهُ ) الْوُقُوفُ عَنْ يَمِينِ الإِمَامِ ( فَلَهُ أَنْ يُنَبِّهَ بِكَلامٍ أَوْ بِنَحْنَحَةٍ أَوْ إشَارَةٍ مَنْ يَقُومُ مَعَهُ ) لِمَا فِي ذَلِكَ مِنْ اجْتِنَابِ الْفَذِّيَّةِ ( وَيَتْبَعُهُ ) مَنْ يُنَبِّهُهُ , وَظَاهِرُهُ وُجُوبًا ; لأَنَّهُ مِنْ بَابِ مَا لا يَتِمُّ الْوَاجِبُ إلا بِهِ

“kalau tidak mendapatkan tempat untuk ia shalat, maka ia berdiri di samping kanan imam, karena itu memang tempat makmum jika seorang, itupun kalau memang mungkin. Kalau tidak mungkin berdiri di samping kanan imam, maka ia boleh memberi isyarat dengan kata-kata kepada orang yang di depannya atau berdehem, agar ia mau mundur, itu dilakukan untuk menghindari shalat sendirian di belakang. Dan yang diberi isyarat mundur mengikuti itu (mestinya). Dan itu zahirnya adalah sesuatu yang wajib dilakukan; karena itu termasuk dalam kaidah melengkapi kewajiban, maka sesuatu yang menjadi pelengkap yang wajib itu juga wajib hukumnya”.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Zarkasih, Lc