Konsultasi

Puasa Khusus Hari Jumat, Benarkah Diharamkan?

Tue 27 October 2015 - 06:32 | 813 views

Assalamualaikum.

Ustadz mohon maaf, tentang artikel ustadz sebelumnya soal larangan puasa di jumat itu untuk puasa sunnah mutlak. Nah yang jadi pertanyaan saya, di artikel itu ustadz mengatakan bahwa ulama 4 madzhab semuanya tidak melarang mengkhususkan jumat untuk berpuasa. mereka menghukuminya sebagai sesuatu yang makruh, bukan haram. Bukankah ada hadits yang secara jelas dan nyata mengatakan bahwa mengkhususkan hari jumat berpuasa itu terlarang? Mengapa para ulama tidak menghukuminya sebagai yang haram?

Kalau memang begitu, mohon ditunjukkan juga teks-teks masing-masing ulama madzhab dari kitab-kitab fiqih mereka. syukron. Wassalamualaikum.

Asslamualaikum warohmatullah wabarokatuh.

Kalau memang puasa hari jumat itu didahului dengan puasa sehari sebelumnya, atau juga hari sesudahnya, semua ulama sepakat bahwa itu dibolehkan. Nah, yang jadi pembahasan kita di sini adalah soal puasa hari jumat saja, tanpa didahului hari sebelumnya atau dibarengi dengan hari selanjutnya. ini yang akan kita bahas hukumnya menurut ulama 4 madzhab yang memang diakui dan legal untuk diikuti.

Memang masyhur sekali bahwa yang namanya hari jumat tidak dibolehkan untuk dikhususkannya puasa di hari tersebut; karena memang ada hadits yang menyatakan bahwa Nabi s.a.w. melarang itu. Salah satu hadits yang melarang itu adalah hadits riwayat Imam Ahmad bin Hanbal dalam musnad-nya;

إِنَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ عِيدُكُمْ فَلاَ تَجْعَلُوا يَوْمَ عِيدِكُمْ يَوْمَ صِيَامٍ إِلا أَنْ تَصُومُوا قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ

“sesungguhnya hari jumat adalah hari raya kalian, jangan kalian jadikan hari raya kalian sebagai hari berpuasa, kecuali kalian mendahului puasa di hari sebelumnya atau hari sesudahnya”. (HR Imam Ahmad)

Akan tetapi, terkait hukum fiqih-nya, justru ulama 4 madzhab tidak satu pun dari mereka yang memahami larangan dalam hadits tersebut sebagai larangan yang berbuah keharaman. Yang ada mereka hanya menyatakan bahwa larangan yang ada dalam hadits itu adalah larangan yang sifatnya makruh, bukan haram. Itu yang menjadi pendapat resmi madzhab al-Syafiiyah dan al-Hanabilah. Sedangkan al-Malikiyah dan al-Hanafiyah malah memutlakkan kesunahan di hari jumat tersebut, walaupun hanya hari itu saja, tanpa dibarengi di hari sebelum atau sesudahnya.

Tentu bukan tanpa alasan, apalagi kosong dalil, para ulama ini menafsirkan larangan yang ada dalam hadits bukan sebagai keharaman. Diantara dalil yang dipakai untuk membawa makna larangan dalam hadits itu sebagai kemakruhan adalah hadits yang diriwayat oleh Imam Ibnu Majah dari sahabat Ibnu Mas’ud r.a.,beliau mengatakan:

قَلَّمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ

“sedikit sekali aku melihat Nabi s.a.w. membatalkan puasanya di hari Jumat” (HR Ibnu Majah)

Ini yang membuat kemudian, larangan di hadits sebelumnya turun level menjadi sebuah kemakruhan bukan keharaman. Dan akan jauh lebih baik jika kita lihat bagaimana teks-teks ulama masing-masing madzhab dalam hal puasa di hari jumat yang tanpa didahului hari sebelumnya juga dibarengi hari selanjutnya.

Madzhab al-Hanafiyah

Imam Ibnu ‘Abdin dalam kitabnya; al-Durr al-Mukhtar (2/375) menjelaskan bahwa memang puasa hanya di hari jumat saja bukanlah sesuatu yang makruh apalagi terlarang. Itu merupakan sebuah ibadah yang baik dilaksanakan. Walaupun memang ada beberapa ulama Hanafiyah sendiri yang memakruhkannya. Kemudian beliau mengatakan:

وَلَا بَأْسَ بِصَوْمِ يَوْمِ الْجُمُعَةِ عِنْدَ أَبِي حَنِيفَةَ وَمُحَمَّدٍ لِمَا رُوِيَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ كَانَ يَصُومُهُ وَلَا يُفْطِرُ

“tidak mengapa berpuasa di hari jumat saja menurut Imam Abu Hnifah dan Imam Muhammad bin al-Hasan al-Syaibani, karena telah diriwayatkan bahwa sahabat Ibnu Abbas r.a. berpuasa di hari itu dan tidak membatalkannya”.

Madzhab al-Malikiyah

Al-Kharasyi, ulama masyhur madzhab al-Malikiyah dalam kitabnya Syarhu Mukhtashar Khalil (2/260) menjelaskan bagaimana pandangan madzhabnya tentang puasa yang dilakukan di hari jumat tanpa dibarengi hari sebelumnya atau selanjutnya.

وَكَذَلِكَ بِجَوَازِ صِيَامِ يَوْمِ الْجُمُعَةِ مُفْرَدًا لَا قَبْلَهُ وَلَا بَعْدَهُ، هَكَذَا رُوِيَ عَنْ مَالِكٍ قَالَ: وَرَأَيْت بَعْضَ الْعُلَمَاءِ يَصُومُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَأَرَاهُ يَتَحَرَّاهُ وَمَا سَمِعْت مَنْ يُنْكِرُ صِيَامَهُ مُفْرَدًا اهـ، وَالْمُرَادُ بِالْجَوَازِ هُنَا أَنَّهُ مَنْدُوبٌ

“begitu juga –dalam madzhab kami- dibolehkan berpuasa di hari jumat saja tanpa dibareng hari sebelumnya atau selanjutnya. begitu yang diriwayatkan dari Imam Malik, beliau mengatakan: ‘aku melihat para ulama berpuasa di hari jumat dan aku melihat mereka sangat mengejar itu –puasa di hari jumat-, dan aku tidak pernah mendengar ada yang menginkari puasa di hari jumat saja’. Dan yang dimaksud dengan boleh di sini adalah bahwa puasa di hari jumat itu manduub (dianjurkan).”

Madzhab al-Syafiiyah

Imam Zakariya al-Anshari dari kalangan al-Syafi’iyyah dalam kitab beliau; Asna al-mathalib (1/432) menjelaskan:

(وَيُكْرَهُ إفْرَادُ الْجُمُعَةِ) بِالصَّوْمِ لِقَوْلِهِ «- صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - لَا يَصُمْ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إلَّا أَنْ يَصُومَ يَوْمًا قَبْلَهُ أَوْ يَوْمًا بَعْدَهُ» رَوَاهُ الشَّيْخَانِ وَلِيَتَقَوَّى بِفِطْرِهِ عَلَى الْوَظَائِفِ الْمَطْلُوبَةِ فِيهِ

“dimakruhkan melakukan puasa hanya di hari jumat saja. Karena ada larangannya dalam hadits Nabi s.a.w., ‘janganlah kalian berpuasa di hari jumat kecuali puasalah di hari sebelumnya atau sesudahnya’ riwayat shaikhon, dan –dimakruhkan- juga agara badan lebih kuat di hari jumat untuk melaksanakan tugas dan kewajiban (badan).”

Dalam Kitab lain; Mughni al-Muhtaj (2/184) karya Imam al-Syirbini, dijelaskan alasan lain kenapa puasa di hari itu dimakruhkan:

فَقَدْ قِيلَ: إنَّ الْعِلَّةَ فِي ذَلِكَ لِئَلَّا يُبَالَغَ فِي تَعْظِيمِهِ كَالْيَهُودِ فِي السَّبْتِ، وَقِيلَ: لِئَلَّا يُعْتَقَدَ وُجُوبُهُ، وَقِيلَ: لِأَنَّهُ يَوْمُ عِيدٍ وَطَعَامٍ.

“dikatakan juga bahwa sebab kamakruhannya kekhawatiran terhadap muslim akan mengagungkan jumat itu berlebihan sebagaimana Yahudi mengagungkan hari sabtu. Juga pernah dikatakan: agar tidak ada yang menganggap kewajiban –puasa jumat- itu. Juga pernah dikatakan: dimakruhkannya puasa jumat karena memang jumat adalah hari raya dan hari makan”.

Madzhab al-hanabilah

Imam al-Buhutiy, dalam kitabnya Kasysyaf al-Qina’ (2/340) menuliskan pendapat madzhabnya terkait puasa di hari jumat tanpa dibarengi hari sebelumnya atau sesudahnya;

(وَيُكْرَهُ تَعَمُّدُ إفْرَادِ يَوْمِ الْجُمُعَةِ بِصَوْمٍ) لِحَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ: «لَا تَصُومُوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ إلَّا وَقَبْلَهُ يَوْمٌ وَبَعْدَهُ يَوْمٌ»

“dimakruhkan menyengaja puasa di hari jumat saja, karena hadits Abu Hurairah r.a.: ‘janganlah kalian berpuasa di hari jumat kecuali dibarengi di hari sebelumnya atau hari sesudahnya”.

Wallahu a’lam. Wassalamualaikum warohmatullah wabarokatuh.

Ahmad Zarkasih, Lc.