Konsultasi

Merayakan Ulang Tahun itu Haram, Kata Siapa?

Thu 15 October 2015 - 06:41 | 1170 views

Assalamualaikum ustadz.

Mohon bertanya tentang hukum merayakan ulang tahu bagi orang muslim. Ini merupakan sebuah kebiasaan yang banyak dilakukan oleh orang-orang kita, bahkan semua orang di dunia. Saya mendengar bahwa seorang muslim diharamkan merayakan tersebut karena itu merupakan bentuk menyerupai orang non-muslim dan itu juga disebutkan dalam kitab suci mereka. benarkah ini ustadz? Mohon penjelasannya.

Assalamualaikum warohmatullah wabarokatuh.

Kebiasaan merayakan ulang tahun atau hari jadi atau juga hari kelahiran yang biasa dilakukan oleh kebanyakan orang Indonesia bahkan di dunia bukanlah bentuk ibadah akan tetapi ini sebuah kebiasaan. Artinya memang kebiasaan ini bukanlah persembahan seorang manusia kepada Allah s.w.t., berbeda dengan yang namanya ibadah yang mana itu murni dipersembahkan kepada Allah s.w.t., maka aturannya pun Allah s.w.t. yang mengatur, karena memang itu untuk-Nya.

Seperti shalat, puasa, haji serta juga berthaharah, manusia tidak punya kepentingan di dalamnya, itu semua murni sembahan kepada Allah s.w.t., karenanya Allah s.w.t. jugalah yang mengatur bagaimana bentuk persembahan itu.

Kebiasaan atau adat bukanlah bentuk persembahan, akan tetapi bukan berarti tidak ada nilai ibadahnya. Sama seperti kebiasaan pada umumnya; makan minum, tidur, bekerja, itu semua bentuk pekerjaan yang dasarnya adalah adat, kebiasaan dan bukan ibadah. Akan tetapi bisa bernilai ibadah jika memang dilakukan dengan motivasi keagamaan dan dengan bentuk yang tidak melanggar syariah.

Itulah yang disepakati oleh fuqaha dalam masalah kebiasaan atau yang dalam bahasa syariah disebut dengan al-‘Adah. Hukum asal dalam ‘Adah atau kebiasaan adalah boleh, selama dalam pelaksanaannya tidak ada sesuatu yang menabrak dinding syariah.

Yang disebut menabrak dingding syariah adalah melakukan pelanggaran yang berbuat dosa. Jadi kalau menilai sebuah kebiasaan apakah itu boleh dalam Islam atau justru terlarang, maka kita lihat unsur-unsur kebiasaan itu sendiri, apakah ada daru unsur-unsur itu yang melanggar syariah?

Setidaknya dalam sebuah kebiasaan ada 2 unsur yang mendasari kebiasaan itu terjadi lalu dilaknasakan dan dirutinkan kemudian menjadi kebiasaan. Unsur yang pertama adalah

1. Motivasi,

2. Bentuk Pengamalan atau Aplikasinya.

Artinya dalam menentukan sebuah kebiasaan apakah itu sejalan dengan ruh syariah atau justru menjadi sebuah kebiasaan yang melanggar syariah, tinggal dilihat apa motivasi mengamalkan kebiasaan itu. Apakah motivasinya yang menjadi dasar itu sejalan dengagn syariah? Artinya bukan sesuatu yang dilarang. Setelahnya, kita lihat, bagaimana mereka mengerjakan itu? Motivasinya memang sudah benar, akan tetapi aplikasinya di lapangan, apakah memakai sesuatu yang dilarang misalnya? Ataukah ada bentuk-bantuk yang justru menyimpang dari ajaran syariah? Seperti menggunakan symbol-simbol kekufuran, atau juga dalam pelaksanaannya justru membuat orang-orang yang ada di situ melalaikan kewajiban, misalnya meninggalkan shalat 5 waktu, atau menyantap makanan-makanan yang tidak halal.

Nah dari sini, kita bisa menghukumi kebiasaan mengadakan perayaan ulang tahun, atau juga hari jadi serta hari kelahiran. Apa motivasi merayakan hal tersebut? Lalu bagaimana perayaan itu dilaksanakan?

1. Motivasi Ulang Tahun

Biasanya yang mendasari orang merayakan ulang tahun atau hari jadi itu adalah bentuk syukur mereka akan hidup dan umur yang Allah s.w.t. anugerahkan kepada mereka. lahirnya manusia ke bumi ini itu merupakan sebuah nikmat dan dipanjangkan umur sjuga tambahan nikmat. Apakah keliru jika orang bersyukur? Justru memang seorang muslim yang bertuhankan Allah s.w.t., selalu dituntut untuk bersyukur kepada-Nya.

Beberapa ulama yang membolehkan adanya perayaan ulang tahu atau hari jadi seperti dar al-Ifta’ al-Mishriyyah, atau majlis fatwa Mesir berdalil dengan ayat 15 dan juga ayat 33 surat Maryam, dimana Allah s.w.t. memberikan penghormatan pada hari kelahiran nabi Yahya a.s. dan jua Nabi Isa a.s. memberikan penghormatan atas kelahirannya.

“Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali.” (Maryam 15)

“dan Kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaKu, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali". (Maryam 33)

Lebih jauh lagi, bahwa mensyukuri hari jadi itu juga sebagai symbol syukur akan nikmat iman yang ada dalam jiwa. Nikmat tetap dalam keimanan juga merupakan nikmat yang agung dan tidak ternilai; karena memang tidak ada manusia yang lahir ke bumi kecuali sudah mengikat janjai syahadat kepada Allah s.w.t.

“dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi". (kami lakukan yang demikian itu)” (al-A’raf: 72)

Jadi selama motivasi yang dijadikan dasar pelaksanaan tersebut lurus dan bersih dari niat-niat buruk, seperti pamer kekayaan dan kemewahan, tentu yang seperti itu jauh dari nilai-nilai keislaman.

2. Aplikasi Pelaksanaan

Setelah meninjau motivasi yang menjadi dasar pelaksanaa ulang tahu atau hari jadi tersebut, teknis perayaan dan aplikasinya juga diperhatikan. Karena motivasi yang baik saja tidak cukup, motivasi yang baik haruslah diimplementasikan dengan teknis pelaksanaan yang juga tidak kotor dan tidak melanggar syariah.

Artinya dalam merayakan ulang tahu tersebut jangan sampai ada hal-hal yang diharamkan dalam Islam, seperti adanya minuman yang memabukkan, menghamburkan makanan, hiburan yang mengumbar aurat, berleha-leha sampai melalaikan waktu shalat dan sejenisnya. Atau juga melakukan hal yang merupakan ciri khas keagamaan orang non-muslim.

Karenanya jika memang ingin merayakan hari jadi atau hari ulang tahun sebagai bentuk syukur nikmat yang Allah s.w.t. berikan, akan sangat baik dan bermanfaat sekali jika diisi dengan kegitana-kegiatan positif yang jauh dari berhambur-hambur juga melalaikan kewajiban muslim.

Dulu, Nabi kita, Muhammad s.a.w. telah mencontoh bagaimana Nabi s.a.w. ‘merayakan’ hari kelahirannya dengan melakukan puasa sunnah si hari senin, sebagai bentuk syukur dan ketaatan kepada sang Khaliq.

Tasyabbuh dengan non-Muslim?

Kalau dikatakan merayakan ulang tahu atau hari jadi dengan tasyabbuh kepada orang non-muslim, maka harus diketahui bahwa yang terlarang bagi muslim untuk bertasyabbuh atau menyerupai kaum non-muslim itu adalah dalam hal-hal peribadatan mereka. yakni pekerjaan yang mengandung nilai ibadat dalam keagamaan mereka. bukan pada kebiasaan yang steril dari nilai penghambaan.

Kalau seandainya yang mirip-mirip dengan non-muslim walapun masalah non-ibadah, pastilah apa yang kita lakukan ini terlarang semuanya. Belajar di kelas dengan meja dan juga bangku, itu bukan muslim yang memulianya. Berhubungan dengan saudara muslim lainnya dengan media sosial internet, itu bukan muslim yang memulainya. Berpakaian dengan celana dan berdasi juga bukan muslim yang pertama memulai.

Imam Muhammad bin Ali Al-Hashkafi dari kalangan petinggi madzhab Hanafi yang juga pengarang kitab Al-Dur Al-Mukhtar mengatakan:

إِنَّ التَّشَبُّهَ ( بِأَهْل الْكِتَابِ ) لاَ يُكْرَهُ فِي كُل شَيْءٍ ، بَل فِي الْمَذْمُومِ وَفِيمَا يُقْصَدُ بِهِ التَّشَبُّهُ

"tidak selamanya tasyabbuh (menyerupai orang non-muslim) itu negative dan dibenci. Kecuali tasyabbuh pada keburukan dan yang memang diniatkan untuk meniru gaya mereka." (Al-Dur Al-Mukhtar 1/624)

Jadi memang apa yang datang dari barat (baca: non-muslim) tidak selamanya buruk, dan juga tidak selamanya baik. Hanya saja seorang muslim perlu filter untuk menyaring mana yang baik dan mana yang buruk. Mana yang bisa diambil manfaatnya mana yang tidak ada kemasalahatannya.

Pun kalau dikatakan bahwa ada perayaan ulang than yang disebutkan dalam kitab suci agama mereka, maka harus diketahui bahwa apa yang ditulis dalam kitab suci itu tidak berarti itu adalah sikap penghambaan yang masuk dalam ranah ibadah mereka. toh di dalam al-Quran pun tidak semua syariat, ada di dalamnya kisah-kisah kaum terdahulu dan bahkan ada kisah-kisah kaum jahiliyah dan juga orang-orang kafir.

Wallahu a’lam. Wassalamualaikum warohmatullah wabarokatuh.

Ahmad Zarkasih, Lc.