Konsultasi

Karena Jatuh di Hari Jumat, Puasa Asyuro Jadi Terlarang?

Mon 26 October 2015 - 06:15 | 744 views

Assalamualaikum ustadz Ahmad,

Pertanyaan ini agak terlambat, yaitu soal puasa asyuro; 10 muharram kemarin yang jatuh di hari jumat. Ada beberapa orang yang saya temui mengatakan bahwa puasa di asyuro kemarin ngga boleh karena jatuhnya di hari jumat, maka puasanya hari setelahnya saja. Bagi saya ini informasi yang aneh sekali. Yang jadi pertanyaan apa benar memang begitu ustazd? Mohon penjelasannya?. Syukron.

Assalamualaikum warohmatullah wabarokatuh.

Memang kalau melihat kepada teks yang ada, terdapat dalam musnad Imam Ahmad dari sahabat Ibnu Abbas r.a., bahwa Nabi s.a.w. pernah melarang untuk berpuasa di hari jumat tanpa mendahului puasa di hari sebelumny atau sesudahnya; karena memang jumat adalah hari raya muslim pekanan.

إِنَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ عِيدُكُمْ فَلاَ تَجْعَلُوا يَوْمَ عِيدِكُمْ يَوْمَ صِيَامٍ إِلا أَنْ تَصُومُوا قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ

“sesungguhnya hari jumat adalah hari raya kalian, jangan kalian jadikan hari raya kalian sebagai hari berpuasa, kecuali kalian mendahului puasa di hari sebelumnya atau hari sesudahnya”. (HR Imam Ahmad)

Akan tetapi jumhur ulama 4 madzhab sepakat bahwa larangan yang ada dalam hadits ini bukanlah larangan yang berbuah keharaman, akan tetapi larangan dalam hadits ini adalah larangan karahah. Maksudnya bukan untuk sebuah keharaman, akan tetapi kemakruhan saja, yang mana jelas berbeda konsekuensinya dengan haram. Haram dikerjakan berdosa, sedang makruh dikerjakan tidak menghasilkan dosa. Artinya berpuasa di hari jumat saja sejatinya tidak terlarang menurut jumhur ulama 4 madzhab.

Walaupun demikian, kemakruhan yang ada dalam hadits ini tidak bisa diterapkan pada hari jumat 10 Muharram kemarin; karena memang 10 muharram masuk dalam kategori puasa-puasa sunnah yang memang dianjurkan untuk dilakukan tanpa melihat pada hari apa jatuhnya. Kemakruhan puasa hari jumat –saja- itu berlaku untuk puasa-puasa sunnah mutlak yang tanpa sebab. Ulama menyebutnya puasa Nafil; yakni puasa yang dikerjakan bukan karena sebab dan tidak punya wkatu tertentu dan juga bukan di waktu terlarang.

Dalam hal ini, sama halnya dengan waktu terlarang untuk shalat. Kita tahu bahwa memang ada waktu di mana shalat terlarang untuk dilaksanakan. Di antaranya setelah subuh juga setelah ashar. Akan tetapi larangan shalat tersebut berlaku bagi mereka yang ingin mengerjaka shalat sunnah mutlak. Sedangkan shalat wajib atau juga shalat sunnah yang ada sebabnya, tidak masalah dikerjakan walaupun di waktu terlarang. Seperti sunnah tahiyatul-masji, atau juga shalat qadha.

Mungkin kemudian timbul pertanyaan: “Kalau begitu, berarti ada puasa sunnah mutlak yang tidak ada sebab dan waktu tertentu, juga tidak dijelaskan oleh teks hadits? Bisa dikatakan tanpa dalil khusus?”

Memang puasa sunnah itu tidak terbatas puasa yang memang ada anjurannya secara rinci disebutkan dalam teks hadits; namanya dan juga waktunya. Di samping itu ada juga puasa sunnah yang memang mutlak tidak ada sebab dan waktu tertentu, juga tidak secara rinci disebutkan dalam teks. Ulama menyebutnya Shaum al-Nafil, beberapa yang lain menyebutnya Shoum al-Tathawwu’i.

Banyak teks-teks ulama dalam kitab mereka yang menunjukkan adanya puasa sunnah mutlak ini. di antaranya:

Imam Ibnu al-Humam (861 H), ulama besar dari kalangan al-Hanafiyah dalam kitabnya Fathul-Qadir (2/45) menjelaskan:

وَالْمَنْدُوبُ : صَوْمُ ثَلاثَةٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَيَنْدُبُ فِيهَا كَوْنُهَا الأَيَّامَ الْبِيضَ , وَكُلُّ صَوْمٍ ثَبَتَ بِالسُّنَّةِ طَلَبُهُ وَالْوَعْدُ عَلَيْهِ كَصَوْمِ دَاوُد عليه الصلاة والسلام وَنَحْوِهِ . وَالنَّفَلُ : مَا سِوَى ذَلِكَ مِمَّا لَمْ تَثْبُتْ كَرَاهَتُهُ

“puasa Manduub (sinonim sunnah): puasa 3 hari setiap bulan, dianjurkan 3 hari itu adalah hari-hari putih (al-Bidh; dimana bulan sedang purnama; tgl 13, 14, 15), juga puasa yang hadits menetapkan anjuran serta janji pahala seperti puasa Daud a.s.. Dan (jenis) puasa Nafl: selain hari-hari itu selama tidak ada teks yang memakruhkannya (melarangnya).

Imam Ibn Juziy (741 H), ulama masyhur dari kalangan al-Malikiyah juga menjelaskan dalam kitabnya al-Qawanin al-Fiqhiyyah (hal. 132) menjelaskan tentang jenis-jenis puasa dilihat dari hukum syar’i-nya; Wajib, Mustahabb, sunnah, Nafilah dan haram serta makruh:

والنافلة كل صوم لغير وقت ولا سبب في غير الأيام التي يجب أو يمنع

“(Puasa) Nafilah adalah segala puasa tanpa waktu dan sebab (tertentu) di hari-hari yang tidak diwajibkan dan tidak terlarang (berpuasa)”

Dalil Puasa Tathawwu’

Sejatinya dari teks hadits kemakruhan puasa jumat –saja- pun sudah bisa kita ketahui, bahwa memang puasa tathawwu’ atau sunnah mutlak tanpa sebab itu dibolehkan selama itu bukan di hari jumat, kalau di hari jumat ya dahulukan hari sebelumnya atau hari sesudahnya. Kalau memang puasa tanpa sebab itu terlarang, tentu kenapa jumat saja yang ada teks-nya?

Artinya hari-hari lain dibolehkan berpuasa, selama bukan hari yang dilarang. Kalau memang diharamkan berpuasa tanpa sebab, kenapa hanya hari jumat yang ada larangannya? Sama halnya seperti makanan, bahwa makanan bagi ornag muslim itu halal dan boleh kecuali yang memang dilarang dan disebutkan dalam teks wahyu; baik al-Qur’an atau juga sunnah.

Selain itu, beberapa ulama berdalil dengan apa yang dilakukan oleh Nabi s.a.w., yang disebutkan dalam shahih Imam Muslim riwayat sayyidah ‘Aisyah r.a.,

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: - دَخَلَ عَلَيَّ اَلنَّبِيُّ - صلى الله عليه وسلم - ذَاتَ يَوْمٍ. فَقَالَ: " هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ? " قُلْنَا: لَا. قَالَ: " فَإِنِّي إِذًا صَائِمٌ "

Sayyidah ‘Aisyah berkata: “suatu hari Nabi s.a.w. masuk rumah lalu bertanya: ‘apa kalian punya sesuatu (untuk dimakan)?’. Kami menjawab: “tidak ada ya rasul.” Lalu beliau s.a.w. menjawab: “kalau gitu saya berpuasa!”. (HR. Muslim)

Ini adalah puasa yang Nabi s.a.w. lakukan bukan karena sebab dan waktu tertentu, bahkan beliau berniat puasa bukan sejak malam, akan tetapi di waktu itu juga, ketika tahu bahwa tidak ada makanan untuk dimakan. Selain itu juga banyak hadits-hadits lain yang menyebutkan tentang keutamaan puasa dengan memutlakan tanpa dikhususkan dengan puasa-puasa tertentu.

Wallahu a’lam. Wassalamualaikum warohmatullah wabarokatuh.

Ahmad Zarkasih, Lc.