Konsultasi

Apakah Syubhat Itu Berarti Haram?

Wed 20 May 2015 - 10:30 | 1374 views
assalamualaikum warohmatullah wabarokatuh
mohon maaf ustadz sebelumnya dengan pertanyaan ini, saya ingin meminta penjelasan tentang hukum syubhat. Banyak orang yang menganggap bahwa syubhat itu ya berarti haram, termasuk saya menganggap seperti itu. artinya syubhat itu termasuk sesuatu yang tidak boleh dikerjakan, dan yang mengerjakan itu berarti ia mengerjakan sesuatu yang haram, artrinya ia berdosa. hanya saja belakangan saya merasa pemahaman bahwa syubhat itu haram mesti dikoreksi, soalnya dalam haditsnya, Nabi itu membagi sesuatu menjadi halal, haram, dan syubhat. artinya kalau syubhat itu adalah haram mestinya tidak dibagi 3. akan tetapi di hadits yang sama justru disebutkan bahwa jatuh kepada syubhat sama saja jatuh kepada keharaman. ini yang membuat saya bingung. mohon penjelasannya pak ustadz Ahmad. syukran

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ya, wajar kalau ada memahami bahwa syubhat itu artinya haram dengan potongan hadits Nabi SAW berikut ini :

وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ

“siapa yang melakukan perkara syubhat berarti ia melakukan perkara haram” (HR Bukhari dan Muslim)

Secara tekstual saja memang maknanya ya begitu, bahwa yang namanya syubhat itu berarti sama saja dengan haram. Oleh karena itu siapa saja yang melakukan sesuatu yang hukumnya masih syubhat, berarti melakukan yang haram dan karena itu pasti berdosa. Padahal kalau kita teliti sebenarnya maksud haditsnya tidak seperti yang antum duga.

Mari kita buka matan haditsnya yang beliau kutip itu secara lengkap.

إنَّ الْحَلالَ بيِّن وإنَّ الْحَرَامَ بَيِّن وبينهما أمور مُشْتَبهاتٌ لا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ الناس فَمَنِ اتَقى الشبهات استبرأ لِدِينهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِي الشبهَاتِ وَقَعَ في الْحَرام كَالرَّاعي يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أنْ يَرْتَعَ فِيهِ.

"Sesungguhnya yang halal itu telah jelas dan yang haram pun telah jelas pula. Sedangkan di antaranya ada perkara yang samara-samar yang kebanyakan manusia tidak mengetahui (hukum) nya. Siapa yang menghindari perkara samara-samar, maka ia telah membersihkan agama dan kehormatannya. Siapa yang jatuh ke dalam perkara yang samar-samar maka ia telah jatuh ke dalam perkara yang haram. Ibarat penggembala yang berada di dekat pagar larangan (milik orang lain) dan dikhawatirkan ia akan masuk ke dalamnya.

Pembagian Hukum : Halal, Haram dan Syubhat

Dalam hadits ini, secara jelas Nabi SAW menerangkan bahwa suatu perkara itu ada 3 jenisnya, yaitu halal, haram dan syubhat. Yang halal jelas karena memang berdasarkan dalil-dalil yang menunjukkan bahwa perkara ini benar-benar halal dan sulit dibantah kehalalannya, seperti makan, minum, berjalan, tidur dan sebagainya.

Ada juga perkara yang haram karena memang jelas dalil keharamannya dan sulit sekali bahkan tidak bisa dibantah, seperti keharaman mencuri, berzina, riba, minum khomr dan sebagainya.

Dan jenis ketiga yaitu syubhat, yaitu perkara yang memang masih dalam ranah ketidak-jelasan antara halal atau haram. Tidak bisa dikatakan halal, karena berbau haram. Namun tidak bisa juga disebut haram, karena ketidakjelasan atau tidak ditemukan dalil pengharamannya.

Sampai sini jelas bahwa sesungguhnya hukum syubhat itu bukanlah perkara haram itu sendiri. Kalau memang itu haram, lalu buat apa Nabi SAW membaginya menjadi 3 jenis? Kenapa Nabi SAW tidak langsung saja mengatakan bahwa “..Syubhat itu bagian dari haram..”.

Dan pembagian Nabi SAW atas perkara itu menunjukkan bahwa setiap bagian itu tidaklah sama dengan bagian yang lain. Pembagian itu mengindikasikan perbedaan masing-masing bagian.

Syubhat itu Relatif

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah ketika menjelaskan hadits ini dalam kitabnya Syarhun-Nawawi Li-Muslim, mengatakan bahwa perkara syubhat itu ialah perkara yang relatif. Bisa jadi hukum syubhat berlaku hanya untuk orang tertentu, namun bisa jadi hukumnya amat jelas dan tidak syubhat bagi orang lain.

Dalam teks hadits juga disebutkan

لا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ الناس

Sedangkan di antaranya ada perkara yang samar-samar yang kebanyakan manusia tidak mengetahui (hukum) nya….”

Teks hadits tersebut menurut Imam Nawawi mengisyaratkan bahwa perkara syubhat itu untuk orang awam yang memang tidak mengetahui hukum agama. Sedangkan di mata para fuqaha dan ulama yang ilmunya mendalam, pada hakiatnya perkara yang hukumnya syubhat itu malahnyaris tidak ada.

Kenapa?

Karena yang namanya ulama sudah pasti punya ilmu yang mendalam dan sangat mengetahui bagaimana cara mengambil sebuah kesimpulan hukum pada sesuatu yang memang tidak ada nash secara langsung. Para ulama bisa menggunakan metode Qiyas, Istishhab atau sumber hukum lainnya. Jadi perkara yang buat orang awam jatuhnya syubhat , bagi orang alim menjadi tidak syubhat alias tidak ada samar-samar lagi. Hal itu semata-mata karena kedalaman ilmu agama yang mereka kuasai. (Syarhun-Nawawi Li-Muslim 11/27)

Ini berarti bahwa perkara syubhat itu hanya perkara subjektif yang bisa saja hilang. Seseorang ketika baru saja berhadapan dengan sebuah perkara yang samar-samar dan ia tidak tahu apa hukumnya, ini menjadi syubhat. Tapi ketika ia mulai belajar atau meminta petunjuk dari seorang ulama atas hukum perkara tersebut, yang awalnya samar-samar menjadi tidak rancu lagi dan hilang ke-syubhat-annya karena ia telah mengetahui hukumnya, entah itu jadi yang haram atau jadi yang halal. Jadi memang Syubhat itu tidak baku dan bisa hilang.

Benarkah Orang Yang Melakukan Syubhat = Melakukan Keharaman

Lalu kalau memang demikian, lantas bagaimana kita memahami potongan hadits berikut :

وَمَنْ وَقَعَ فِي الشبهَاتِ وَقَعَ في الْحَرام

Siapa yang melakukan perkara syubhat berarti ia melakukan perkara haram.

Secara harfiyah memang orang bisa saja keliru memahami potongan teks ini. Namun mari kita telaah penjelasan dari Imam Nawawi; Menurut beliau, potongan teks ini mempunyai 2 makna :

Makna Pertama: seseorang melakukan perbuatan yang hukumnya syubhat secara terus menerus, walaupun dia tidak tahu hukumnya. Ini yang jadi haram.

 Makna Kedua: seseorang yang terbiasa menggampangkan dalam melakukan sesuatu yang statusnya syuhbat, akhirnya ia terbiasa melakukan. Kalau sudah terbiasa melakukan yang syubhat, ia akan terus melakukan syubha-syubhat yang lain.  Dan sifatnya yang menggampangkan ini, membuat setan lebih mudah untuk menggodanya dan akhirnya ia juga akan terbiasa melakukan yang haram tanpa ada rasa bersalah dan malu. Karena sudah berani melakukan yang syubhat, yang harampun menjadi biasa dan tidak risih lagi untuk melakukannya. (Syarhun-Nawawi Li-Muslim 11/29)

Penjelasan Al-Imam Ash-Shan'ani Dalam Subulus-salam

Al-Imam Ash-Shan’aniy dalam kitabnya Subulus-Salam (4/171) yang merupakan kitab syarah dari kitab hadits Bulughul Maram, juga ikut menjelaskan makna potongan hadits ini juga.

Beliau mengatakan bahwa yang dimaksud dengan pelaku syubhat itu jatuh kepada yang haram adalah orang yang melakukan syubhat biasanya sangat dekat dengan keharaman. Ibaratnya syubhat itu jembatan menuju perkara yang haram, sebagaimana yang dijelaskan dengan teks hadits selanjutnya.

“Seperti penggembala yang berada di dekat pagar larangan (milik orang lain) dan dikhawatirkan ia akan masuk ke dalamnya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan (undang-undang), ingatlah bahwa larangan Allah adalah apa yang diharamkan-Nya.”

Logikanya, kalau sesorang berani melakukan yang syubhat, bukan tidak mungkin dan sangat mungkin sekali ia berani melakukan yang haram. Karena bagaimanapun setan terus saja menggoda manusia dan membuatnya meremehkan sesuatu yang haram sebagaimana ia meremehkan sesuatu yang syubhat.

Meninggalkan Syubhat Melembutkan Hati

Sebenarnya perkara syubhat ini lebih dekat ke perkara hati sebagai benteng iman dalam melakukan segala hal. Seberapa berani kah diri ini melakukan sesuatu yang memang meragukan kehalalannya walaupun tidak ada dalil yang jelas atas keharamannya. Ujung-ujungnya melatih diri untuk lebih berhati-hati dalam bertindak terlebih pada masalah syariah.

Di ujung hadits ini dijelaskan bagaimana kerasnya hati kita jika terus menerus berani melakukan perkara yang samar-samar hukumnya. Dengan terus menerus menahan diri bersikap wara’ dan tidak menenggelamkan diri ke dalam sesuatu yang masih sangat rancu, itu semakin memupuk kekuatan iman dalam diri.

Tentu kita masih ingat bagaimana para ulama salaf sangat takut dengan perkara yang syubhat. Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa Imam Abu Hanifah menolak untuk memakan daging selama beberapa tahun. Alasannya bukan karena takut kolesterol atau darah tinggi, juga bukan karena bokek tidak punya duit buat makan sate. Dan beliau juga tidak pecicilan bikin fatwa haramnya makan daging kambing. Ternyata alasannya sederhana sekali. Beliau tidak makan daging kambing cuma karena tahu bahwa kambing tetangganya hilang. Maka beliau khawatir sekali kalau sampai makan daging dari kambing hilang milik tetangganya itu.

Bagaimana dengan kita?  Sewara' itukah kita saat ini? Tanyakan pada hati nurani kita masing-masing.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Zarkasih, Lc