Konsultasi

Hukum Jual Beli Anjing

Sun 24 May 2015 - 06:18 | 1114 views
assalamalaikum warohmatullah wabarokatuh
membaca artikel tentang boleh dan tidak memelihara anjing di web ini membuat saya menjadi bertanya tentang jual belinya. Karena bagaimanapun bolehnya mengambil manfaat dari anjing -menurut saya- secara otomatis dibolehkan juga jual belinya. Karena tidak mungkin boleh memanfaatkan akan tetapi tidak boleh jual belinya. kalau tidak boleh jual belinya, lalu bagaimana bisa mendapatkan manfaatnya?

jadi pertanyaan saya adalah, bagaimana hukum dengan jual beli anjing menurut ulama 4 madzhab yang muktamad?

lalu bagaimana dengan hadits yang pernah saya dengar bahwa Nabi saw melarang jual beli anjing.

mohon penjelasannya. syukran

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ini yang menarik, bahwa hukum bolehnya memelihara anjing untuk kebutuhan tertentu sebagaimana disebutkan di artikel sebelumnya, tidak sama dengan hukum jual belinya. Ulama fiqih membedakan itu semua. Jumhur ulama mengharamkan, akan tetapi tetap saja ada kalangan ulama yang membolehkan.

1.   Haram Jual Beli Anjing

Jumhur ulama yang di dalamnya madzhab al-Syafi’iyyah, madzhab al-Hanabilah, serta pendapat yang masyhur dari Imam Malik menyatakan bahwa jual beli anjing itu hukumnya haram. Karena haram maka tidak ada konsekuensi syariah di dalamnya. Artinya kepemilikannya tidak sah, dan uang yang didapatkan oleh penjual juga tidak bisa dikatakan sebagai sesuatu yang halal.

Pendapat ini berdasarkan hadits Nabi s.a.w.:

عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ - نَهَى عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَمَهْرِ الْبَغِيِّ وَحُلْوَانِ الكاهن

Dari Abu Mas’ud al-Anshariy, Rasul s.a.w. melarang harga (jual beli) anjing, mahar (upah) pezina dan hadiah (pemberian) dukun. (HR. al-Bukhar dan Muslim)

Dan hadits sejenis yang mengsindikan bahwa jual beli anjing itu terlarang masih banyak lagi. Untuk lebih jelas kita lihat teks-teks dalam kitab masing-masing madzhab dalam kelompok ini:

Madzhab al-Malikiyah

( وَنَهَى ) صلى الله عليه وسلم نَهْيَ تَحْرِيمٍ ( عَنْ بَيْعِ الْكِلابِ ) وَالْمَنْعُ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ إنْ كَانَ غَيْرَ مَأْذُونٍ فِي اتِّخَاذِهِ بِدَلِيلِ ( وَاخْتُلِفَ فِي بَيْعِ مَا أُذِنَ فِي اتِّخَاذِهِ مِنْهَا ) عَلَى ثَلاثَةِ أَقْوَالٍ : الْمَنْعُ وَالْكَرَاهَةُ وَالْجَوَازُ , وَالْمَشْهُورُ مِنْهَا عَنْ مَالِكٍ الْمَنْعُ , وَالْكَرَاهَةُ رَوَاهَا ابْنُ الْقَاسِمِ عَنْ مَالِكٍ أَيْضًا وَلَكِنَّهَا ضَعِيفَةٌ , وَإِنْ نُقِلَتْ عَنْ بَعْضِ الأَصْحَابِ , وَالْجَوَازُ قَوْلُ ابْنِ كِنَانَةَ وَسَحْنُونٍ حَتَّى قَالَ سَحْنُونٌ : أَبِيعُهُ وَأَحُجُّ بِثَمَنِهِ (الفواكه الدواني 2/138)

Nabi s.a.w. melarang jual beli anjing. Dan larangan yang disepakati adalah anjing yang tidak dibolehkan untuk memeliharanya –seperti anjing liar / tidak terlatih-. Sedangkan yang boleh memeliharanya, jual bel anjing tersebut ada 3 pendapat; haram, makruh, boleh. Dan yang masyhur dari Imam Malik adalah Haram… makruh diriwayatkan oleh Ibn al-Qasim dari Imam Malik akan tetapi riwayat ini lemah. Dan boleh dikatakan oleh Ibn Kinanah dan Sahnun, sampai-sampai Sahnun berkata: ‘aku menjual anjing dan hasilnya aku pakai untuk berhaji’. (al-Fawakih al-Diwani 2/138)

Madzhab al-Syafiiyah

ذَكَرْنَا أَنَّ مَذْهَبَنَا أَنَّهُ لَا يَجُوزُ بَيْعُ الْكَلْبِ سَوَاءٌ كَانَ مُعَلَّمًا أَوْ غَيْرَهُ وَسَوَاءٌ كَانَ جِرْوًا أَوْ كَبِيرًا وَلَا قِيمَةَ عَلَى مَنْ أَتْلَفَهُ وَبِهَذَا قَالَ جَمَاهِيرُ العلماء (المجموع 9/228)

Kami telah sebutkan bahwa pendapat madzhab kami adalah terlarang atau haram jual beli anjing, terlatih atau tidak terlatih, atau juga anjing jenis lainnya, baik itu anak anjing (kecil dan bisa dilatih) atau yang sudah dewasa. Dan tidak ada tanggungan bagi yang mencederainya. Dan inilah pendapat jumhur ulama. (al-Majmu’ 9/228)

Madzhab al-Hanabilah

( وَبَيْعُ الْكَلْبِ بَاطِلٌ , وَإِنْ كَانَ مُعَلَّمًا ) لا يَخْتَلِفُ الْمَذْهَبُ فِي أَنَّ بَيْعَ الْكَلْبِ بَاطِلٌ , أَيَّ كَلْبٍ كَانَ (المغني 4/189)

Dan jual beli anjing itu bathil (haram) walaupun terlatih. Tidak ada perbedaan pendapat dalam madzhab ini bahwa jual beli anjing itu bathil (haram), apapun anjingnya. (al-Mughni 4/189)

2.   Boleh Jual Beli Anjing

Berbeda dengan pandangan madzhab al-Hanafiyah dan beberapa ulama al-Malikiyah seperti Sahnun, bahwa jual beli anjing itu termasuk jual beli yang dibolehkan. Kenapa dibolehkan?

Karena syarat jual beli itu –yang disepakati- adalah barang dagangannya itu bermanfaat, dan kemanfaatannya halal. Anjing adalah hewan yang oleh syariah dibolehkan mengambil manfaat darinya; seperti berjaga, rumah atau ladang dan ternak, serta berguna untuk berburu. Dan manfaat ini semua adalah manfaat-manfaat yang diizinkan oleh syariat sendiri dalam teks-teks syariah yang sharih. Dan manfaat ini tidak bisa didapatkan kecuali kalau kita memiliki hewan ini, dan salah satu kepemilikannya adalah dengan jual beli. Karena itu jual beli anjing dibolehkan tentu jika tujuannya adalah untuk yang dibolehkan.  

Imam al-Kasani dalam Bada’i al-Shana’i (5/142) menjelaskan:

لأَنَّ الْبَيْعَ إذَا صَادَفَ مَحَلا مُنْتَفَعًا بِهِ حَقِيقَةً مُبَاحَ الانْتِفَاعُ بِهِ عَلَى الإِطْلاقِ مَسَّتْ الْحَاجَةُ إلَى شَرْعِهِ ; لأَنَّ شَرْعَهُ يَقَعُ سَبَبًا , وَوَسِيلَةً لِلاخْتِصَاصِ الْقَاطِعِ لِلْمُنَازَعَةِ

“Karena jika jual beli itu terjadi pada barang yang punya manfaat dan manfaatnya itu dibolehkan (mubah) itu berarti ada kebutuhan untuk dibolehkannya jual beli. Karena bolehnya jual beli itu mnejadi sebab (untuk manfaat itu) dan menjadi wasilah khusus yang meutuskan perselisihan (tentang haram atau bolehnya jual beli anjing)”

Beliau (imam al-Kasani) juga menjelaskan bahwa hadits tentang larangan jual beli anjing itu terjadi di awal Islam, sedangkan bolehnya mengambil manfaat dari anjing terjadi setelahnya. Artinya jual belinya itu dibolehkan selama anjing itu memang digunakan untuk manfaat yang dibolehkan oleh syariat ini.

Kesimpulan

Jadi memang dalam masalah jual beli, ada perbedaan pendapat mengenai boleh dan tidaknya jual beli menurut syariat ini. jadi bisa dilihat siapa pembeli dan apa motivasinya? kalau diharamkan secara mutlak tentu itu memberatkan beberapa pihak yang memang membutuhkan anjing seperti petugas keamanan atau memang orang-orang yang berkewajiban dalam urusan keamanan negeri ini, untuk kemudian dilatih dan dijadikan asisten dalam proses pengamanan negeri ini.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Zarkasih, Lc