Konsultasi

al-Qur'an Turun Malam Lailatul Qadr atau 17 Ramadhan?

Fri 3 July 2015 - 03:49 | 5148 views
assalamualaikum warohmatullah ustadz ahmad,

sebenernya, Al-quran itu turun malem lailatul qodar apa tanggal 17 ramadhon sih? Kan di surat al-qodar, Al-qur’an turun malem lailatul qodar. Terus kata Nabi SAW kan lailatul qodar tuh ada disepuluh akhir bulan ramadhan. Kok orang-orang pada ngadain nuzulul quran tanggal 17 ramadhan?

mohon penjelasannya. terimakasih

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ya. Untuk menjelaskan hubungan antara surat al-Qadr yang menjelaskan bahwa al-Qur’an itu diturunkan pada malam lailatul-Qadr, dan antara ayat atau hadits lain yang justru sepertinya berbeda, perlu dijelaskan terlebih dahulu metode turunnya al-Qur’an kepada Nabi s.a.w. yang memang punya 2 metode menurut pendapat yang masyhur. Ulama Qur’an sering menyebutnya dengan istilah Kaifiyah al-Inzal.

Metode Diturunkannya Al-Qur’an (Kaifiyah Inzal)

Dalam kitab Al-Burhan Fi ‘Ulumil-Qur’an (1/228) karangan Syeikh Badruddin Az-Zarkasyi (W. 794 H), beliau mengatakan bahwa dalam hal ini para Ulama berbeda pendapat ke dalam 3 pendapat yang masyhur;

1.   Al-Qur’an turun dengan ayat yang lengkap semuanya ketika malam lailatul-Qadr ke bait-al-Izzah atau langit dunia dari al-Lauh al-Mahfudz. Kemudian turun secara berangsur-angsur melalui Jibril kepada Nabi Muhammad s.a.w. selama 20 atau 23 tahun kemudian dimulai dengan 5 ayat pertama al-‘Alaq.

2.   Al-Quran turun secara berangsur ke langit dunia (bait al-Izzah) di 20 atau 23 malam lailatul-Qadr selama 20 atau 23 tahun tersebut. Barulah setelah semuanya lengkap di langit dunia, Jibril menurunkannya berangsuran kepada Nabi Muhammad s.a.w., selama 20 atau 23 tahun.

3.   Al-Qur’an turun langsung kepada Nabi Muhammad s.a.w. secara berangsuran selama lebih dari 20 tahun dan dimulai di malam lailatul-Qadr.

Dan dari tiga pendapat tersebut, pendapat yang banyak dipegang oleh Jumhur Ulama, yaitu perndapat pertama Bahwa Al Qur’an diturunkan sekaligus ke langit dunia (daarul Izzah) pada malam Lailatul Qodr kemudian diturunkan dengan cara berangsur-angsur sepanjang kehidupan Nabi saw setelah beliau diangkat menjadi Nabi di Mekah dan Madinah sampai wafat beliau.  

[1] Al-Qur’an Diturunkan Secara Sekaligus

Ada beberapa ayat dan juga hadits yang menerangkan bahwa memang sebelum turun kepada Nabi Muhammad s.a.w secara langsung, al-Qur’an sudah terlebih dahulu diturunkan oleh Allah s.w.t. dari al-Lauh al-Mahfudz ke langit dunia atau yang biasa disebut oleh ulama dengan istilah Baitil-Izzah. Lalu setelah itu barulah Jibril ditugasi untuk menurunkannya berangsuran selama 20 atau 23 tahun kepada Nabi Muhammad s.a.w. yang dimulai dengan 5 ayat pertama surat al-‘Alaq.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ

“bulan Ramandhan adalah (bulan) yang didalamnya diturunkan Al-Qur’an.” (Al-baqoroh 185)

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“sesungguhnya kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan.” (Al-Qodr 1)

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ

“sesungguhnya kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam yang diberkahi.” (Ad-dukhon 3)

Dalam 3 ayat di atas, semua menjelaskan tentang turunnya Al-Qur’an pertama kali, yaitu pada bulan Ramadhan tepatnya malam lailatul qodar; malam kemuliaan. Dan pada surat Ad-Dukhon yang dimaksud malam mubarok ialah malam lailatul qodar pada bulan ramadhan sebagaimana yang dikatakan oleh kebanyakan ulama tafsir.

Walaupun ada beberapa ulama yang mengatakan malam Mubarak dalam surat al-Dukhan itu adalah malam Nisfu Sya’ban. Akan tetapi pendapat mayoritas mengatakan itu adalah malam lailatul-Qadr, sebagaiman dijelaskan oleh Imam al-Alusi dalam kitab Tafsirnya Ruuh al-Ma’aniy (13/110). Artinya memang al-Qur’an itu turun di bulan Ramadhan, bukan di bulan lain.

Ini dikuatkan dengan riwayat yang dikeluarkan oleh Imam Hakim dalam mustadrok-nya (2/242, No. 2879) dengan sanad yang shohih, dari Ibnu Abbas radhiyallhu ‘anhuma, beliau mengatakan:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: " أُنْزِلَ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ، ثُمَّ أُنْزِلَ بَعْدَ ذَلِكَ بِعِشْرِينَ سَنَةً

“bahwsanya Al-Quran itu turun sekaligus ke langit dunia pada malam lailatul qodr. Kemudian diturunkan berangsur-angsur selama 20 tahun, kemudia ia mambaca ayat,

Imam An-Nasa’I (no. 7991) juga meriwayatkan dengan sanad yang shohih dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata :

فَوُضِعَ فِي بَيْتِ الْعِزَّةِ فِي السَّمَاءِ الدُّنْيَا، فَجَعَلَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ يُنْزِلُهُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَيُرَتِّلُهُ تَرْتِيلًا

“……dan Al-qur’an diletakkan di baitil izzah dari langit dunia kemudian Jibril turun dengan membawanya kepada Muhammad SAW.”

[2] Al-Qur’an Diturunkan Secara Berangsuran

Setelah diturunkan secara lengkap (keseluruhan) dari Lauh Mahfudz ke langit Dunia (Baitul-Izzah), Al-Qur’an turun secara berangsuran selama 23 tahun; 13 tahun di Mekkah dan 10 tahun di Madinah -menurut pendapat lain; 20 tahun-. Dan turunnya Al-Qur’an secara berangsuran telah dijelaskan dalam firman Alla SWT,

وَقُرْآناً فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنزِيلاً

“Dan Al Quran itu telah kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan kami menurunkannya bagian demi bagian.” (QS. Al Isra : 106)

Dan inilah salah satu keistimewaan Al-qur’an, bahwa kitab suci ummat Nabi Muhammad ini turun secara berangsuran setelah sebelumnya diturunkan secara lengkap/sekaligus. Ini berbeda dengan kitab-kitab samawi lainnya yang diturunkan secara sekaligus, yaitu Injil, Taurat dan Zabur, tanpa ada angsurannya. Allah SWT berfirman:

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيل وَلَا يَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلَّا جِئْنَاكَ بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيرًا

Berkatalah orang-orang yang kafir: "Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?"; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar). Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya. (QS. Al-Furqan : 32-33)

Ayat pertama yang turun menurut kebanyakan ulama ialah surat Al-Alaq (dan ini adalah pendapat yang kuat), atau biasa kita sebut dengan surat Iqro’ ayat 1-5. Ini berdasarkan riwayat yang dikeluarkan oleh Imam BUkhori dan Imam Muslim dalam kitab Shohih keduanya dari ‘Aisyah radiyallahu ‘anha Istri Rasul SAW.

Sayyidah ‘Aisyah r.a. menceritakan secara panjang bahwa awal mula wahyu itu turun, Rasul s.a.w. melihatnya di mimpinya, sejak mimpi itu kemudian, Rasul s.a.w. menjadi suka ‘Uzlah atau menyenciri di gua untuk merenung dan berkomunikasi dengan Allah s.w.t., sampai akhirnya Jibril datang membawa wahyu surat al-‘Alaq.

Kapan Ayat Pertama Turun?

Adapun kapan surat Iqro’ itu diturunkan, ulama dan ahli sejarah berbeda pendapat tentang ini. Ada yang mengatakan bulan Rabiul Awwal, ada juga yang mengatakan bulan Ramadhan, dan ada juga yang mengatakan bulan Rajab. Namun pendapat yang dipegang jumhur ulama ialah ialah bulan Ramadhan sesuai firman Allah SWT : “bulan Ramandhan adalah (bulan) yang didalamnya diturunkan Al-Qur’an.” (Al-baqoroh 185).

Dan kebanyakan ulama juga sepakat bahwa surat Iqro’ adalah wahyu yang pertama turun, juga sebagai pengangkatan Nabi Muhammad SAW menjadi Nabi. Dan ini terjadi pada hari senin, sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Abu Qotadah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi SAW pernah ditanya tetang puasa hari senin, kemudian beliau menjawab:

ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ

“itu adalah hari di mana aku dilahirkan, aku diutus menjadi Rasul dan diturunkan kepadaku wahyu.”

Dan status bahwa wahyu pertama itu turun pada hari senin adalah kesepakatn ulama yang tidak ada satupun dari mereka menyelisih. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnu Katsir (W. 774 H) dalam al-Bidayah wa al-Nihayah (3/6). Hanya saja para sejarahan berbeda pada senin tanggal berapa wahyu itu turun?

Senin di Ramadhan Tanggal Berapa?

Kemudian Ulama kembali berbeda pendapat tentang tanggal turunnya pada bulan ramadhan. Ada yang mengatakan malam 7 ramadhan, ada juga yang mengatakan malam 17 ramadhan, ada juga yang mengatakan malam 24, juga ada yang mengatakan tanggal 21 ramadhan.

Imam Ibnu Katsir dalam kitabnya Al-Bidayah wan-Nihayah (3/6) menjelaskan,

وَرَوَى الْوَاقِدِيُّ بِسَنَدِهِ عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ الْبَاقِرِ أَنَّهُ قَالَ: كَانَ ابْتِدَاءُ الْوَحْيِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يوم الِاثْنَيْنِ، لِسَبْعَ عَشْرَةَ لَيْلَةً خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ وَقِيلَ فِي الرَّابِعِ وَالْعِشْرِينَ مِنْهُ

“Al-Waqidi meriwataykan dari Abu Ja’far Muhammad Al-Baqir yang mengatakan bahwa: ‘wahyu pertama kali turun pada Rasul SAW pada hari senin 17 Ramadhan malam dan dikatakan juga 24 Ramadhan.’”

Imam Ibnu Katsir –di halaman yang sama- menukil lagi riwayat dari Imam Ahmad bin Hanbal bahwa al-quran itu turunnya bukan di tanggal 17 Ramadhan, akan tetapi di tinggal 24 Ramadhan. Dan karena itu beberapa sahabat dan tabi’in berpendapat bahwa malam lailatul-Qadr itu adanya di malam 24 Ramadhan.

Sedangkan Sheikh Shofiyur-Rohman Al-Mubarokafuri mengatakan dalam kitab Siroh Nabawi karangannya al-Rahiq al-Makhtum (hal. 88):

 “setelah melakukan penelitian yang cukup dalam, mungkin dapat disimpulkan bahwa hari itu ialah hari senin tanggal 21 bulan Ramadhan malam. Yang bertepatan tanggal 10 Agustus 660 M, dan ketika itu umur Rasul SAW tepat 40 Tahun 6 bulan 12 hari hitungan bulan, tepat 39 tahun 3 bulan 12 hari hitungan matahari.”

Dan dari penjelasannya yang beliau paparkan dalam kitabnya tersebut, sepertinya beliau dalam hal kaifiyah Tanzil memilih pendapat yang ketiga dari pendapat-pendapat yang dijelaskan oleh al-Zarkasyi yang menyatakan bahwa al-Qur’an itu turun langsung kepada Nabi Muhammad s.a.w. selama 20 atau 23 tahun dan dimulai sejak malam lailatul-Qadr. Karena itu beliau meneruskan:

“Jika kita bandingkan firman Allah s.w.t. dalam surat Al-Qodr ayat pertama dengan hadits Abu Qotadah yang menjelaskan bahwa wahyu diturunkan hari senin di atas, dan dengan hitungan tanggalan tentang hari senin pada bulan Ramadhan tahun tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa wahyu pertama turun kepada Rasul SAW itu tanggal 21 Ramadhan malam.”

Ini berbeda dengan jumhur ulama lain yang dalam hal kaifiyah Inzal menyatakan bahwa al-Qur’an turun 2 kali; Pertama turun sekaligus semuanya dari al-Lauh al-Mahfudz ke langit dunia, dan yang kedua turun berangsuran kepada Nabi Muhammad s.a.w melalui malaikat Jibril dan dimulai hari senin di gua hira’.    

Kesimpulan

Kesimpulannya bahwa malam lailatul-Qodr yang disebut sebagai malam turunya Al-qur’an ialah benar, karena itu ialah malam yang al-qur’an turun secara lengkap sekaligus dari Lauh-Mahfuzd ke langit dunia (Baitul-Izzah). Dan Al-qur’an turun secara berangsuran yang didahului dengan surat Al-‘Alaq ayat 1-5 yang juga momentum pengangkatan Muhammad SAW menjadi Rasul ialah pada 17 Ramadhan yang sering dirayakan oleh kebanyak ummat Islam di Indonesia.

Walaupun penetapan malam 17 ramadhan sebagai waktu awalnya turun Al-qur’an itu juga masih diperselisihkan oleh kebanyakan Ulama, sebagaimana dijelaskan diatas.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Zarkasih, Lc