Konsultasi

Menghidupkan Malam Nisfu Sya'ban, Kebiasaan Ulama Salaf

Sun 31 May 2015 - 17:24 | 3727 views

Assalamualaikum warohmatullah wabarokatuh

Ustadz, pertanyaan saya ini pertanyaan jadul, masalahnya klasik yang selalu terulang. Yaitu soal hukum malam nisfu sya’ban. Mudah-mudahan ustadz Ahmad atau juga ustadz kampussyariah ngga bosen memberikan jawaban dan pencerahan. Mohon maaf, sebelumnya saya yakin bahwa nisfu sya’ban itu terlarang, karena memang itu tidak ada contohnya dari Nabi s.a.w., dan nyatanya tidak ada juga hadits yang menyebutkan keutamaan malam nisfu sya’ban tersebut. Semuanya dhaif dan palsu bahkan. Artinya melakukan amalan di nisfu sta’ban itu bid’ah.

Tapi saya terkejut, ternyata hadits keutamaan malam nisfu sya’ban itu ada yang shahih. Dan itu sheikh albani yang menshahihkan itu ternyata. Nah karena shahih, ada haditsnya berarti boleh mengamalkan ibadah di malam nusfu sya’ban. Akan tetapi yang jadi pertanyaan saya adalah:

1. Kalau shahih, lalu siapa ulama yang pertama kali memuali kebiasaan beribadah khusus di malam nisfu sya’ban ini? karena setau saya tidak ada ulama salaf yang mengerjakan itu.

2. lalu kalau memang ada, bagaimana tradisi ulama salaf menghidupkan atau beribadah di malam nisfu sya’ban ini?

3. bagaimana dengan kebiasaan orang Indonesia yang berkumpul di masjid lalu melakukan shalat dan membaca yasin 3 kali di malam nisfu sya’ban ini, apakah benar? Bukankah membaca yasin di malam tersebut akhirnya jatuh pada kehamaraman mengkhsususkan hari dengan salah satu ibadah. Bukankah itu diharamkan?

Mohon penjelasannya ustadz. Wassalam

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Siapa Orang Pertama Yang Memulai?

Kalau yang ditanyakan siapa orang pertama yang membudayakan beribadah untuk menghidupkan malam nisfu Sya’ban, maka jawabannya sudah diberikan oleh Imam Ibnu Rajab salah satu ulama kondang dari madzhab al-Hanabilah, dalam kitabnya Lathaif al-Isyarah (hal. 137). Beliau menyebutkan bahwa budaya menghidupkan malam nishfu Sya’ban itu salah seorang ulama dari kalangan tabi’in yang ahli ibadah, beliau adalah Khalid bin Ma’dan bin Abi Karb al-Kila’iy dari Syam.

Beliau wafat tahun 104 Hijrah, yang dalam daftar rijal ulama hadits, beliau masuk dalam kategori tsiqah, dan terkenal bahwa beliau ini orang ahli ibadah yang wara’. Lahir di Yaman, akan tetapi lama tinggal di Hamsh, Syam dan wafat di situ. Dalam kitabnya al-A’lam (2/299), Imam Al-Zirikli menukil cerita dari Ibnu Asakir, beliau (Ibnu Asakir) menyebutkan bahwa Khalid bin Ma’dan ini orang yang rajin sekali bertasbih. Bahkan ketika beliau sekarat pun, tangannya terlihat bergerak seperti sedang bertasbih.

Dari kebiasaan yang dilakukan oleh Khalid bin Ma’dan, lalu diikuti oleh ulama syam lainnya; Makhul, juga Luqman bin ‘Amir, yang akhirnya kebiasaan itu diikuti oleh para masyarakat. Bukan hanya sekitaran syam, akan tetapi hampir seluruh pelosok negeri Islam, melakukan kebiasaan menghidupkan malam nisfu Sya’ban ini.

Hadits Kemuliaan Malam Nisfu Sya’ban

Ya, memang benar sebagaimana yang dikatakan dalam pertanyaan di atas. Hadits tentang kemuliaan malam nisfu sya’ban yang mnejadi sandaran bagi mereka yang membudayakan dan membiasakan menghidupkan malam tersebut dengan berbagai amalan ibadah, tidak semua shahih. Artinya dari hadits-hadits tersebut ada yang shahih, ada yang juga yang dhaif, bahkan maudhu’ (palsu).

Akan tetapi di antara yang lemah dan palsu itu, ada satu hadits yang dihukumi oleh jumhur lama hadits ini sebagai hadits shahih. Karena shahih maka menyandarkan amalan dengan hadits ini tentang dilegalkan. Yakni hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi dalam kitabnya Syu’ab al-Iman:

يطلع الله تبارك وتعالى إلى خلقه ليلة النصف من شعبان، فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن

Nabi s.a.w.: “Allah tabaroka wa ta’ala melihat kepada hambanya di malam nisfu sya’ban, Allah s.w.t. mengampuni dosa semua makhlukNya kecuali orang musyrik dan orang yang sedang berseteru (dengan saudaranya)”. (HR. al-Baihaqi)

Bahkan sheikh al-Albani menshahihkan hadits ini dalam kitabnya al-Silsilah al-Ahadits al-Shahihah. Beliau menjelaskan tentang shahihnya hadits ini beserta seluruh jalurnya dalam 4 halaman kitabnya di jilid ke 3, dari halaman 135 sampai 139. Beliau mengatakan:

حديث صحيح، روي عن جماعة من الصحابة من طرق مختلفة يشد بعضها بعضا

“Hadits shahih, diriwayatkan oleh jumlah banyak dari para sahabat, dari berbagai jalur sanad yang saling menguatkan satu sama lain”   

Kemudian beliau (sheikh al-Albani) juga mengkritik Sheikh al-Qasimiy yang mendhaifkan hadits ini. Beliau (Sheikh al-Albani) mengatakan:

فما نقله الشيخ القاسمي رحمه الله تعالى في " إصلاح المساجد " (ص 107) عن أهل التعديل والتجريح أنه ليس في فضل ليلة النصف من شعبان حديث صحيح، فليس مما ينبغي الاعتماد عليه، ولئن كان أحد منهم أطلق مثل هذا القول فإنما أوتي من قبل التسرع وعدم وسع الجهد لتتبع الطرق على هذا النحو الذي بين يديك. والله تعالى هو الموفق.

“Sedangkan apa yang dinukil dari al-Qasimiy rahimahullah dalam kitab Ishlahul-Masajid (hal. 107), dari ahli Jarh wa al-Ta’dil, bahwa beliau mengatakan tidak ada hadits yang shahih mengenai fadhilah malam nisfu sya’ban, pendapat ini tidak layak untuk dijadikan sandaran. Dan jika ada salah seorang dari mereka mengucapkan hal yang sama (dengan sheikh al-Qasimiy), sesungguhnya itu pendapat yang terburu-buru dan tidak berusaha mengerahkan kemampuan untuk meneliti berbagai jalur sanad sebagaimana penelitian saya yang saya tulis di kitab ini. semoga Allah memberi taufiq.”

Karena memang ada haditsnya dan itu shahih, maka tidak mengapa jika kemudian ada orang yang melakukan amalan ibadah guna meraih fadhilah dan keutamaan malam ini. Sama seperti waktu sahur (tahajjud) yang da fadhilahnya, maka muslim berusaha keras untuk meraih fadhilah tersebut dengan memperbanyak ibadah dan berdzikir.

Teknis Pelaksaannya

Haditsnya shahih, lalu yang jadi masalah adalah bagaimana cara melaksanakannya sesuai dengan apa yang diwariskan oleh ulama salaf?

a. Imam al-Syaf’i

Dalam kitabnya lathaif al-Isyarah (hal. 137), Imam Ibn Rajab al-Hanbaliy juga menukil perkataan Imam al-Syafi’i tentang malam nisfu sya’ban, beliau mengatakan:

وقال الشافعي رضي الله عنه: بلغنا أن الدعاء يستجاب في خمس ليال: ليلة الجمعة والعيدين وأول رجب ونصف شعبان

Imam al-Syafi’i r.a. berkata: “telah sampai kepada kami (riwayat) bahwa doa itu diijabah di 5 malam; malam jum’at, malam 2 hari raya, malam pertama Rajab dan juga malam nishfu Sya’ban.”

b. Imam Ibn Rajab al-Hanbali

Selain menceritakan tentang sejarah ulama yang pertama kali membiasakan menghidupkan malam nisfu Sya’ban, beliau (Imam Ibnu Rajab al-Hanbali) dalam kitabnya Lathaif al-Isyarat (hal. 137) juga menceritakan bagaimana teknisnya sesuai dengan yang dilakukan ulama salaf. Beliau mengatakan:

واختلف علماء أهل الشام في صفة إحيائها على قولين:

أحدهما: أنه يستحب إحياؤها جماعة في المساجد كان خالد بن معدان ولقمان بن عامر وغيرهما يلبسون فيها أحسن ثيابهم ويتبخرون ويكتحلون ويقومون في المسجد ليلتهم تلك ووافقهم إسحاق بن راهوية على ذلك وقال في قيامها في المساجد جماعة: ليس ببدعة نقله عنه حرب الكرماني في مسائله.

“ulama ahli syam berbeda pendapat soal teknis pelaksanaan malam nisfu sya’ban. Ada 2 pendapat; Pertama: disunnahkan menghidupkan malam nisfu sya’ban berjamaah di masjid. (dahulu) Khalid bin ma’dan, luqman bin ‘Amir dan selain keduanya memakai pakaian terbaik, menyalakan bukhur (wewangian), memakai celak mata, dan mereka beribadah di masjid mereka malam itu. Dan (teknis) ini disetujui oleh Ishaq bin Rahawaih, dan beliau mengatakan bahwa menghidupkannya di masjid berjamaah bukanlah perkara bid’ah. Begitu yang dinukil oleh Harb al-Karamani dalam Masail-nya.”

والثاني: أنه يكره الإجتماع فيها في المساجد للصلاة والقصص والدعاء ولا يكره أن يصلي الرجل فيها لخاصة نفسه وهذا قول الأوزاعي إمام أهل الشام وفقيههم وعالمهم وهذا هو الأقرب إن شاء الله تعالى.

Kedua: Dimakruhkan berkumpul di masjid untuk shalat dan membacakan cerita (manaqib), serta berdoa. Akan tetapi tidak dimakruhkan melakukan shalat sendiri. Dan ini pendapat imam al-Auza’iy Imamnya penduduk Syam, serta ulama fiqih mereka dan juga para ahli ilmu mereka. dan ini pendapat yang lebih dekat/baik (untuk diamalkan) insyaAllah.”

c. Imam al-Nawawi

Dalam kitabnya al-Majmu’ (4/56), beliau mengatakan:

الصَّلَاةُ الْمَعْرُوفَةُ بصلاة الرغائب وهي ثنتى عَشْرَةَ رَكْعَةً تُصَلَّى بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ لَيْلَةَ أَوَّلِ جُمُعَةٍ فِي رَجَبٍ وَصَلَاةُ لَيْلَةِ نِصْفِ شَعْبَانَ مِائَةُ رَكْعَةٍ وَهَاتَانِ الصَّلَاتَانِ بِدْعَتَانِ وَمُنْكَرَانِ قَبِيحَتَانِ

“shalat yang disebut dengan shalat raghaib, yakni 12 rakaat antara maghrib dan isya di malam jumat pertama bulan Rajab. Dan juga shalat yang dilakukan di malam nisfu sya’ban 100 rakaat; keduanya adalah bid’ah dan kemungkaran yang buruk.”  

d. Imam Ibnu Taimiyyah

Dalam al-fatawa al-Kubra (5/344), Shaikhul-Islam mengatakan:

وَأَمَّا لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَفِيهَا فَضْلٌ، وَكَانَ فِي السَّلَفِ مَنْ يُصَلِّي فِيهَا، لَكِنَّ الِاجْتِمَاعَ فِيهَا لِإِحْيَائِهَا فِي الْمَسَاجِدِ بِدْعَةٌ وَكَذَلِكَ الصَّلَاةُ الْأَلْفِيَّةُ.

“malam nisfu sya’ban di dalamnya terdapat keutamaan, dan ulama salaf melakukan shalat di malam tersebut, akan tetapi berkumpul di masjid untuk bersama-sama menghidupkan itu adalah bid’ah, sama bid’ahnya seperti shalat 100 rakaat.”

Jadi, dari apa yang disebutkan oleh ulama di atas mengenai malam nisfu Sya’ban bisa disimpulkan seperti ini:

1.   Dianjurkan berdoa di malam nisfu Sya’ban, dan itu mutlak tidak ditentukan redaksi dan jenis doanya. Intinya memanfaatkan malam tersebut untuk meminta dan memohon kepada Allah s.w.t., karena itu adalah malam mustajab.

2.   Sepakat ulama mengharamkan shalat raghaib atau 100 rakaat yang tidak ada sandaran dalilnya.

3.   Berkumpul di masjid menghidupkan malam dengan ibadah bersama-sama diperselisihkan hukumnya; ada yang menganjurkan dan ada yang mengkategorikannya sebagai bid’ah.

Pada poin ketiga, berarti keharaman atau kesunahan berkumpul di masjid beribadah bersama itu diperselihkan hukumnya. Artinya masing-masing dari kita tinggal legowo saja menerima itu. Yang ingin mengikuti ulama yang menganjurkan bersama-sama di masjid, silhakan. Akan tetapi tidak bisa menutup mata ada saudara muslim lain yang tidak sepakat dengan itu, artinya tidak perlu provokatif. Dan yang tidak sepakat pun, tidak perlu marah, toh berkumpul di masjid itu juga dicontohkan oleh ulama. Fokus saja beribadah sendiri di malam mulia tersebut.

Baca Yasin 3 Kali

Membaca Yasin 3 kali di malam ini adalah bentuk implementasi atas anjuran berdoa di malam mustajab ini. doa saja sejatinya sudah sah dan itu sangat baik sekali. Akan tetapi jika doa tersebut dibarengi dengan ibadah lain sebagai wasilah doa tersebut, tentu doa akan menjadi sangat tajam dan aula (utama).

Yasin dijadikan sebagai wasilah (perantara) doa tersebut. Artinya mereka membaca Yasin, kemudian dengan yasin tersebut, mereka ber-tawassul denagan bacaan itu untuk berdoa kepada Allah s.w.t. Membaca yasin adalah ibadah, dan ini adalah bentuk ber-tawassul dengan Ibadah. Dan bertawassul dengan ibadah adalah tawassul yang disepakati kebolehannya oleh ulama sejagad.

Tentu pemilihan Yasin tersebut berdasarkan dengan beberapa pertimbangan, selain kemudahan para jamaah atau masyarakata yang sudah terbiasa, Yasin juga punya fadhilah yang sangat bagus, dan itu ma’tsur. Artinya membaca surat selain yasin pun tidak masalah. toh intinya doa dan bertawassul dengan ibadah. Dengan surat apapun atau hanya sekedar dzikir kemudian disusul dengan doa, ya itu fine-fine saja.

Bukankah Itu Namanya Mengkhususkan Ibadah di Hari-Hari Tertentu?

Kalau seperti itu, mestinya ada pertanyaan balik; “apakah mengkhususkan ibadah di hari atau even tertentu diharamkan?”. Ini yang harus diperhatikan, dalam hadits yang diriwayat oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab shahih-nya, bahwa Nabi s.a.w., punya kebiasaan berziarah ke masjid Quba’ setia hari sabtu. Dan itu selalu Beliau lakukan berulang-ulang:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِي مَسْجِدَ قُبَاءٍ كُلَّ سَبْتٍ مَاشِيًا وَرَاكِبًا وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَفْعَلُهُ

Dari Abdullah bin Umar r.a., beliau berkata: “Nabi s.a.w., datang ke masjid Quba’ setiap sabtu dengan berjalan kaki dan (kadang) menaiki kendaraan (unta)” dan (al-Bukhari mengatakan): Ibnu Umar juga melakukan itu.” (Muttafaq ‘Alayh)

Dalam kitabnya yang memang menjelaskan tentang hadits-hadits shahih al-Bukhari, yakni kitab Fathul-Baari (3/69), Imam Ibn Hajar al-Asqalani mengatakan:

وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ عَلَى اخْتِلَافِ طُرُقِهِ دَلَالَةٌ عَلَى جَوَازِ تَخْصِيصِ بَعْضِ الْأَيَّامِ بِبَعْضِ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَالْمُدَاوَمَةِ عَلَى ذَلِكَ

“dalam hadits ini dengan perbedaan jalur sanadnya, ada pentunjuk bolehnya mengkhususkan hari untuk ibadah dan men-dawamkan (merutinkan) itu.”

Selain Imam Ibn Hajar al-Asqalani, ada ulama dari kalangan al-hanafiyah, yakni Imam Badruddin al-‘Ainiy dalam kitabnya yang memang juga menjelaskan tentang hadits-hadits shahih al-Bukhari, kitab ‘Umda al-Qari’ (7/259), beliau mengomentari hadits ziarah Nabi ke masjid Quba’ ini:

وَفِيه دَلِيل على جَوَاز تَخْصِيص بعض الْأَيَّام بِنَوْع من الْقرب وَهُوَ كَذَلِك إِلَّا فِي الْأَوْقَات الْمنْهِي عَنْهَا كالنهي عَن تَخْصِيص لَيْلَة الْجُمُعَة بِقِيَام من بَين اللَّيَالِي أَو تَخْصِيص يَوْم الْجُمُعَة بصيام من بَين الْأَيَّام

“hadits ini dalil bolehnya mengkhususkan hari untuk mengamalkan qurab (ibadah pendekatan kepada Allah), akan tetapi ini dilarang pada hari-hari yang memang terlarang seperti mengkhususkan malam jumat dengan shalat malam atau hari jumat dengan puasa”.

Artinya Imam Badruddin al-‘Ainiy melihat bahwa mengkhususkan ibadah pada hari-hari tertentu itu sesuatu yang boleh dan baik selama memang tidak ada dalil yang mengharamkannya.

Yang jelas diharamkan, bukanlah mengkhususkan hari dengan salah satu ibadah, akan tetapi jika ia meyakini bahwa yang dilakukannya itu adalah sebuah kewajiban syariat yang mana jika meninggalkannya berdosa. Ini yang disekapati kehamarannya, karena sama saja mewajibkan sesuatu yang Allah s.w.t. tidak mewajibkan.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Zarkasih, Lc