Konsultasi

Tarawih 4 Rakaat Langsung, Bolehkah?

Sat 20 June 2015 - 05:01 | 5029 views

Assalamualaikum warohmatullah

Ustadz, saya salah satu jamaah yang rutin ikut kajian fiqih mingguan ustadz zarkasih di masjid kantor saya. Terakhir kajian sebelum ramadhan ustadz menjelaskan tentang shalat tarawih. Ustadz juga sudah menjelaskan tentang perbedaan pendapat tentang jumlah rakaat shalat tarawih.

Yang jadi pertanyaan saya soal shalat tarawih yang 8 rakaat itu. Yang saya bingung itu kenapa orang-orang yang melakukan tarawih 8 rakaat, mereka sendiri berbeda dan berselisih tentang formatnya, ada yang 4 rakaat langsung ada juga yang 2 rakaat 2 rakaat, dan saya pernah menemui beberapa mereka justru berselisih tajam.

Mohon ustadz penjelasannya tentang hal ini ditinjau dari pandangan 4 madzhab fiqih. Bagaimana seharusnya, apakah 4 rakaat langsung atau 2 rakaat 2 rakaat sepeti biasa.

sebenernya kemarin sudah dijelaskan oleh ustadz zarkasih di masjid kantor, hanya saja saya ingin punya dokumentasi pribadi tertulis yang sekiranya bisa manfaat buat saya juga beberapa kawan di masjid dekat rumah. Syukran. wassalam

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Pada dasarnya memang jumhur ulama 4 madzhab sepakat dalam berpendapat tentang sholat sunnah yang dikerjakan di malam hari, yakni anjurannya dikerjakan dengan format 2 rakaat dan satu kali salam, bukan 4 rakaat dengan satu salam. Ini sesuai dengan hadits Nabi saw yang diriwayatkan dari Ibnu Umar, Rasul saw bersabda:

صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى ، فَإِذَا خَشِىَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى

“sholat malam itu 2 (rakaat) 2 (rakaat), jika kalian takut akan datangnya subuh, maka sholatlah satu rakaat (witir) sebagai penutup” (Muttafaq ‘Alayh)

Karenanya jumhur ulama merutinkan shalat tarawih di malam ramadhan dengan format 2 rakaat 1 salam, karena memang shalat tarawih itu shalat sunnah yang dikerjakan malam hari. Dan salah satu hikmah sholat Tarawih itu dilaksanakan 2 rakaat 2 rakaat, karena sholat tarawih itu sholat malam yang dilakukan secara berjamaah, akan lebih mudah dan lebih ringan buat para Jemaah jika setiap 2 rakaat ditutup dengan salam. Dan sebaliknya, akan terasa berat kalau harus menunggu 4 rakaat untuk salam.

4 Rakaat Langsung

Untuk masalah sholat tarawih 4 rakaat dengan satu salam sekaligus, ini masalah yang ulama belum sepakat, artinya masih berbeda pendapat. Ada yang membolehkan dan ada juga yang melarang. -Akan lebih jelas nanti di akhir artikel akan disediakan fatwa dari masing-masing madzhab fiqih tentang shalat sunnah malam 4 rakaat langsung-.

Dan sejatinya yang melakukan itu wajar-wajar saja sejatinya tidak perlu dierdebatkan terlalu tajam dan dalam. Para ulama yang membolehkan itu berdalil dengan hadits yang diriwayatkan dari ‘Aisyah, Istri Nabi saw. Beliau berkata:

عن عائشةقَالَتْ : مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلاَ غَيْرِهِ عَلَى إحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَل عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَل عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ  ثُمَّ يُصَلِّي ثَلاَثًا

Dari Aisyah rahiyallahuanha berkata bahwa Rasulullah SAW tidak pernah menambah lebih dari 11 rakaat shalat di bulan Ramadhan atau di luar bulan Ramadhan. Beliau shalat 4 rakaat, jangan ditanya tentang kebagusan dan panjangnya. Kemudian beliau shalat 4 rakaat lagi dan jangan juga ditanya tentang kebagusan dan panjangnya. Kemudian beliau shalat 3 rakaat. (HR. Bukhari)

Kemudian didukung dengan riwayat lain, yakni riwayat tentang shalat witirnya Nabi s.a.w,. Beliau s.a.w. –dalam banyak riwayat hadits- pernah sholat witir langsung 3 rakaat dengan satu salam, pernah juga 5 rakaat dan 7 rakaat sekaligus. Kalau sholat sunnah malam itu harus 2 rakaat, pastilah Rasul memisahkan sholat witirnya 2 rakaat kemudian 1 rakaat, tapi tidak demikian, padahal witir juga termasuk sholat malam. Imam Ibnu KHuzaimah dalam Shahihnya (no. 1076) meriwayatkan:

عن عائشة :  أن النبي صلى اللَّه عليه وسلم كان يُوتِرُ بخمس رَكعَات لا يجْلِسُ ولا يُسَلِّم إلا في الأخيرة مِنْهن

Dari ‘Aisyah: “Nabi saw pernah sholat malam sebanyak 13 rakaat didalamnya witir dengan 5 rakaat. Dia tidak duduk dalam witir tersebut kecuali dirakaat terakhir, kemudian salam.” (diriwayatkan juga oleh Imam al-Syafi’i dalam Musnad-nya Tartib al-Sanadi, Bab 20: Shalat Witir, 1/194)

Jumhur = Afdhal 2 Rakaat

Jumhur ulama menilai hadits sayyidah ‘Aisyah itu dengan pemahaman yang berbeda. Mereka mengatakan –dalam banyak kitab- bahwa maksud hadits sayyidah ‘Aisyah itu bukanlah Nabi s.a.w. shalat 4 rakaat langsung, akan tetapi Nabi s.a.w. shalatnya tetap 2 rakaat, akan tetapi beliau istirahat di setiap selesai 4 rakaat. Karenanya sayyidah ‘Aisyah mengatakan 4 rakaat, maksudnya setiap 4 istirahat.

Perkara shalat witir yang dikerjakan dengan jumlah langsung ganjil memang ada riwayatnya, akan tetapi riwayat bahwa Nabi s.a.w. memotong witirnya dengan 2 rakaat 2 rakaat lalu ditutup dengan satu ganjil pun tidak sedikit. Artinya tetap saja yang namanya shalat malam dianjurkan dengan 2 rakaat 1 salam.

Berikut apa kata ulama 4 mazhab tentang sholat tarawih 4 rakaat dengan satu salam:

Mazhab Hanafi:

لو صلى التَّرَاوِيحَ كُلَّهَا بِتَسْلِيمَةٍ وَاحِدَةٍ وَقَعَدَ في كل رَكْعَتَيْنِ إن الصَّحِيحَ أَنَّهُ يَجُوزُ عن الْكُلِّ لِأَنَّهُ قد أتى بِجَمِيعِ أَرْكَانِ الصَّلَاةِ وَشَرَائِطِهَا لِأَنَّ تَجْدِيدَ التَّحْرِيمَةِ لِكُلِّ رَكْعَتَيْنِ ليس بِشَرْطٍ عِنْدَنَا هذا إقعد على رَأْسِ الرَّكْعَتَيْنِ قَدْرَ التَّشَهُّدِ فَأَمَّا إذَا لم يَقْعُدْ فَسَدَتْ صَلَاتُهُ عِنْدَ مُحَمَّدٍ وَعِنْدَ أبي حَنِيفَةَ وَأَبِي يُوسُفَ يَجُوزُ

Jika seseorang itu sholat tarawih seluruhnya dengan hanya 1 salam saja, dan duduk tasyahud disetiap 2 rakaat, maka sholatnya itu sah, karena ia telah memenuhi rukun dan syarat-syarat sholatnya. Karena (menurut mazhab hanafi) memperbaharui takbir-Ihrom disetiap 2 rakaat itu bukan syarat sholat, itu dengan catatan bahwa ia duduk di setiap penghujung rakaat kedua untuk bertasyahud. Kalau ia tidak bertasyahud, maka shalatnya tidak sah menurut Muhammad bin al-Hasan, akan tetapi sah menurut Imam Abu Hanifah dan Ya’qub Abu Yusuf. (Bada’i Al-Shona’i 1/289)

Mazhab Maliki:

(وَ) يُسْتَحَبُّ أَنْ (يُسَلِّمَ مِنْ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ) وَيُكْرَهُ تَأْخِيرُ السَّلَامِ بَعْدَ كُلِّ أَرْبَعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلَ عَلَى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ بِتَسْلِيمَةٍ وَاحِدَةٍ الْأَفْضَلُ لَهُ السَّلَامُ بَعْدَ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ

Sholat tarawih disunnahkan untuk dikerjakan 2 rakaat dengan satu salam. Dan makruh hukumnya untuk mengakhirkan salam samapi rakaat ke empat. Yang lebih afdhol itu salam distiap 2 rakaat. (al-Fawakih al-Diwani 1/319)

Mazhab Syafi’i:

فَلَوْ صلى أَرْبَعًا بِتَسْلِيمَةٍ لم يَصِحَّ لِشَبَهِهَا بِالْفَرْضِ في طَلَبِ الْجَمَاعَةِ

Jika seseorang melaksanakan sholat tarawih dengan 4 rakaat satu salam, sholatnya tidak sah. Karena kalau tarawih dikerjakan dengan 4 rakaat itu menyerupai sholat Fardhu dalam hal kesamaannya untuk dilakukan secara berjamaah. (Raudhoh al-Thalibin 1/334, Nihayatul Muhtaj 2/123, Ansal-Matholib 1/201)

Mazhab Hambali:

اعْلَمْ أَنَّ الْأَفْضَلَ فِي صَلَاةِ التَّطَوُّعِ فِي اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ: أَنْ يَكُونَ مَثْنَى، وَإِنْ زَادَ عَلَى ذَلِكَ صَحَّ، وَلَوْ جَاوَزَ ثَمَانِيًا لَيْلًا، أَوْ أَرْبَعًا نَهَارًا

Sesungguhnya yang Afdhol dalam melaksanakan sholat sunnah di siang dan malam hari itu 2 rakaat satu salam. Dan kalau lebih dari 2 rakaat itu sah. Dan bahkan sampai 8 rakaat di malam hari dan 4 rakaat di siang hari, dan inilah (pendapat) mazhab (hambali).  (Al-Inshof 2/132)

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Zarkasih, Lc