Konsultasi

Ketika Ada Berita, Bagaimana Sikap Seorang Muslim?

Tue 20 October 2015 - 07:39 | 1096 views

Assalamualaikum ustasdz.

Ada hal yang ingin saya bagikan sejaligus jadi pertanyaan saya kepasa ustadz Ahmad dan juga ustadz2 lain di rumahfiqih, yaitu soal berita dan banyaknya hox yang menyebar di media sosial sekrarang ini. banyak berita di luaran sana yang isinya kebencian dan saling menjatuhkan. Yang anehnya, pembuat berita adalah muslim dan pihak yang ‘diserang’ juga muslim. Salng menjatuhkan, saling menghina.

Nah entah apa motifnya, akan tetapi teradang kita ikut2an menshare berita itu tanpa klarifikasi dan verifikasi terlebih dahulu. Yang kemudian baru ketahuan bahwa berita itu bohong. Akhirnya saling menjatuhkan dan mencaci sudah terlanjur terjadi akan tetapi saling memafkan kok ngga ada.

Ustadz, jujur saja, saya termasuk orang tersebut, yang asal menshare berita tanpa ada periksa dan tabayyun. Hanya karena berita itu sesuai dengan ego dan kebencian saya terhadap objek berita tersebut, akhirnya saya share. Namum belakangan saya tahu bahwa Islam tidak mengajarkan itu. Dan Alhamdulillah saya tobat share2 berita kebencian semacam itu.

Mohon ustadz petunjuknya dan wejangannya, bagaimana sikap seorang muslim jika menemukan sebuah berita seperti sekarang ini. apalagi berita yang viral? Mohon penjelasannya.

Assalamualaikum warohmatullah wabarokatuh.

Ketika mendapat sebuah kabar penting, sejatinya seorang muslim itu sudah punya patron yang jelas, dan itu termaktub dalam kitab suci mereka. Dalam ayat 6 surat al-Hujurat:

أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu."

Ayatnya sudah jelas, bunyi dan maknanya punya makna yang amat sangat terang; bahwa ketika seorang muslim itu mendapat suatu berita dan itu penting, wajib baginya untuk verifikasi kebenaran berita tersebut. Jangan asal share tanpa mau tahu kebenaran berita tersebut. Jangan hanya berpikir bahwa berita itu mendukung kepentingan kelompoknya atau juga ideologinya, seperti mencari justifikasi kebenaran.

Kalau memang itu bersangkutan dengan seseorang, yang harus dilakukan ialah Klarifikasi kepada pihak yang menjadi objek berita tersebut. Jangan hanya mendengar "katanya-katanya" saja. Apalagi jika berita itu datang dari pihak yang memang dikenal sebagai musuhnya, yang sudah pasti punya tendensi menjatuhkan.

Siapa Pembawa Berita?

Pembawa berita pun menjadi ukuran boleh tidaknya berita itu diterima, apakah dia fasiq atau tidak. karena kalau fasiq, bisa saja beritanya dilebihkan atau bahkan dikurangi sesuai kepentingan si fasiq itu sendiri. Maka dalam penerimaan hadits, ulama hadits sepakat tidak menerima hadits yang di dalamnya ada perawi "Majhul", atau tidak diketahui. Karena bisa jadi ia adalah seorang yang fasiq. Terlebih lagi ini didasari bahwa memang hadits itu kabar penting yang menjadi sandaran dalil dan petunjuk bagi orang muslim dalam kesehariannya yang berkaitan dengan halal dan haramnya suatu perkara.

Menjadi kewajiban memang bagi seorang muslim untuk mem-verifikasi kebenaran berita yang datang. Terlebih lagi zaman sekarang yang semua orang bisa dengan bebasnya men-share berita tanpa ada filter, semua bergantung kepada kehati-hatian kita sebagai muslim. Mau ikut-ikutan menuduh tannpa ada klarifikasi terlebih dahulu, mau mencederai kehormatan saudara muslim, atau ikut caci maki seperti berita yang dibawa, ikut mencela, ikut menyebarkan fitnah? Tinggal pilih yang mana.

Tapi, yang bawa berita itu seorang ustadz, loch?!?!

Masalahnya bukan ustadz atau non-ustadz. Justru ketika berita itu menyangkut harga diri dan kehormatan saudara muslim, entah itu tuduhan kafir atau menyimpang dari syariah atau juga tuduhan melakukan dosa besar. Harusnya kita yang mendengar, mesti bisa menahan diri untuk tidak ikut membicarakan keburukan saudara muslim itu.

Justru dengan menyebarkan berita fitnah dan tuduhan tanpa ada verifikasi dan klarifikasi, itu yang mencedera status ke-ustadz-an beliau. Ibarat kasarnya begini: "ustadz kok ngomongin orang yang jelek-jelek?" bagitu.

Kalau dalam hal berbicara, muslim sudah punya patron yang memang sudah digariskan oleh rasulullah saw:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِالله وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

"siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka ia harus berkata baik atau diam" (HR, al-Bukhari)

Ini patron bicaranya orang muslim. Kalau tidak bisa berbicara baik ya diam saja. Jadi sebelum bicara baik lisan atau pun tulisan, sebaiknya difikirkan asas masalahat dan manfaatnya. Apakah lisan atau tulisan ini baik, bermanfaat dan membawa maslahat? Atau malah membawa keburukan dan mengundang orang lain untuk saling fitnah dan tuduh-menuduh sesama saudara muslim?

Ketika terdengar berita yang menyangkut kehormatan saudara muslim, diam itu adalah jalan terbaik. Berbicara dan ikut menyebarkan, justru itu petaka. Dengan berbicara –benar atau tidaknya berita tersebut- kita telah berdosa. Karena kita berghibah kalau berita itu benar, dan kita telah melakukan fitnah kalau itu salah.

Bukankah orang muslim itu adalah yang menjaga saudara muslim lainnya dari lisan dan tangannya? Sabda beliau shallahu 'alaihi wassallam:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

"orang muslim itu ialah yang menjaga muslim lainnya dari lisan dan tangannya" (Muttafaq 'alaih)

Justru dengan diam, kita mendapat keuntungan, baik untuk ketenangan hati, juga keuntungan sosial di mata masyarakat yang lain. Jika berita itu salah, sungguh sangat beruntung kita yang menahan berbicara dan berbagi berita bohong tersebut. Akan tetapi jika itu benar, kita pun tidak akan berdosa; karena seorang muslim tidak pernah dituntut atas apa yang mereka tidak tahu. Jadi memang benar apa yang dikatakan Nabi s.a.w., diam adalah solusi terbaik di zaman simpang-siur berita seperti sekarang ini.

Kalau sudah terlanjur menyebarkan. Bagaimana?

Ya. Berusaha menarik kembali apa yang sudah disebarkan. Mungkin sulit dan memangsangat sulit, mengingat kabar tersebut mungkin sudah lama sekali disebarkan, dan tidak ingat lagi, bahkan juga lupa, sudah berapa kali men-share berita tersebut, karena bukan hanya di akun pribadi saja, tapi di akun orang lain bahkan grup juga.

Ya harus dilakukan adalah meminta maaf di tempat yang mana orang banyak melihat itu. Dena memberikan verifikasi bahwa kabar yang dulu sempat disebarkan itu adalah kabar bohong atau kabar fitnah yang tidak jelas verifikasinya serta berlum ada klarifikasi.

Setelah itu, harus menahan diri dan mencukupkan hati untuk tidak lagi menyebarkan berita penting yang menyangkut kehormatan saudara muslim kecuali setelah verifikasi dan klarifikasi kepada yang bersangkutan. Bulatkan dalam hati untuk tidak lagi mengundang orang lain ikut memfitnah karena sebab berita yang kita sebarkan. insyaAllah semua clear.

Wallahu a’lam. Wassalamualaikum warohmatullah wabarokatuh.

Ahmad Zarkasih, Lc.