Konsultasi

Tempat I'tikaf Wanita di Rumahnya

Wed 1 July 2015 - 04:22 | 1457 views
assalamualaikum ustadz,
teman saya ada yang mengatakan kalau itikaf wanita itu tempatnya tidak harus dimasjid, tapi bisa di tempat ia biasa shalat. misalnya seperti kami di pesantren wanita ini, kami punya tempat khusus kami shalat dan itu bukan masjid. lalu ada yang bilang lagi kalau i'tikaf itu harusnya di masjid yang didirikan di dalamnya shalat jumat.

pertanyaannya, apakah memang ada ihktilaf dalam masalah tempat i'tikaf utnuk wanita, ustadz? haruskah masjidnya yang dipakai untuk shalat jumat? karena memang pengertian i;tikaf itu lan berdiam di masjid. mohon penjelasannya ustadz.

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Memang masalahnya bersumbu pada tempat shalat si wanita itu sendiri. Dan sudah tidak ada yang memungkiri lagi bahwa paling afdhalnya shalat wanita itu di rumahnya. Banyak hadits yang menjelaskan tentang ini, bahwa sebaik-baik shalatnya wanita adalah di rumahnya, atau di temoat shalat yang tersedia di rumahnya bukan di masjid. Berbeda dengan laki-laki.

Karena itulah, dalm hal ini ulama berbeda pendapat tentang I’tikaf-nya wanita, apalah di masjid? Atau memang boleh di masjid rumahnya, yakni di tempat shalat yang ada di rumahnya? Artinya kalau memang mereka berada di pesantren khusus wanita, maka tempat shalat mereka itulah jadi tempat I’tikaf, walupun itu bukan masjid.

Imam Ibnu Rusyd al-Qurthubiy dalam kitabnya Bidayah al-Mujtahid (hal. 250) menyebutkan bahwa salah satu sumbu perbedaan dalam masalah ini adalah Qiyas I’tikaf dengan shalat yang memang dipakai oleh beberapa ulama. Karena memang I’tikaf itu sama dengan shalat, maka tentu sangat afdhal sekali kalau itu dilakukan di tempat shalat, dan tempat shalatnya wanita ya di rumah.

Jumhur = I’tikaf Wanita Hanya di Masjid

Hanya saja jumhur tidak memandang seperti itu. Mereka berpendaapat bahwa yang namanya I’tikaf itu tidak sah kecuali jika dilakkan di masjid. Masjid dalam arti yang sesugguhnya, yakni dibangun untuk shalat dan didirikan di dalamnya shalat 5 waktu walaupun tidak untuk shalat jumat.

Dasarnya adalah firman Allah SWT :

وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

“…Dan kamu dalam keadaan beri’tikaf di dalam masjid.”  (QS. Al-Baqarah : 187)

Jumhur ulama menilai bahwa disandarkannya I’tikaf kepada masjid dalam ayat di atas itu menunjukkan syarat, bahwa I’tikaf haruslah dilakukan di masjid. (Bidayah al-Mujtahid hal. 250)

Jumhur juga berdalil dengan perkataan sayyidina Ibn Abbas r.a. yang dengan tegas menyatakan bahwa tidak ada I’tikaf kecuali di masjid sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi dalam al-Sunan al-Kubro (4/316):

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : إِنَّ أَبْغَضَ الأُمُورِ إِلَى اللَّهِ الْبِدَعُ ، وَإِنَّ مِنَ الْبِدَعِ الاِعْتِكَافَ فِى الْمَسَاجِدِ الَّتِى فِى الدُّورِ.

Dari Ibn Abbas r.a.: “perkara yang paling dibenci Allah s.w.t., adalah bid’ah, dan termasuk bid’ah adalah beri’tikaf di masjid yang ada di rumah”.

Kemudian juga diperkuat dengan apa yang dilakukan oleh istri-istri Nabi Muhammad s.a.w. yang meminta izin I’tikaf di masjid, lalu Aisyah mendirikan semacam bilik untuknya beri’tikaf di masjid. Ini yang diriwayatkan oleh Imam Ibn Hibban dan kitab haditsnya, Shahih Ibn Hibban (Bab Kebolehan I’tikaf wanita di masjid bersama suaminya). Dan kalau seandainya rumah mereka lebih baik daripada masjid, pastilah Rasul s.a.w., tidak memberikan izin kepada istri-istri mereka, dan memerintahkan mereka beri’tikaf di tempat shalat yang ada di rumah mereka.

Walaupun memang mereka sepakat bahwa I’tikaf itu di masjid, akan tetapi Imam al-Buhuti dalam Kasysyaf al-Qina’ (2/325) menjelaskan bahwa madzhabnya, madzhab al-Hanabilah mensyaratkan bahwa masjid yang dijadikan tempat I’tikaf itu haruslah masjid Jami’ yang memang didirikan shalat jum’at di dalamnya. sedangkan madzhab lainnya berpendapat bahwa i'tikaf sah dilakukan di masjid mana saja walaupun bukan masjid jami'. Masjid jami' bukan syarat i'tikaf hanya saja masjid jami' adalah bentuk i'tikaf yang utama. (al-Majmu' 6/497)

Al-Hanafiyah = Wanita I’tikaf di Rumah

Berbeda dengan jumhur ulama, madzhab ini memandang bahwa I’tikaf itu sama seperti shalat, karenanya ia harsu dikerjakan di tempat shalat. Dan tempat shalat wanita yang paling utama sesuai denga hadits Nabi s.a.w. adalah tempat shalat di rumah-rumah mereka. maka sangat sah mereka melakuka I’tikaf di tempat shalat di rumahnya tersebut.

Dan perlu diingat, madzhab ini tidak mensyaratkan harus di masjid rumah, akan tetapi ini bentuk I’tikaf yang afdhal dan utama bagi wanita. Sedangkan jika ia ingin I’tikaf di masjid bersama Jemaah laki-laki, tentu tidak mengapa hanya saja akan jauh lebih afdhal di tempat yang biasa ia gunakan untuk shalat di rumahnya.

Karenanya, madzhab ini juga tidak mengatakan I’tikaf wanita sah di rumahnya, jika memang ia tidak punya tempat yang biasa ia gunakan untuk shlata di rumahnya tersebut. Artinya harus ada rungan khusus shalat, kalau tidak ada ya harus di masjid.

Dalam kitab Tabyiin al-Haqaiq (1/350) Imam al-Zaila’iy dari kalangan al-Hanafiyah menjelaskan:

قَالَ - رَحِمَهُ اللَّهُ - (وَالْمَرْأَةُ تَعْتَكِفُ فِي مَسْجِدِ بَيْتِهَا) لِأَنَّهُ هُوَ الْمَوْضِعُ لِصَلَاتِهَا فَيَتَحَقَّقُ انْتِظَارُهَا فِيهِ وَلَوْ اعْتَكَفَتْ فِي مَسْجِدِ الْجَمَاعَةِ جَازَ وَالْأَوَّلُ أَفْضَلُ وَمَسْجِدُ حَيِّهَا أَفْضَلُ لَهَا مِنْ الْمَسْجِدِ الْأَعْظَمِ

(Imam an-Nasafi rahimahullah) mengatakan seorang wanita beri’tikaf di masjid rumahnya; karena memang itu adalah tempat shalat baginya, maka sah saja beri’tikaf di dalam masjid rumah tersebut. Akan tetapi jika wanita itu beri’tikaf di masjid jami’ itu juga boleh, akan tetapi yang pertama (I’tikaf di masjid rumah) lebih afdhal. Dan masjid desanya lebih baik dibanding masjid kotanya.

وَلَيْسَ لَهَا أَنْ تَعْتَكِفَ فِي غَيْرِ مَوْضِعِ صَلَاتِهَا مِنْ بَيْتِهَا وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ مَسْجِدٌ لَا يَجُوزُ لَهَا الِاعْتِكَافُ فِيهِ

Dan tidak dibolehkan bagi wanita beri’tikaf di selain tempat shalat yang ada di rumahnya. Dan kalau memang ia tidak punya masjid (tempat shalat) di rumahnya, berarti ia tidak bisa beri’tikaf di situ (rumahnya).

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Zarkasih, Lc