Konsultasi

Siapa Yang Wajib dan Yang Boleh Tidak Puasa Ramadhan?

Tue 16 June 2015 - 08:03 | 1980 views

Assalamualaikum warohmatullah wabarokatuh,

Ustadz, mengingat sebentar lagi puasa, mohon kiranya ustadz menjelaskan tentang siapa saja yang memang diwajibkan oleh syariat ini untuk berpuasa. dan juga siapa di antara kami yang dalam syariah dibolehkan untuk tidak berpuasa. ini masalah dasar sekali, mohon dimaklum. Selain sebagai pengetahuan buat saya, mudah2an bisa jadi pengingat buat yang lain. Kadang karena terlalu sibuk kita berdebat dan diskusi soal masalah agama, sudah terlalu jauh tapi malah lupa atau bahkan ngga tau masalah dasarnya. Syukran.

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Mereka Yang Wajib Puasa Ramadhan

1. Islam

Ini adalah syarat mutlak. Siapa saja yang mengaku dan menyadari bahwa dirinya muslim maka dia wajib melaksanakan puasa Ramdahn pada waktunya. Tentu bukan hanya puasa saja, syariat yang lain pun demikian, wajib dikerjakan oleh siapa yang mengaku Islam.

“wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kalian berpuasa….” (QS Al-Baqoroh 183)

Karena puasa itu adalah suatu ibadah dan ibadahnya orang non-Muslim tidak akan diterima sampai ia masuk Islam terlebih dahulu. Dan sebab inilah pernah ada riwayat yang menyebutkan bahwa Sayyidina Umar bin Khoththob menangisi kawannya seorang Nashrani yang rajin memberi sedekah. Ketika ditanya kenapa ia menangis oleh sahabanya itu, beliau menjawab bahwa ia cinta kawannya itu karena suka memberi, namun alahkah sedihnya sebab ia tahu betul bahwa amalannya orang non-muslim tidak berrati apa-apa, dan tidak diterima oleh Allah SWT.

“siapa yang mencari agama selain Islam, maka ia tidak akan diterima, dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang yang merugi” (QS Ali Imron 85)

Jadi status Islam itu penting sekali, agar semua amal yang kita lakukan didunia ini mendapatkan hasil yang akan kita terima dari Allah nanti di hari akhir kelak. Berbeda dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang non-muslim, karena amalnya tidak berbuah apa-apa di akhirat. 

2. Baligh dan Berakal (Mukallaf)

Yang wajib baginya puasa Ramadhan ialah orang yang Baligh, artinya ia sudah sampai dan melampaui umur baligh. Dalam Islam, orang yang sudah baligh ia sudah dikenakan kewajiban-kewajiban syariah, yang disebut dalam bahasa syariat dengan istilah “Mukallaf”. Dari mulai sholat sampai haji.

Tetapi baligh saja tidak cukup, yang baligh memang sudah memasuki umur Mukallaf. Tetapi status Mukallaf itu juga akan gugur jika dia seorang yang sakit jiwa, atau tidak berakal alias gila.

Jadi ketika seorang itu baligh, tidak serta merta ia mendapat kewajiba syariah, akan tetapi ditinjau lagi apakah ia sehat atau sakit akalnya. Kalau dia termasuk yang sakit akalnya atau gila, maka tidak ada kewajiban syariah apapun atas dirinya. Karena itu kewajiban puasa Ramdhan berlaku bagi yang berstatus “Mukallaf” , yaitu sudah Baligh dan berakal.

Hadits Nabi SAW:

“pena itu diangkat (syariat tidak berlaku) bagi 3 orang: 1. Orang yang tidur sampai ia terbangun, 2. Anak kecil sampai ia baligh, 3. Orang gila sampai ia sembuh” (HR Abu Daud)

3. Mampu Untuk Berpuasa (Qudroh)

Ini syarat yang paling penting dalam hal wajibnya berpuasa Ramdhan bagi seorang muslim; yaitu mampu berpuasa. Artinya ia dalam keadaan sehat wal’afiyat dan tidak ada dalam dirinya hal-hal yang bisa menjadi udzur untuk tidak berpuasa.

Dalam bahasa syariatnya disebut dengan Rukhshoh, yang berate keringanan. Jadi seorang yang tidak terdapat dalam dirinya hal yang mendatangkan rukhshoh itu, maka tidak ada alas an baginya untuk tidak berpuasa.

Artinya ia benar-benar dalam keadaan sehat dan tidak berhalangan. Tidak ada dalam dirinya hal-hal yang menjadikan seseorang itu di peringankan untuk tidak berpuasa. Yang termasuk udzur untuk bisa mendapatkan rukhshoh itu ialah; Sakit, Musafir atau bepergian jauh dan juga lanjut Usia, atau orang yang sudah sangat tua dan sudah tidak mampu lagi baginya untuk menahan makan dan minum seharian.

Ketiga hal yang telah disebutkan diatas tadi itu ialah syarat wajib puasa bagi seorang muslim. Dan ketiga syarat itu berlaku untuk semua jenis puasa, tidak saja puasa Ramadhan. Hanya saja yang membedakan ialah puasa Ramadhan itu puasa wajib. Karena ini wajib maka tidak boleh ditinggalkan.

Dan jika seseorang itu masuk dalam kriteria ketiga syarat tersebut, berarti ia wajib untuk berpuasa pada bulan Ramadhan.

Mereka Yang Boleh Tidak Berpuasa

Diantara mereka yang mendapatkan rukhshoh (keringanan) boleh tidak berpuasa Ramadahan ialah:

1. Orang Yang Sakit

Intinya orang yang sedang dalam keadaan sakit, dan dikhwatirkan akan bertambah parah sakit yang dideritanya jika ia berpuasa, atau kesembuhannya yang makin terhambat karena puasa itu, maka orang yang seperti ini masuk dalam kategori sakit yang membolehkannya untuk tidak berpuasa.

Ya kedua patokan itulah yang telah ditetapkan oleh ulama untuk kategori sakit yang mendapatkan rukhshoh untuk boleh tidak berpuasa. Entah sakitnya itu bertambah parah kalau berpuasa, atau kesembuhannya terhambat dan semakin lama jika ia paksakan puasa.

Jadi bukan sekedar asal sakit, kemudian seseorang beralasan untuk tidak berpuasa. Kalau sakita yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan puasa, ya tidak ada alasan untuk ia bisa meninggalkan puasa begitu saja.

2. Musafir (Berpergian Jauh)

“barang siapa diantara kalian yang sedang sakit atau dalam perjalana, maka hendaknya diganti di hari lain” (QS Al-Baqoroh 184)

Ulama bersepakat bahwa perjalanan atau safar yang membolehkan seorang muslim untuk tidak atau berbuka puasa ialah perjalanan yang membolehkan untuk meng-qoshor atau menjama’ sholat. Artinya kalau dia boleh qoshor/jama’ sholat berarti dia juga boleh tidak berpuasa.

Yaitu perjalanan yang menempuh jarak 89 km menurut jumhur ulama 3 madzhab (al-Malikiyah, al-Syafi’iyyah dan al-Hanabilah). Sedangkan menurut ulama al-Hanafiyah, jarak minimal safar itu 178 km. jarak itulah yang membuat orang mendapatkan rukhshah boleh tidak puasa keran safarnya.

Sebagai gantinya, ia harus berpuasa nanti dibulan lain selain Ramadhan selama hari yang ia tinggalkan karena perjalanan tersebut.

Lalu bagaimana jika melakukan perjalanan di siang hari dan kita sudah berpuasa sejak pagi?

Walaupun ada perdebatan, namun Jumhur Ulama mengatakan bahwa boleh membatalkan puasa bagi orang yang melakukan perjalanan padahal ia telah berpuasa dari pagi harinya. Jika memang perjalanan itu sangat melelahkan dan mengharuskan si Musafir itu untuk berbuka, ya boleh-boleah saja.

Ini berdasarkan dalil hadits Jabir ra yang melakuakn perjalanan bersama Rasul saw dan para sahabat lainnya. Ketika sampai disuatu daerah bernama Kuro’a Al-Ghonim (lembah dekat kota Asfan), para sahabat merasa kelelahan kemudian Rasul SAW membolehkan mereka untuk berbuka sebagaimana Rasul SAW juga berbuka puasa ketika itu.

Kemudian Rasul SAW mendengar bahwa ada beberapa sahabat yang tidak berbuka, dan Rasul pun berkata: “mereka itu bermaksiat”. (HR Muslim dan Tirmidzi)

Imam Asy-Syaukani dalam kitabnya Nailul-Author mengatakan: “hadits ini adalah dalil bahwa seorang musafir boleh berbuka puasa walaupun ia telah niat puasa sejak malam (berpuasa sejak pagi hari)”.

Lalu bagaimana jika kita berpergian jauh namun kita tetap melakukan puasa?

Jumhur Ulama mengatakan bahwa sah puasanya orang yang berpergian jauh jika memang itu tidak menyulitkan atau menyusahkan si mesafir. Seperti orang yang berpergian jauh dengan pesawat terbang, walaupun jauh tapi tidak terlalu melelahkan dan masih mampu untuk meneruskan puasanya. Maka yang seperti ini sah puasanya dan gugur kewajiban puasanya di hari itu.

Mereka (Jumhur) mengatakan bahwa ayat yang ada dalam surat Al-Baqoroh ayat 184 itu yang memerintahkan orang sakit dan musafir untuk mengganti puasanya di hari lain, maksud dari ayat itu ialah “Jika ia berbuka”, maka ia harus menggantinya di hari lain. Adapun jika sang musafir kuat untuk meneruskan puasanya maka puasanya tetap sah dan gugur kewajibannya.

Ini juga didukung oleh hadits Anas bin Malik ra yang berkata: “kami pernah berpergian bersama Rasul SAW, tapi tidak ada satupun yang mencela, baik itu orang yang berpuasa kepada yang berbuka atau orang yang berbuka kepada yang berpuasa.” (HR Bukhori dan Muslim)

3. Orang Yang Tidak Mampu

Dalam bahasa Arab disebut dengan istilah al-‘Ajiz yang punya aryi tidak mampu berpuasa. yang tidak mampu berpuasa ini –sebagaimaan disebutkan oleh ulama- bisa jadi 2 orang; yakni orang tua yang sudah tidak tahan kalau harus berpuasa, seperti yang berumur uzur. Yang kedua ialah orang yang sakit dan sakitnya menahun bahkan dihukumi oleh ahli medis bahwa kesembuhannya sangat kecil. Seperti penyakit struk dan sejenisnya.

Jadi pertanyaan, kenapa orang sakit menahun itu tidak dimasukkan dalam kategori orang sakit saja? Ya. Ia tidak dimasukan dalam kategori orang sakit, in berkaitan dengan konsekuensi yang dibebankan kepadanya yang tidak sama dengan orang sakit.

Orang tua renta dan orang yang sakit menahun ini masuk salam satu ketgeori karena memang ia termasuk orang yang punya konsekuensi hanya fidyah, yakni memberi makan orang miskin sebanyak hari yang ditinggalkan. Tidak meng-qadha’, karena mereka tidak mampu. Orang tua renta tidak mampu qadha, begitu juga orang sakit menahun, kesembuhannya tidak bisa dipastikan dan sangat lama. Maka kewajibannya sama seperti orang tua renta, yakni hanya fidyah.

Ini berdasarkan firman Allah SWT:

“dan bagi mereka yang terasa berat untuk berpuasa, maka baginya membayar fidyah; memberi makan orang Miskin”. (QS Al-Baqoroh 184)

Ibnu Abbas mengatakan bahwa ayat ini diturunkan kepada Orang tua renta laki-laki dan perempuan yang sudah tidak  mampu lagi berpuasa. (HR Bukhori)

4. Wanita Hamil Atau Menyusui

Termasuk golongan yang boleh untuk tidak berpuasa di bulan Ramadhan ialah perempuan yang sedang hamil atau sedang menyusui.

Perempuan yang hamil dikhawatirkan kesehatannya dan juga kesehatan janin yang dikandungnya akan terganggu jika si ibu berpuasa. Dan perempuan yang menyusui juga dikhawatirkan akan kekuran air susunya jika ia berpuasa. Maka 2 perempuan ini dibolehkan untuk berbuka puasa.

Nah apakah perempuan hamil dan menyusui harus mengganti, artinya mengqodho’ setelah kehamilan? Atau bolehkah hanya membayar fidyah saja?

Pendapat yang dipegang oleh kalangan al-Hanafiyah, kewajiban wanita hamil dan menyusui yang tidak berpuasa adalah meng-qadha puasa yang ditinggalkan itu nanti setelah semuanya dianggap aman. Wajibnya hanya qadha saja. Sedangkan ulama al-Malikiyah, justru kebalikannya, ia mewajibkan wanita hamil dan menyusui yang tidak berpuasa hanya fidyah saja, bukan qadha. Dan pendapat yang masyhur dari kalangan al-Syafi’iyyah bagi wanita hamil atau menyusui, kewajiban mereka adalah 2; Fidyah dan juga qadha puasa.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Zarkasih, Lc