Konsultasi

Makan Minum Dengan Piring Non-Muslim, Bolehkah?

Sat 30 May 2015 - 07:23 | 1641 views

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh

Ustad,saya tinggal di Papua, di sini penduduk non muslim nya suka makan daging babi, sebagian kecil adalah yg suka makan daging anjing.yg menjadi pertanyaan saya adlh apa hukum ny makan dg menggunakan wadah atau sendok yg pernah di gunakan orang yg pernah mengkonsumsi daging anjing? apakah di mulut nya masih menempel najis nya? ini menjadi kekhawatiran kami jika kami makan di rumah makan di sini, walaupun pemilik nya muslim tp pelanggan nya jg dari penduduk non muslim. Setau saya tubuh orang non muslim tidak lah najis, namun bagaimana dg kasus yg sya tanyakan di atas? mohon penjelasannya. Jazakallaahu khoiron

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Jumhur ulama 4 madzhab tidak ada yang mempermasalahkan kita untuk memakai wadah, baik itu piring atau gelas untuk kita gunakan menjadi wadah makan dan minum kita. Artinya memang 4 madzhab ini membolehkan itu walaupun itu bekas dipakai makan daging babi dan anjing atau khamr yang jelas itu adalah makanan yang haram dan najis.

Hanya saja madzhab Imam al-syafi’iyyah memakruhkan itu. Artinya kalau memang ada wadah lain yang lebih meyakinkan kebersihannya, maka itulah yang dipakai. Akan tetapi kalau memang tidak ada lagi, maka wadah non muslim pun tidak mengapa.

Pendapat jumhur ulama didasari oleh beberapa hadits, di antaranya hadits sahabat Abu Tsa’labah al-Khusyani yang bertanya kepada Nabi s.a.w. tentang hal ini. bah a ia hidup di tanah yang didiami oleh banyak orang non muslim yang sangat punya kemungkinan mereka memakan makanan najis. Kemudian Rasul s.a.w., menjawab:

أَمَّا مَا ذَكَرْتَ أَنَّكَ بِأَرْضِ أَهْلِ كِتَابٍ: فَلاَ تَأْكُلُوا فِي آنِيَتِهِمْ إِلَّا أَنْ لاَ تَجِدُوا بُدًّا، فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا بُدًّا فَاغْسِلُوهَا وَكُلُوا،

“Adapun yang kau sebutkan bahwa kau tinggal di tanahnya Ahli Kitab, maka jangan kau makan minum dengan wadah mereka kalau kalian punya sendiri. Akan tetapi kalau kalian tidak punya itu, maka pakailah wadah mereka, cuci itu dan makanlah dari situ.” (HR. al-Bukhari)    

Dalam riwayat Imam Abu Daud, redaksi haditsnya lebih jelas:

عَنْ أَبِي ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيِّ أَنَّهُ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّا نُجَاوِرُ أَهْلَ الْكِتَابِ وَهُمْ يَطْبُخُونَ فِي قُدُورِهِمْ الْخِنْزِيرَ وَيَشْرَبُونَ فِي آنِيَتِهِمْ الْخَمْرَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنْ وَجَدْتُمْ غَيْرَهَا فَكُلُوا فِيهَا وَاشْرَبُوا وَإِنْ لَمْ تَجِدُوا غَيْرَهَا فَارْحَضُوهَا بِالْمَاءِ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا

Dari Abu Tsa’labah al-Khusyani r.a., beliau datang kepada Nabi s.a.w., dan mengatakan: “ya Rasul, saya tinggal berdekatan dengan ahli kitab dan mereka memasak daging babi di priuk-priuk mereka dan bejananya terisikan khamr”. Nabi s.a.w. mengatakan: “kalau kalian punya yang lain, maka dan kinum dari situ. Kalau tidak punya, maka cuci itu dengan air lalu makan dan minumlah dari situ”. (HR. abu Daud)

Dalam riwayat Imam Ahmad bin Hanbal dalam musnad-nya, dari sahabat Anas bin Malik r.a., beliau menceritakan bahwa Nabi s.a.w. pernah diundang oleh orang yahudi untuk makan, dan Nabi s.a.w. memenuhi undangan tersebut.

عن أَنَسٍ أَنَّ يَهُودِيًّا دَعَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى خُبْزِ شَعِيرٍ وَإِهَالَةٍ سَنِخَةٍ فَأَجَابَهُ

Dari Anas bin Malik r.a., seorang yahudi mengundang Nabi s.a.w. untuk bersantap roti gandum dengan acar hangat, dan Nabi s.a.w. pun memenuhi undangan tersebut. (HR Imam Ahmad)

Selain hadits di atas, jumhur ulama juga berdalil dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab shahih nya bahwa beliau s.a.w. dan juga para sahabat pernah berwudhu dengan bejananya seorang wanita musyrik. Dan juga sahabat Umar bin khaththab juga pernah berwudhu dengan kendi milik orang nashrani.

Ahli Kitab dan Musyrik

Hanya saja memang di antara jumhur ulama tersebut, madzhab Imam Ahmad bin Hanbali membedakan hukum bejana atau wadah non muslim yang dipakai orang Islam itu antara Ahli Kitab (Yahudi & Nasrani) dan Musyrik, yakni penyembah berhala.

Dalam kitabnya al-Mughni (1/61-62), Imam Ibnu Qudamah menjelaskan:

وَالْمُشْرِكُونَ عَلَى ضَرْبَيْنِ: أَهْلُ كِتَابٍ وَغَيْرُهُمْ. فَأَهْلُ الْكِتَابِ يُبَاحُ أَكْلُ طَعَامِهِمْ وَشَرَابِهِمْ، وَالْأَكْلُ فِي آنِيَتِهِمْ، مَا لَمْ يَتَحَقَّقْ نَجَاسَتُهَا. قَالَ ابْنُ عَقِيلٍ: لَا تَخْتَلِفُ الرِّوَايَةُ فِي أَنَّهُ لَا يَحْرُمُ اسْتِعْمَالُ أَوَانِيهِمْ

“Orang Musyrik itu ada 2 jenis; Ahlu Kitab dan selain Ahli Kitab. Adapun Ahlu Kitab itu kita orang muslim dibolehkan menkonsumsi makanan dan minuman mereka, dan makan di bejana mereka, selama tidak nyata kenajisannya. Dan sheikh Ibnu Aqil mengatakan: tidak ada perbedaan riwayat (dari Imam Ahmad) bahwa memakai wadah Ahli kitab tidak diharamkan”.

الضَّرْبُ الثَّانِي: غَيْرُ أَهْلِ الْكِتَابِ، وَأَمَّا أَوَانِيهِمْ، فَقَالَ الْقَاضِي: لَا يُسْتَعْمَلُ مَا اسْتَعْمَلُوهُ مِنْ آنِيَتِهِمْ؛ لِأَنَّ أَوَانِيَهُمْ لَا تَخْلُو مِنْ أَطْعِمَتِهِمْ، وَذَبَائِحُهُمْ مَيْتَةٌ، فَلَا تَخْلُو أَوَانِيهِمْ مِنْ وَضْعِهَا فِيهَا.

“Yang kedua: Selain ahli Kitab,… sedangkan bejana-bejana mereka, Al-Qadhi (Abu Ya’la al-Farra’) mengatakan: bejana mereka tidak boelh dipakai karena itu menjadi wadah makan mereka (yang najis), dan daging yang mereka makan itu bangkai, dan pastilah mereka menaruh makanan dan daging mereka di wadah tersebut.”

 وَقَالَ أَبُو الْخَطَّابِ حُكْمُهُمْ حُكْمُ أَهْلِ الْكِتَابِ، وَثِيَابُهُمْ وَأَوَانِيهِمْ طَاهِرَةٌ، مُبَاحَةُ الِاسْتِعْمَالِ، مَا لَمْ يَتَيَقَّنْ نَجَاسَتَهَا، وَهُوَ مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ؛ «لِأَنَّ النَّبِيَّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - وَأَصْحَابَهُ تَوَضَّئُوا مِنْ مَزَادَةِ مُشْرِكَةٍ» مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ؛ وَلِأَنَّ الْأَصْلَ الطَّهَارَةُ، فَلَا تَزُولُ بِالشَّكِّ.

“Abu al-Khaththab mengatakan hukum mereka sama seperti hukum ahli Kitab, yakni boleh memakai wadah mereka, selama tidak nyata kenajisannya. Dan itulah madzhab al-Syafi’i; karena Nabi s.a.w. dan para sahabat pernah berwudhu dengan kendinya wanita musyrik (muttafaq alayh). dan karena memang wadah mereka itu hukum asalnya adalah suci, maka sesuatu yang asli (atau asalnya suci) tidak hilang hanya karena ragu-ragu.”

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Zarkasih, Lc