Konsultasi

Meninggalkan Shalat Berjamaah Berdosa, Benarkah?

Fri 8 May 2015 - 09:28 | 2209 views

Assalamualaikum warohmatullah wabarokatuh

Ustadz, mumpung beberapa hari ini, kampussyariah dot com membahas shalat berjamaah, ada sa;ah satu hadits Nabi saw yang saya ingin tanyakan. Yaitu hadits tentang berdosanya orang muslim yang meninggalkan shalat berjamaah, karena nabi dalam hadits itu mengancam untuk membakar rumah orang yang meninggalkan berjamaah.

وَاَلَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِحَطَبٍ فَيُحْطَبَ ثُمَّ آمُرَ بِالصَّلاَةِ فَيُؤَذَّنُ لَهَا ثُمَّ آمُرَ رَجُلاً فَيَؤُمَّ النَّاسَ ثُمَّ أُخَالِفَ إِلَى رِجَالٍ لاَ يَشْهَدُونَ الصَّلاَةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,'Sungguh aku punya keinginan untuk memerintahkan shalat dan didirikan, lalu aku memerintahkan satu orang untuk jadi imam. Kemudian pergi bersamaku dengan beberapa orang membawa seikat kayu bakar menuju ke suatu kaum yang tidak ikut menghadiri shalat dan aku bakar rumah-rumah mereka dengan api". (HR. Bukhari dan Muslim)

Kalau melihat hadits ini yang di dalamnya berisi ancaman, berarti meninggalkan shalat berjamaah itu termasuk sebuah keharaman, karena ada ancaman dari Nabi untuk itu. Tapi nyatanya yang saya lihat di lapangan, di masyarakat itu banyak sekali yang meninggalkan shalat berjamaah, mereka sering berdalih kalau berjamaah itu hukumnya bukan wajib. Malah banyak juga ustadz-ustadz bahkan kiyai yang tidak shalat berjamaah. Padahal haditsnya ini shahih, bukhari dan muslim pula? Apa mereka tidak tahu hadits ini?

Bagaimana menjelaskan hadits ini ustadz? Kandungan hukumnya wajib, tapi kok banyak yang mengatakan shalat jemaah itu sunnah. Mohon penjelasannya. Syukran.

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sejatinya memang hadits itu berisi ancaman bagi mereka yang meninggalkan shalat berjamaah, perlu diperhatikan hukum ini khusus laki-laki bukan wanita; karena mereka punya hukum berbeda dalam hal shalat berjamaah.

Ya karena memang isinya adalah ancaman bagi yang meninggalkan jemaah, berarti meninggalkan jemaah itu hukumnya haram. Yang itu berarti shalat berjamaah hukumnya wajib. Dan memang hadits ini yang dipakai oleh madzhab al-Hanabilah yang secara resmi menetapkan bahwa shalat berjamaah 5 waktu itu hukumnya wajib atau fardhu ’ain. Jadi kalau ada muslim yang shalat 5 waktu tidak berjamaah di masjid, ia berdosa karena meninggalkan shalat berjamaah namun shalatnya tetap sah dan gugur kewajibannya.

Tapi sayangnya, pendapat tentang wajibnya shalat berjamaah atau shalat berjamaah itu fardhu ’ain itu tidak disepakati. Ulama madzhab lain menghukumi shalat berjamaah tidak dengan fardhu ’ain, itu hanya pandangan madzhab Imam Ahmad bin Hanbal. Mereka bukan tidak tahu hadits ini, justru mereka sangat paham sekali hadits yang antum sebutkan di atas. Nah maka itu, untuk lebih fair dan lebih jelas, baiknya kita simak pendapat ulama madzhab tentang shalat berjamaah itu sendiri.

1. Shalat Berjamaah Hukumnya Fardhu ’Ain

Ini adalah resminya pendapat Imam Ahmad bin Hanbal. Selain karena hadits di atas, madzhab ini juga bersandar dengan ayat al-Qur’an dan beberapa haidts lain, di antaranya:

وَإِذَا كُنْتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلاَةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ مَعَكَ

”dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, Maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu”. (an-Nisa 102)

Ayat ini turun ketika Nabi s.a.w. dalam keadaan perang bersama para sahabat. Kalau dalam keadaan perang yang mana itu adalah keadaan yang tidak normal, diwajibkan di situ berjamaah, maka kewajiban berjamaah akan jauh lebih layak pada keadaan normal.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ t قَال : أَتَى النَّبِيَّ r رَجُلٌ أَعْمَى  فَقَال : يَا رَسُول اللَّهِ إِنَّهُ لَيْسَ لِي قَائِدٌ يَقُودُنِي إِلَى الْمَسْجِدِ فَسَأَل رَسُول اللَّهِ r أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فَيُصَلِّي فِي بَيْتِهِ فَرَخَّصَ لَهُ فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ فَقَال : هَل تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلاَةِ ؟ قَال : نَعَمْ قَال : فَأَجِبْ

Dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah SAW didatangi oleh seorang laki-laki yang buta dan berkata,"Ya Rasulullah, tidak ada orang yang menuntunku ke masjid. Rasulullah SAW berkata untuk memberikan keringanan untuknya. Ketika sudah berlalu, Rasulullah SAW memanggilnya dan bertanya,'Apakah kamu dengar adzan shalat?'. 'Ya', jawabnya. 'Datangilah', kata Rasulullah SAW. (HR. Muslim)

Ini juga hadits yang dijadikan dalil oleh madzhab al-hanabilah tentang kewajiban shalat berjamaah untuk shalat fardhu 5 waktu. (Kasysysaf al-Qina’ 1/454)

2. Shalat Berjamaah Hukumnya Fardhu Kifayah

Yang mengatakan hal ini adalah Al-Imam Asy-Syafi'i dan Abu Hanifah. Demikian juga dengan jumhur (mayoritas) ulama baik yang lampau (mutaqaddimin) maupun yang berikutnya (mutaakhkhirin). Termasuk juga pendapat kebanyakan ulama dari kalangan mazhab Al-Hanafiyah dan Al-Malikiyah.

Dikatakan sebagai fardhu kifayah maksudnya adalah bila sudah ada yang menjalankannya, maka gugurlah kewajiban yang lain untuk melakukannya. Sebaliknya, bila tidak ada satu pun yang menjalankan shalat jamaah, maka berdosalah semua orang yang ada disitu. Hal itu karena shalat jamaah itu adalah bagian dari syiar agama Islam. Dalil yang dipakai di antaranya:

مَا مِنْ ثَلاَثَةٍ فِي قَرْيَةٍ وَلاَ بَدْوٍ لاَ تُقَامُ فِيهِمُ الصَّلاَةُ إِلاَّ قَدِ اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ  فَعَلَيْكَ بِالْجَمَاعَةِ فَإِنَّمَا يَأْكُل الذِّئْبُ الْقَاصِيَةَ

Dari Abi Darda' radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Tidaklah 3 orang yang tinggal di suatu kampung atau pelosok tapi tidak melakukan shalat jamaah, kecuali syetan telah menguasai mereka. Hendaklah kalian berjamaah, sebab srigala itu memakan domba yang lepas dari kawanannya". (HR Abu Daud dan Nasai)

ارجعوا إلى أَهْلِيكُمْ فكونوا فيهم وَعَلِّمُوهُمْ وَمُرُوهُمْ وَصَلُّوا كما رَأَيْتُمُونِى أصلى فإذا حضرتِ الصلاةُ فَلْيُؤَذِّنْ لكم أحدُكم وَلْيَؤُمَّكُمْ أكبرُكم

Dari Malik bin Al-Huwairits bahwa Rasulullah SAW,'Kembalilah kalian kepada keluarga kalian dan tinggallah bersama mereka, ajarilah mereka shalat dan perintahkan mereka melakukannya. Bila waktu shalat tiba, maka hendaklah salah seorang kalian melantunkan adzan dan yang paling tua menjadi imam.(HR. Muslim)

Imam Nawawi dalam al-Majmu’ (4/189) mengatakan:

في مذاهب العلماء في حكم الجماعة في الصلوات الخمس قد ذكرنا ان مذهبنا الصحيح انها فرض كفاية

”Pandapat-pendapat ulama dalam hal shalat berjamaah 5 waktu, kami sudah sebutkan dan pendapat resmi yang shahih dari madzhab kami adalah fardhu kifayah.”  

3. Shalat Berjamaah Hukumnya Sunnah Muakkadah

Pendapat ini didukung oleh mazhab Al-Hanafiyah dan Al-Malikiyah. Sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibnu al-Humam dalam kitabnya fathul-Qadir dalam fiqih madzhab al-Hanafiyah (1/300).   

Imam Ahmad al-dardir dari al-Malikiyah menyebutkan dalam kitabnya al-Syarhu al-Kabir yang di bawahnya ada hasiyah al-Dusuqi (1/319):

( الْجَمَاعَةُ ) أَيْ فِعْلُ الصَّلاةِ جَمَاعَةً أَيْ بِإِمَامٍ وَمَأْمُومٍ ( بِفَرْضٍ ) وَلَوْ فَائِتَةً ( غَيْرَ جُمُعَةٍ ) ( سُنَّةٌ ) مُؤَكَّدَةٌ

”Berjamaah, atau melaksanakan shalat secara berjamaah dengan imam dan makmum pada shalat fardhu walaupun sudah lewat waktunya dan bukan pada shalat jumat hukumnya adalah sunnah muakkadah.”

di antara dalil yang dipakai adalah:

صَلاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ عَلَى صَلاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah SAW bersabda,'Shalat berjamaah itu lebih utama dari shalat sendirian dengan 27 derajat. (HR. Muslim)

Dalam hadits ini disebutkan bahwa shalat berjamaah itu lebih afdhal sebanyak 27 kali lipat. Ulama  madzhab ini mengatakan kalau seandainya shalat sendiri itu terlarang dan berjamaah itu wajib, pastinya Nabi s.a.w. tidak akan memberikan 1 bagi shalat sendiri, tapi nol artinya tidak bermakna. Diberikannya 1 bagi shalat sendiri itu bukti bahwa shalat berjamaah itu sunnah muakkadah lebih baik dari shalat sendiri. Tapi tidak berarti shalat sendiri berdosa.

Hadits Ancaman Meninggalkan Jamaah

Terkait hadits yang mengancam bahwa Nabi s.a.w., ingin membakar rumah mereka yang meninggalkan jemaah, ini dijawab oleh Imam Nawawi dalam kitabnya al-Majmu’ (4/192):

جواب الشافعي وغيره أن هذا ورد في قوم منافقين يتخلفون عن الجماعة ولا يصلون فرادى وسياق الحديث يؤيد هذا التأويل وقوله في حديث ابن مسعود رأيتنا وما يتخلف عنها الا منافق صريح في هذا التأويل (والثاني) أنه صلي الله عليه وسلم قال لقد هممت ولم يحرقهم ولو كان واجبا لما تركه

”jawaban Imam al-Syafi’i dan yang lainnya, bahwa hadits ini (ancaman baka rumah) adalah hadits yang ditujukan kepada orang munafiq yang meninggalkan jemaah dan mereka juga tidak shalat walaupun snediri-sendiri. Dan teks haditsnya mendukung jawabannya ini, serta di dukung dengan hadits Ibn Mas’ud (yang menyatakan) ’tidaklah meninggalkan shalat itu kecuali orang munafiq’[1]. Kedua: Nabi s.a.w. mengatakan ingin membakar akan tetapi tidak membakar, kalau seandainya itu wajib pastilah Nabi membakar bukan hanya ingin, karena nabi tidak mungkin diam atas maksiat.”

Dan terkait hadits orang buta yang tidak diberikan rukhsha atau keringan oleh Nabi untuk tidak shalat jemaah, dijawab juga oleh Imam Nawawi dalam kitab yang sama dan halaman yang sama:

واما حديث الاعمي فجوابه ما أجاب به الائمة الحفاظ الفقهاء أبو بكر محمد بن اسحق بن خزيمة والحاكم وابو عبد الله والبيهقي قالوا لا دلالة فيه لكونها فرض عين لان النبي صلي الله عليه وسلم رخص لعتاب حين شكا بصره ان يصلى في بيته وحديثه في الصحيحين قالوا وانما معناه لا رخصة لك تلحقك بفضيلة من حضرها

”Adapun hadits orang buta, jawabannya sebagaimana dijawab oleh para ulama hadits dan juga para ulama fiqih; Imam Ibnu Khuzaimah, Imam al-Hakim, dan Imam al-Baihaqi, mereka mengatakan bahwa dalam hadits itu tidak ada indikasi bahwa shalat berjamaah itu hukumnya fardhu ’ain, karena Nabi s.a.w. memberikan keringanan bagi ’Itab yang juga mengadu tentang matanya (yang buta) dan meminta untuk shalat di rumah dan haditsnya ada pada shahihain (Imam al-Bukhari dan Imam Muslim). Mereka juga mengatakan bahwa makna hadits buta itu adalah ’tidak ada keringanan bagi kamu mendapatkan fadhilah seperti yang didapat oleh yang hadir berjamaah’.”

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Zarkasih, Lc



[1] hadits riwayat Abu Daud, Kitab Shalat, Bab al-Tasydid fi tarki al-Jama’ah