Konsultasi

Hitam di Jidat, Tanda Banyak Sujud?

Tue 2 June 2015 - 06:19 | 1460 views
assalamualaikum warohmatullah ustadz Ahmad di rumahfiqih yang saya hormati
mungkin ustadz bisa memebrikan penjelasan kepada saya tentang hal yang selama ini masih mengganjal dari masalah agama, yakni soal tanda hitam di jidat. Banyak orang yang saya temui mengatakan bahwa tanda hitam di jidat itu yang banyak ada di jidat ustadz2 itu adalah tanda keimana dan tingkat ketaqwaan. dikatakan bahwa itu tanda bahwa yang memiliki tanda itu ia adalah ahli sujud. benarkah demikian ustadz?

karena buat saya, taqwa dan iman itu tandanya bukan pada bentuk lahir, akan tetapi nampak pada sikap dan akhlak mereka kepada sesama manusia, tapi banyak juga yang punya hita di jidat itu justru melakukan hal2 yang maksiat. ustadz kemarin liat berita atau tidak? sekedar info saja, narapidana yang dihukum mati soal narkoba itu namanya Fredi gunawan, tapi karena kelamaan pelaksanaan aksekusinya, akhirnya ia melakuakn jual beli lagi narkoba dari dala lapas, dan anehnya bagi saya ia punya tanda hitam di jidat yang sangat nyata.

banyak yang bilang ada ayatnya yang mnejelaskan tanda hitam di jidat, saya malah ngga tahu itu. yang saya tahu tanda jidat hita itu bisa dibuat secara manual, ngga perlu banyak sujud stadz. terimakasih sebelumnya. mohon penjelasan dan pencerahannya.

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Salah satu di antara banyaknya asumsi yang kurang tepat terkait sholat ialah perihal tanda hitam di jidat/dahi yang sering dikatakan sebagai tanda sujud. Jadi kalau ada orang yang punya tanda hitam di jidat itu berarti dia adalah orang yang rajin sholat, karena keseringan sujud.

Entah dari mana asalnya asumsi ini muncul, yang pasti bahwa seorang yang memang rajin sujud tidak selalu dan tidak mesti mempunyai tanda hitam di jidat. Karena memang tanda hitma di jidat itu bisa ada karena banyak sebabnya, bukan hanya karena sujud. Mungkin karena bekas luka, atau memang sengaja di buat untuk bisa nampak hitam.

Masalahnya apa?

Menjadi masalah ketika itu menjadi ukuran ketaqwaan seseorang. Banyak asumsi yang beredar di beberapa kalangan, kalau hitam di jidat itu tanda rajin sholat, sehingga ketika bertemu dengan orang yang hitam jidatnya terkesan disegani, yang disegani pun menjadi jumawa.

Akhirnya, orang yang tak punya tanda hitam berangan-angan agar jidatnya punya tanda hitam sebagaimana si “ustadz” fulan tersebut. Ujung-ujungnya setiap kali sholat, ia kencangkan sujudnya, bahkan ia sendiri merasa sakit, karena memang ia sangat berharap bisa punya tanda hitam setelah bangun dari sujud.

Dan ternyata banyak orang yang minder karena tidak punya tanda hitam di jidat. Ini jelas minder bukan pada tempatnya!

Bagaimanapun, ketaqwaan seseorang tidak bisa diukur dari tampilan yang ia tunjukkan di deoan khalayak. Bukan dengan baju, bukan juga dengan tanda hitam di jidat. Keatqwaan seseorang itu akan nampak denga sikap dan prilaku yang ia tampilkan dalam keseharian, bukan pada penampilan.

“Bukankah ada ayatnya?”

Ya. Ayat di penghujung surat Al-Fath memang sering kali dijadikan dalih bahwa tanda hitam di jidat itu adalah sebagai tanda sujud bagi seorang muslim. Dan kurang afdhol kalau ada muslim yang tidak punya tanda hitam di jidat. –saya bingung, ini pemahaman dari mana?-

سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ

“Tanda-tanda mereka (muslim) tampak pada muka mereka dari bekas sujud”

Muka Bukan Jidat

Yang perlu diperhatikan lebih dalam lagi pada ayat ini adalah kata “wujuh” [وجوه] ini bentuk plural dari kata “wajh” [وجه] yang mempunya arti muka atau wajah. Allah swt dengan gamblang mengatakan bahwa tanda sujud itu nampaknya di wajah.

Allah swt tidak mengatakan bahwa seorang muslim itu punya tanda sujud di jidat! Kalau memang di jidat mestinya Allah swt menggunakan kata “Jabhah” [جبهة] yang berarti jidat. Tapi nyatanya ayat itu berbunyi tentang muka/wajah bukan jidat, ayatnya tidak berbunyi:

سِيمَاهُمْ فِي جَبَهَاتِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ

“Tanda-tanda mereka (muslim) tampak pada jidat mereka dari bekas sujud”

Ayatnya tidak berbunyi seperti ini. dan memang muka itu bukan hanya jidat, dan jidat juga hanya bagian kecil dari muka yang berisi ada mata, hidung, mulut, alis mata dan juga dagu.

Maksud Muka dalam Ayat

Shiekh Al-Jazairi dalam tafsirnya “Aysar Al-Tafasiir”, mengatakan bahwa maksud tanda sujud pada muka dalam ayat ini ialah:

نُورٌ وَبَيَاضٌ يُعْرَفُوْنَ بِهِ يِوْمِ الْقِيَامَةِ إِنَّهُمْ سَجَدُوْا فِي الدُّنْيَا

“sinar dan kecerahan wajah yang nampak/terlihat nanti di hari kiamat sebagai bukti bahwa muslim itu ahli sujud ketika di dunia” (Aysar Al-Tafasir 5/117)

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya yang masyhur meriwayatkan beberapa pendapat di kalangan ulama salaf terkait ayat ini, yang menarik adalah tak ada satu pun ulama yang dinukil oleh Imam Katsir menyebutkan bahwa itu tanda di jidat. Di antara yang beliau nukil ialah:

وَقَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: مَنْ كَثُرَتْ صَلَاتُهُ بِالَّليْلِ حَسُنَ وَجْهُهُ بِالنَّهَارِ.

“Sebagian ulama salaf mengatakan: siapa yang banyak sholatnya di malam hari, wajahnya bagus (bersinar) di siang hari”

وَقَالَ بَعْضُهُمْ: إِنَّ لِلْحَسَنَةِ نُوْرًا فِي الْقَلْبِ، وَضِيَاءً فِي الْوَجْهِ، وَسَعَةً فِي الرِّزْقِ، وَمَحَبَّةً فِي قُلُوْبِ النَّاسِ

“sebagian mereka juga mengatakan; kebaikan itu meninggalkan cahaya dalam hati, sinar di wajah, keluasan rezeki dan kecintaan dalam hati manusia lain kepadanya”   (Tafsir Ibnu Katsir 7/361)

Imam Al-Thobary dalam tafsirnya, menukil beberapa riwayat yang menunjukkan bahwa tanda sujud di muka itu akan nampak nanti di hari kiamat pada wajah-wajah orang muslim, bukan di dunia pada jidat.

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ( سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ) قَالَ: صَلَاتُهُمْ تَبْدُو فِي وُجُوْهِهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

“Dari Ibnu Abbas [siimahum…..] beliau berkata: sholat-sholat mereka akan nampak (bekasnya) pada wajah-wajah mereka nanti di hari kiamat”

عَنْ عَطِيَّةَ، فِي قَوْلِهِ( سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ) قَالَ: مَوَاضِعُ السُّجُودِ مِن وُجُوْهِهِمْ يِوْمَ الْقِيَامَةِ أَشَدُّ وُجُوْهِهِمْ بَيَاضًا.

“Dari ‘Athiyyah, tentang firman Allah [siiimahum…..] beliau berkata: itu adalah tempat-tempat sujud mereka pada wajah, di hari kiamat akan menambah cahaya/sinar pada wajah mereka” (Tafsir Al-Thobari 22/262)

Walaupun memang tanda-tanda hitam di jidat itu bisa kita buat sendiri secara manual, entah dengan batu atau sejenisnya, tapi kita tidak bisa pungkiri bahwa memang ada beberapa orang yang diaanugerahkan oleh Allah s.w.t. tanda itu di jidat-jidat mereka. Tapi sekali lagi, itu bukan ukuran ketaqwaan seseorang.

Karenanya, yang punya tanda hitam tidak boleh sombong dan yang tidak punya tanda tidak perlu berkecil hati. Ingat bahwa Allah s.w.t. tidak melihat penampilan luar akan tetapi Allah s.w.t. melihat apa yang ada di dalam hati kita masing-masing.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Zarkasih, Lc