Konsultasi

Memelihara Anjing, Bolehkah?

Sat 23 May 2015 - 10:12 | 1284 views
Assalamualaikum warohmatullah wabarokatuh
pak ustadz Ahmad yang dirahmati Allah swt, ada yang ingin saya tanyakan yakni soal memelihara anjing bagi keluarga muslim, apakah itu termasuk yang dibolehkan atau terlarang?

saya pernah dengar ada hadits yang mengatakan bahwa memelihara anjing itu membuat orang yang memeliharanya pahalanya berkurang setiap hari. akan tetapi saya juga banyak melihat keluarga muslim yang memiliki anjing, ada yang dijadikan sebagai penjaga rumah atau malah lebih jauh dari itu, dia menjadikannya teman dekat yang ikut tidur bahkan makan bersama,

mohon penjelasannya, dan pendapat masing-masing madzhab fiqih. wassalam

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Kalau membicarakan anjing di lingkungan muslim Indonesia memang agak canggung, mau membolehkan pasti ditentang, kalau kita katakan terlarang juga berarti menyembunyikan ilmu, karena memang beberapa ulama membolehkan, walaupun posisinya minoritas.

1.   Haram Memelihara Anjing

Jadi hukum asal memelihara anjing itu -menurut jumhur ulama selain madzhab al-Malikiyah- terlarang alias tidak boleh kecuali dengan 3 tujuan;

1.   Hirasah al-bayt: Untuk menjaga rumah,

2.   Hirasah al-Harts wa al-An’am: Menjaga ladang dan ternak,

3.   alShiyadah: Berburu.

Selain 3 tujuan ini, tidak diperkenankan. karena memang ada beberapa hadits yang secara tegas dan eksplisit mengharamkan memelihara anjing denagn pengecuali beberapa kondisi yang telah disebutkan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَال : مَنِ اتَّخَذَ كَلْبًا إِلاَّ كَلْبَ مَاشِيَةٍ أَوْ صَيْدٍ أَوْ زَرْعٍ انْتُقِصَ مِنْ أَجْرِهِ كُل يَوْمٍ قِيرَاطٌ .

Dari Abi Hurairah rahiyallahuanhu bahwa Nabi SAW bersabda,"Siapa yang memelihara anjing, kecuali untuk berjaga ternak, berburu atau bertani, akan dikurangi pahalanya setiap hari satu qirath. (HR. Bukhari dan Muslim)

وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَال : مَنِ اقْتَنَى كَلْبًا إِلاَّ كَلْبَ صَيْدٍ أَوْ مَاشِيَةٍ نَقَصَ مِنْ أَجْرِهِ كُل يَوْمٍ قِيرَاطَانِ

Dari Ibnu Umar radhiyallahuanhuma bahwa Nabi SAW,bersabda"Siapa yang memelihara anjing, kecuali untuk berburu dan berjaga ternak, akan dikurangi dari pahalanya tiap hari sebanyak dua qirath. (HR. Muslim).

Ancaman yang ada pada hadits ini menjadi pentunjuk bahwa memelihara anjing itu dikatakan haram, karena ada ancaman pengurangan pahala. Padahal seorang muslim itu diharuskan memperbanyak ibadah, dengan diperliharanya anjing, itu menadi faktor yang mengurangi pahala ibadah.

Bahkan dalam madzhab al-Hanabilah, memelihara anjing untuk menjaga rumah pun termasuk yang terlarang, karena alasan menjaga rumah, tidak termasuk dalam pengecualian 3 (berjaga ternak, ladang, dan berburu) hal yang disebutkan dalam hadits. Imam Ibnu Qudamah mengatakan:

وإن اقتناه لحفظ البيوت لم يجز للخبر ويحتمل الإباحة وهو قول أصحاب الشافعي لأنه في معنى الثلاثة والأول أصح

“memelihara anjing untuk menjaga rumah tidak dibolehkan, da nada pendapat yang membolehkan, yakni ulama-ulama al-Syafiiyah, karena menjaga rumah termasuk dalam makna 3 hal, akan tetapi yang shahih (dalam madzhab kami) adalah yang pertama (yakni terlarang.” (al-Syarhu al-Kabir 4/14)

2.   Makruh Memelihara Anjing

Madzhab al-Malikiyah memandang berbeda. Madzhab ini berpendapat bahwa memelihara anjing walaupun bukan untuk 3 tujuan di atas hukumnya tidak sampai haram, hanya makruh saja. Karena memang teks hadits yang menyebutkan itu tidak mengindikasikan keharaman, akan tetapi hanya sebuah kemakruhan saja.

Imam Ibnu Abdil-Barr, salah seorang ulama besar al-Malikiyah menjelaskan kenapa hadits itu tidak dipahami sebagai keharaman, akan tetapi hanya sebuah kemakruhan yang mana artinya dibolehkan walau tidak dianjurkan:

لِأَنَّ قَوْلَهُ مَنِ اتَّخَذَ كَلْبًا - أَوِ اقْتَنَى كَلْبًا لَا يُغْنِي عَنْهُ زَرْعًا وَلَا ضَرْعًا وَلَا اتَّخَذَهُ لِلصَّيْدِ نَقَصَ مِنْ أَجْرِهِ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَاطٌ يَدُلُّ عَلَى الْإِبَاحَةِ لَا عَلَى التَّحْرِيمِ لِأَنَّ الْمُحَرَّمَاتِ لَا يُقَالُ فِيهَا مَنْ فَعَلَ هَذَا نَقَصَ مِنْ عَمَلِهِ أَوْ مِنْ أَجْرِهِ كَذَا بَلْ يُنْهَى عَنْهُ لِئَلَّا يُوَاقِعَ الْمُطِيعُ شَيْئًا مِنْهَا وَإِنَّمَا يَدُلُّ ذَلِكَ اللَّفْظُ عَلَى الْكَرَاهَةِ لَا عَلَى التَّحْرِيمِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

“karena sabda beliau s.a.w.: siapa yang memelihara anjing tidak untuk berburu dan bertani (jaga tanaman) dikurangi dari pahalanya setiap hari sebanyak qirath, ini menunjukkan kebolehan, dan bukan keharaman. Karena sesuatu yang haram itu tidak bisa ditunjukkan dengan redaksi ‘siapa yang mengerjakan ini akan dikurangi itu’, akan tetapi larangan itu ditunjukkan dengan redaksi larangan langsung agar seorang muslim yang taat tidak terjatuh di dalamnya. Dan lafadz (hadits) itu menunjukkan kemakruhan bukan keharaman. Wallahu a’lam.” (al-Istidzkar 8/494)

Maksudnya seperti ini: kalau itu larangan, mestinya langsung disebutkan dengan redaksi larangan, agara muslim tidak masuk ke dalamnya. Akan tetapi redaksi ‘siapa yang melakukan ini akan mendapatkan ini’, ini redaksi menunjukkan bahwa boleh melakukan itu, akan tetapi dikurangi sekian. Berarti ada kebolehan yang diberikan akan tetapi ada pengurangan. Kalau memang benar haram atau terlarang, tentu syariat ini menutup jalan untuk siapapun masuk ke dalamnya dengan redaksi yang sharih atau jelas dan tidak memberi peluang.

Wajib Dipisahkan dari Rumah

Akan tetapi semua ulama sejagad ini sepakat keharamannya menempatkan anjing di dalam rumah berkeliaran dan bergaul bahkan sampai tidur bersama, nonton televisi bareng dengan pemilik. Jadi bolehnya, dia ditempatkan di tempat yang sekiranya kita terjaga dari najis air liur nya.

Apalagi madzhab al-Syafiiyah, bukan cuma air liurnya, bulunya pun najis. bahkan najis berat yang harus dicuci tujuh kali, salah satunya dengan tanah. selain itu juga karena memang ada hadits yang menceritakan bahwa Jibril menolak masuk rumah Nabi karena kedapatan ada anjing yang masuk entah dari mana. nah dari sini beberapa orang sangat strick sekali bahwa anjing tidak boleh masuk rumah.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Zarkasih, Lc